Cerpen - KACAMATA BIMA # CERITA ANAK SEGUMPAL AWAN DI TANGAN PINKAN
Thursday, 22 March 2018
Add Comment
![]() |
| Cerpen - KACAMATA BIMA # CERITA ANAK SEGUMPAL AWAN DI TANGAN PINKAN |
KACAMATA BIMA
Oleh: Didit Setyo NugrohoSetiap kali memandang papan tulis, Ngadi selalu gelisah. Kedua matanya tidak berfungi untuk jarak lebih dari dua meter. Ia akan melihat ke arahku dan aku akan memberikan padanya apa yang baru kusalin dari papan tulis. Bu Asri, wali kelas kami, sudah mengizinkan Ngadi untuk mendengarkan saja. Setahuku Ngadi dulu pernah punya kacamata. Tetapi pecah saat bermain dengan Wahyudi dan sampai sekarang belum mempunyai gantinya. Keluarga Ngadi memang hidup pas-pasan. Bapaknya seorang tukang batu. Ibunya menjual sayur dari rumah ke rumah sepanjang bukit-bukit padas.
Karena gangguan matanya, Ngadi tidak dapat mmbedakan wajah orang di depannya dengan jelas. Seringkali ibu guru yang bertubuh kecil dianggap sebagai temannya. itu membuatku merasa geli namun juga sedih.
Apabila malam tiba, aku sering membayangkan kehidupan Ngadi. Di bawah temaram lampu minyak ia mengeja huruf dalam dingin rumah bambu. Aku ingin menolong Ngadi. Tetapi aku juga tidak mau merepotkan orang lain. Apalagi ayahku sekarang tidak ada di rumah. Lama aku merenung. Tiba-tiba mataku tertumbuk pada sisa selembar kulit. Selembar kulit bahan wayang yang masih mentah.
“Ah, aku kan bisa menatah!” gumamku pada diri sendiri. Sejak sekolah dasar, ‘membuat wayang’ menjadi pelajaran tambahan yang wajib di daerahku. Tetapi hanya beberapa orang yang menekuninya sebagai pengrajin. Dulu ayahku juga pernah menjadi penatah wayang. Tetapi karena penghasilannya sedikit, Ayah nekat merantau ke Jakarta mengikuti Pak Nasir yang telah jadi kontraktor sukses. Sejak itu setiap bulan Ayah mengirimiku uang sampai saat ini. Karena pernah mengalami kehidupan miskin, aku bisa merasakan derita Ngadi.
Kulit kerbau warna cokelat itu mulai kuraba. Aku mulai memilih tokoh wayang yang akan kubuat. Akhirnya kuputuskan untuk membuat tokoh Bima.
Aku memulai memindahkan pola di atas kulit. Aku menatah satu per satu ornamen yang ada pada tokoh Bima. Aku juga mencoba memasukkan jiwa ke dalamnya seperti yang pernah diajarkan ayahku dulu. Hari ketiga aku sudah mencampur cat poster. Lalu menggoreskan gradasi warna dengan hati-hati.
Setelah tujuh hari, dengan tangan kecil dan keringatku, Bima pun berdiri tegak gagah di hadapanku. Tinggal memasang penyu di rumah Pak Taru langganan ayahku dulu. Oh ya Pak Taru dulu adalah petugas koperasi yang menyediakan peralatan pembuatan wayang di desaku.
Pagi-pagi sekali aku membawa Bima yang telah kubungkus rapi menghaap Kepala Sekolah. Satu-satunya harapanku untuk menolong Ngadi. Sebab beliau menekan untuk tolong-menolong antar sesama. Bapak kepala Sekolah menatapku, mukanya ramah kebapakan.
“Ada apa Budi,” sapa beliau.
Aku sempat heran bagaimana beliau tahu namaku. Tetapi ketika kuikuti arah pandangannya aku jadi mengerti. Aku gembira seperti kehilangan kata-kata di hadapan beliau. Aku mengambil napas dalam-dalam untuk menenangkan pikiranku.
Bapak Kepala Sekolah menanti dengan penuh kesabaran. “ Bapak pernah bercerita kalau Bima itu tokoh simbol kebaikan. Juga memiliki sikap baik seorang murid terhadap gurunya.”
“Iya, Bapak ingat betul itu amanat pertama Bapak saat diangkat menjadi Kepala Sekolah di sini,” beliau mayakinkan. Aku mengambil napas lega.
“Sebelumnya mohon maaf. Saya tidak tahu apakah langkah saya ini baik atau buruk. “ ujarku mulai lancar bercerita. Bapak Kepala Sekolah menatapku, dengan serius memperhatikan ucapanku.
“Apakah Bapak mau membeli Bima yang saya buat dengan tangan dan keringat saya sendiri?” tanyaku penuh harap. Bapak Kepala Sekolah masih menatapku dengan senyumnya yang khas.
“Coba perlihatkan.”
Aku mengeluarkan tokoh Bima dari kantong kain dan menyerahkan kepada beliau. Bapak Kepala Sekolah menimang Bima di tangan kanannya sedang tangan kirinya mamainkan tangan Bima. Beliau tersenyum puas.
“Untuk apa uangnya nanti?” tanya beliau.
“Untuk membeli kacamata,” sahutku mantap.
“Kacamata untuk siapa?” tanya beliau lagi.
“Untuk teman saya, Ngadi,” jawabku.
Lalu tanpa diminta aku menceritakan keadaan Ngadi. Dahi beliau tampak berkerut kemudian mengangguk dan tersenyum puas. Beliau menepuk pundakku dan berucap, “Kamu pantas untuk jadi Bima!” Hatiku seperti dilambungkan pada tempat yang jauh.
“Tolong kamu panggilkan Ngadi kemari,” perintahnya. Aku bergegas memanggilnya.
Setelah memberikan beberapa pesan kepada Bapak Wakil Kepala Sekolah, beliau mengajak Ngadi dan aku menuju toko optik. Pegawai optik memeriksa mata Ngadi dan memilihkan kacamata yang cocok untuknya. Bapak kepala Sekolah mengambil uang dari sakunya.
Begitu Ngadi memakai kacamata wajahnya kelihatan cerah.
Terima kasih Pak, saya bisa melihat lagi,” ucap Ngadi tulus. Matanya berkaca-kaca dari balik kacamata baru yang dipakainya.Bapak kepala Sekolah tersenyum puas.
“Berterima kasihlah pada Bima. Itu hadiah dari dia.”
“Bima siapa?” tanya Ngadi bingung.
“Bima Werkudara,” jawabku kalem.
Matahari mulai meninggi tetapi begitu indah di mata Ngadi.
***
Diambil dari:
Cerpen: Kacamata Bima
MajalahAnak-anak BOBO, No. 52,
Tahun XXVIII,29Maret 2001
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi kami, ya.

0 Response to "Cerpen - KACAMATA BIMA # CERITA ANAK SEGUMPAL AWAN DI TANGAN PINKAN"
Post a Comment