-->

Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 3

Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 3
Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 3
TAMAN TEMBANG DAN SASTRABUDAYASahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan TAMAN BUDAYA. Edisi kali ini disajikan budaya tentang Jamasan Pusaka Mangkunegaran di Wonogiri. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

TRADISI JAMASAN PUSAKA    

MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 3

Oleh: Parpal Poerwanto

Mangkunegaran


Sejak perjanjian Solotigo dimana R.M. Said dinobatkan menjadi adipati bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ario (KGPAA) Mangkunegoro I maka berdirilah sebuah kerajaan di wilayah Surakarta. Pada waktu tampuk pemerintahan dipegang oleh KGPAA Mangkunegara VII (1935), terpikir olehnya untuk membuat suatu tanda sebagai penghormatan terhadap cikal bakal kerabat Mangkunegaran sebagai generasi pendahulu dan sekaligus sebagai tanda peringatan 200 tahun lolosnya R.M.Ng. Soeryokoesoemo dari keraton Kartosuro (Suhatmoko, 1985:35). Untuk merealisasi gagasan tersebut, maka dibangunlah sebuah Tugu Peringatan yang menyerupai Candi Sukuh yang terletak di daerah Nglaroh (Selogiri). Tugu tersebut dimanfaatkan untuk menyimpan beberapa pusaka R.M. Said yang diberikan pihak Mangkunegaran di Wonogiri (Nglaroh) sebagai wujud penghargaan kepada masyarakat Nglaroh ketika membantu perjuangan RM Said dalam melawan penjajah (Lilik GHD, wawancara, 28 Desember 2009).

Maksud dengan ditempatkannya pusaka-pusaka tersebut dapat dijadikan tetindhihing kerajaan Mangkunegaran di Wonogiri. Selain itu pihak Mangkunegaran juga mengharapkan supaya masyarakat Nglaroh (Selogiri), Bubakan (Girimarto), Giritirto (Wonogiri Kota) serta masyarakat Wonogiri pada umumnya selalu dapat mengenang dan mengapresiasi akan perjuangan R.M. Said atau Pangeran Sambernyowo (Begug Poernomosidi, wawancara, 27 Desember 2009).


Waktu penyerahan pusaka-pusaka Mangkunegaran itu tidak bersamaan. Penyerahan kepada Nglaroh dilaksanakan setelah selesai pembuatan Tugu Peringatan, pada tanggal 26 Mei 1935 (Suhatmoko, 1985:15). Sedangkan penyerahan di Bubakan baru dilaksanakan pada tahun 1972. Penyimpanan di Bubakan berada di sebuah rumah bekas pertapaan R.M. Said (Lilik GHD, wawancara, 28 Desember 2009).    

Pusaka-pusaka Mangkunegaran yang diserahkan Wonogiri berjumlah tujuh buah. Tiga buah terdapat di Nglaroh (Selogiri), dua buah terdapat di Bubakan (Girimarto), dan dua buah terdapat di Sendang Kaliwerak Giritirto (Wonogiri). Pusaka-pusaka yang disimpan di Selogiri adalah :
1. Kiai Totog, yaitu pusaka berujud tombak,
2. Kiai Jaladara (Baladewa), yaitu pusaka berujud tombak,
3. Kiai Korowelang, yaitu pusaka berujud keris.
Pusaka-pusaka yang disimpan di Bubakan adalah:
1. Kiai Semar Tinandhu, yaitu pusaka berupa keris,
2. Kiai Limpung, yaitu berupa tombak
Sedangkan pusaka-pusaka yang disimpan di Sendang Kaliwerak adalah:
1. Kiai Bancak, yaitu pusaka berupa tombak, dan
2. Kiai Alap-alap, pusaka berupa tumbak.

