Cerpen - MENANTU YANG TAK DIINGINKAN
Sunday, 11 March 2018
Add Comment
![]() |
| Cerpen - MENANTU YANG TAK DIINGINKAN |
MENANTU YANG TAK DIINGINKAN
Karna turun sendiri dari kereta perangnya. Tak ada gunanya berdebat dengan mertuanya. Ia sadar bahwa dirinya memang bukan menantu yang diinginkan. Namun, sebenarnya bukan itu persoalannya. Semestinya tadi sasarannya tepat mengarah ke leher Arjuna. Karena ulah mertuanya yang menghentakkan kuda sehingga kereta bergoyang, anak panahnya hanya menyasar ke mahkota perang musuhnya hingga rontok ke tanah.
Ya, Karna sadar. Ia bukan menantu idaman. Bahkan untuk menjunjung tinggi nama dan kedudukan mertuanya pun dianggap sebaliknya. Maksud hati ingin mensejajarkan mertuanya dengan Sri Batara Kresna yang saat itu menjadi kusir Senapati Arjuna dianggap meremehkan dan tidak menghormati mertua sekaligus tentang kedudukan seorang raja.
Dirinya diumpat habis-habisan di hadapan raja Duryudana dan segenap ponggawa kerajaan Astina. Sakit memang. Namun, dirinya tidak membantah umpatan-umpatan itu. Hanya saja ia berharap mertuanya itu sanggup menjadi kusirnya. Sebab, siapa lagi yang bisa menandingi kehebatan Sri Batara Kresna dalam hal mengusiri kereta perang? Pun, semestinya Prabu Salya merasa bangga dirinya disejajarkan kedudukannya dengan raja setengah dewa dari Dwarawati itu.
Ya, Karna sadar. Dirinya hanyalah anak seorang kusir yang tak pantas menjadi menantu seorang raja besar. Sejak awal memang tidak diinginkan. Prabu Salya yang materalistik jelas-jelas memilih Prabu Jakapitana sebagai suami dari anaknya, Dewi Surtikanti. Jakapitana adalah raja muda dari negara superpower, Astinapura. Muda, gagah, dan kaya raya.
Atau setidaknya jatuh ke tangan Arjuna salah satu ksatria Pandawa. Selain tampan, dia jelas asal-usulnya. Dialah anak Pandu Dewanata raja Astinapura yang sebenarnya punya hak waris atas Astinapura. Dia adalah seorang adipati dari kerajaan Madukara.
Karna terdiam. Ia merasakan bahwa dunia ini tidak adil. Bukahkan cinta itu lahir dari hati menuju hati pula? Mengapa harus ada kasta dan sekat untuk menyatukan dua hati itu? Lalu, mengapa ada cinta di hatinya untuk seorang puteri dari Mandaraka?
Tak ayal lagi, Karna berhasil membawa lari Dewi Surtikanti tepat di saat Sang Dewi akan dinikahkan dengan Prabu Anom Jakapitana. Ketika calon mempelai puteri dikabarkan hilang, maka gemparlah yang terjadi.
Ya, akhirnya Dewi Surtikanti berhasil ditemukan berikut malingnya, Karna. Mau tidak mau dan dengan hati yang berat, Prabu Salya menikahkan Dewi Surtikanti dengan Karna. Plus, kebencian yang teramat sangat terhadap menantunya itu.
Prabu Salya memang bersedia menjadi kusir perang Senapati Agung Adipati Basukarna. Namun semua itu bukan berarti ia menyanggupi permintaan menantunya itu, tetapi atas permintaan menantunya yang lain yakni Prabu Duryudana. Lagi pula, ia merasa malu lantaran sindiran dari Sangkuni.
“Kurasa...,” kata Sangkuni dengan nada bicaranya yang khas, pelan tetapi menusuk, “Maksud dan tujuan Adipati Ngawangga itu untuk mengagungkan mertuanya yang dianggap pantas duduk bersejajar dengan Batara Kresna di pihak lain.” Sengkuni mengambil napas. Lalu lanjutnya, “ Konon....suatu masa ada kisah untuk mencapai kebahagiaan, seorang menantu tega membunuh mertuanya....!”
Seperti ditampar muka Prabu Salya. Ia teringat akan kejadian berpuluh-puluh tahun silam. Bukankah yang diucapkan Sangkuni itu adalah kenyataan akan dirinya?
Dengan wajah ditekuk Prabu Salya menaiki kereta perang paling mewah dari pihak Korawa. Diliriknya menantunya, Senapati Agung Karna Basusena telah duduk dingin diam seribu basa. Dengan dingin pula Prabu Salya menghentakkan tali kudanya hingga kuda-kuda penarik kereta itu melaju ke medan laga.
Inilah perang tanding yang dielu-elukan kedua belah pihak. Bahkan semua dewa dari kahyanganpun turut menyaksikannya. Dua senopati agung duduk di atas kereta perang dengan kusir dua raja besar di satu sisi dan di sisi lain.
Dua orang senapati yang terlahir dari rahim seorang ibu yang sama. Hanya saja, salah satunya adalah anak yang tidak diinginkan. Anak itu adalah Karna, yang saat itu berada dalam satu kereta dengan mertuanya yang sampai detik itu tidak mengangap dirinya sebagai menantu.
Dua senopati yang sama-sama tampan, ibarat pinang dibelah dua. Apalagi waktu itu, sebagai pernghormatan, Arjuna juga memakai mahkota perang seperti yang dikenakan oleh Karna.
Angin pun seolah berhenti ketika Karna turun dari kereta perangnya untuk menarik roda kereta yang terperosok ke lumpur. Di sisi lain Arjuna bimbang. Ia tidak mau melukai nama baik perang suci baratayuda. Bukankah sebuah larangan untuk melepaskan anak panah kepada musuh yang tengah turun dari kereta untuk menarik keretanya dari kubangan lumpur? Namun, Sri Kresna punya perhitungan lain. Ya inilah saat yang tepat untuk mengakhiri perang tanding itu. Bukan Kresna namanya jika tidak bisa membakar hati Arjuna. Diingatkannya tentang Abimanyu menemui ajal karena kecurangan para Korawa. Maka termakanlah Arjuna. Dengan mata terpejam, ia melepas anak panah yang telah dibidikkan dengan tepat menuju sasaran. Semua dewa yang menyaksikan kejadian itu menahan napas untuk beberapa saat. Kemudian dihamburkannya bungan wewangian dari langit di atas padang Kurusetra.
Wonogiri, 25 Oktober 2015
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi kami, ya.

0 Response to "Cerpen - MENANTU YANG TAK DIINGINKAN"
Post a Comment