Jamasan pusaka Mangkunegaran di Wonogiri diawali di Selogiri dimana pusaka-pusaka itu disimpan. Jamasan pertama kali dilaksanakan pada tahun 1936. Tradisi jamasan pusaka tersebut terkenal dengan nama Kartikan. Tradisi Kartikan itu merupakan prakarsa dan kehendak dari masyarakat Selogiri (Nglaroh) sendiri. Pelaksanaan upacara Kartikan yang diselenggarakan setiap bulan Sura ini juga didatangi utusan dari Pura Mangkunegaran (Lilik GHD, wawancara, 28 Desember 2009). Dalam upacara jamasan pusaka Mangkunegaran tersebut yang dijamas atau dimandikan adalah dua buah tombak dan sebuah keris peninggalan R.M. Said atau Mangkunegara I yang ditempatkan di Kecamatan Selogiri. Tombak-tombak tersebut bernama Kiai Totog dan Kiai Jaladara, sedangkan kerisnya adalah Kiai Korowelang (Iskandar, wawancara, 27 Desember 2009)..

Maksud dan tujuan penyelenggaraan upacara jamasan pusaka Mangkunegaran adalah untuk mendapatkan keselamatan, perlindungan, dan ketenteraman. Bagi sebagian masyarakat Selogiri, benda-benda pusaka tersebut dianggap mempunyai kekuatan gaib yang akan mendatangkan berkah apabila dirawat dengan cara dibersihkan atau dimandikan. Apabila tidak dirawat, mereka percaya “isi” yang ada di dalam benda-benda keramat tersebut akan pudar atau malah hilang sama sekali dan hanya berfungsi sebagai senjata biasa (http://uun-halimah.blogspot.com).

Pusaka-pusaka yang ada di Bubakan disimpan pada sebuah rumah yang menurut sumber merupakan salah tempat pertapaan R.M. said. Masyarakat setempat menyebutnya dengan nama Rumah Tiban. Disebut demikian karena setahu masyarakat Bubakan, tempat itu berupa hutan. Kemudian R.M. Said beserta pengikutnya mendirikan sebuah sederhana tanpa diketahui oleh penduduk setempat. Baru setelah beberapa lama, masyarakat tahu bahwa di tengah-tengah hutan tersebut ada sebuah rumah. Rumah tersebut dianggap tiba-tiba muncul (tiban) keberadaannya. Rumah tersebut hanya terbuat dari bahan yang sederhana yaitu papan dan alang-alang sebagai atapnya, maka rumah tersebut tidak tahan lama. Baru sekitar tahun 1972 pihak Mangkunegeran mempunyai gagasan dan maksud untuk mengadakan pemugaran terhadap rumah tersebut (Lilik GHD, wawancara, 28 Desember 2009).

Setelah pemugaran rumah tiban tersebut selesai, segera pusaka-pusaka yang pernah dipergunakan oleh R.M. Said ditempatkan di Bubakan. Penyerahan pusaka ini dilakukan oleh KGPAA Mangkunegara VIII. Sesudah pusaka-pusaka itu berada di Bubakan, maka segera diadakan atau dilaksanakan tradisi jamasan pusaka yang bertempat di pendopo Kecamatan Girimarto (Baidi, wawancara, 30 Desember 2009). Keberadaan pusaka Kiai Bancak dan Kiai Alap-alap di Sendang Kaliwerak  merupakan bentuk penghargaan Mangkunegaran pada semua prajurit yang ikut dalam perjuangan R.M. Said dan masyarakat Giritirto pada umumnya (Soerjanto, wawancara, 13 Januari 2010).

Indonesia merupakan negara yang mempunyai beraneka ragam budaya. Khususnya budaya Jawa yang mendominasi kebudayaan di Indonesia. Wonigiri misalnya, kota yang terkenal dengan kota Gaplek mempunyai banyak kebudayaan warisan leluhur (http//javauzaa-cultur-ku blogspot.com).  Salah satu benda budaya warisan leleuhur adalah pusaka.

Masyarakat pada dasarnya ingin tahu sebenarnya apakah yang dimaksud dengan pusaka. Pada hakekatnya pusaka adalah benda-benda yang dikeramatkan. Umumnya pada masyarakat Jawa, benda-benda yang dikeramatkan tersebut berupa keris, tombak, batu akik, dan lain sebagainya. Benda-benda semacam itu diyakini sebagai peruwujudan dari suatu bentuk jiwa/energi di luar batas nalar manusia. Selain itu pula, kehadiran benda-benda pusaka diyakini bisa berfungsi untuk tolak bala, dan mendatangkan keberuntungan. Namun jika benda-benda tersebut tidak dirawat dengan baik oleh pemiliknya, maka justru bisa berbalik mendatangkan celaka bagi sang pemilik (http://contentbuletinjohndoe. blogspot.com).   Atau dapat juga diartikan dengan benda-benda yang dianggap mempunyai nilai skral atau keramat dan mengandung mana (kekuatan Gaib), dipercaya dapat memberikan kekuatan dan keselamatan serta kesejahteraan bagi pemiliknya atau pemegang benda persebut (Dloyana Kusumah dan Supanto, 1988:201). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak semua senjata baik berupa keris, tombak, batu akik, patrem, dan benda-benda terbuat dari logam (besi) dapat dinamakan dengan pusaka, sebab benda-benda tersebut belum tentu memiliki mana atau nilai sakral.

Pusaka-pusaka yang terkenal di masyarakat Jawa adalah keris dan tombak. Keris adalah sebilah senjata pendek yang mempunyai sepasang mata tajam meruncing kea rah ujungnya, ada yang lurus dan ada pula yang berlekuk. Sedangkan tombak yaitu senjata yang berujud bilahan yang diberi tangkai, panjangnya kira-kira 175 cm. Senjata ini biasanya dibawa oleh seorang penunggang kuda dan dipergunakan sebagai alat perang (Lilik GHD, wawancara, 28 Desember 2009).

Pusaka-pusaka yang mempunyai daya mana (kekuatan gaib) tersebut dimasukkan dalam golongan tosan aji. Tosan berarti besi, sedangkan aji berarti berharga atau mempunyai nilai, jadi tidak sembarang besi yang berupa senjata dinamakan dengan tosan aji, melainkan sebuah barang yang terbuat dari besi yang mempunyai nilai yaitu kekuatan dan daya gaib di dalamnya. Sedangkan yang dimaksudkan dengan tosan aji adalah suatu barang hasil kerajinan yang mempunyai kekuatan yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, tetapi dapat dirasakan melalui perasaan dan hati (Soenardjo Rahardjo, 1977:4). Baik buruknya pusaka atau tosan aji tergantung pada roh yang menunggunya. Karena waktu pembuatannya sang Empu membacakan matra (tuah) yang nantinya tetap akan berada di dalam pusaka itu. Setiap pusaka atau tosan aji selalu mempunyai roh yang menjadi kekuatan dan menjiwainya, sehingga pusaka tersebut dianggap keramat, karena kekeramatannya itulah, maka pusaka itu sering disebut dengan Kiai (Koesni, 1979:4). Oleh karena itu tidak mengherankan jika masyarakat Jawa menganggap pusaka itu mempunyai kekuatan gaib yang hanya dapat dirasakan melalui hati dan perasaan.

Masyarakat pada umumnya serta generasi muda pada khususnya dituntut untuk memikul tugas dan selalu memelihara serta melestarikan kebudayaan leluhur, agar jangan sampai punah akibat arus golbalisasi. Dengan melestarikan dan memelihara benda-benda pusaka tersebut diharapkan dapat menciptakan jati diri bangsa yang menghargai dan mengapresiasi warisan leluhur serta nilai historis yang berhubungan dengan pusaka-pusaka Mangkunegaran dalam perjuangan melawan penjajahan.


Sebagian masyarakat Wonogiri masih percaya dengan kelebihan pusaka-pusaka R.M, Said yang tersimpan di Nglaroh (Selogiri) dan Bubakan (Girimarto) sehingga merasa ikut memiliki sehingga sudi ikut memelihara. Sebab, mereka yakin bahwa dengan masih tersimpannya kekuatan gaib dalam pusaka-pusaka tersebut, maka akan mendatangkan keselamatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan (Iskandar, wawancara, 27 Desember 2009).

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Budaya - JAMASAN PUSAKA MANGKUNEGARAN DI WONOGIRI # 3"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel