-->

Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 10

Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 10
Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 10
TAMAN TEMBANG DAN SASTRALEGENDASahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan TAMAN LEGENDA (cerita rakyat). Edisi kali ini disajikan cerita DEMANG JEBRES, yakni bagian 10. Selengkapnya adalah sebagai berikut.


DEMANG JEBRES

Bagian 10

Oleh: Parpal Poerwanto

Keesokan harinya, matahari setinggi tombak. Udara kemarau terasa kering dan dingin menusuk kulit. Namun hal tersebut tidak membuat para tukang kayu bermalas-malasan. Mereka  telah siap melaksanakan penebangan kayu jati yang hendak digunakan sebagai perahu. Mereka telah memasuki hutan Donoloyo untuk memilih kayu jati yang bagus, besar, panjang, dan tua. Untung saja jalan mereka tidak terlalu sukar karena tumbuhan perdu meranggas di musim kemarau. Selain itu pandangan juga mudah menembus ke jauh.

Tepat di sisi selatan terdapat banyak pohon jati seperti yang diinginkan. Ada sebatang yang kualitasnya lebih bagus dibandingkan dengan lainnya. Pohon itulah nanti yang akan dijadikan kerangka utama perahu pesanan Sang Sunan. Penebangan pun dimulai. Para tukang kayu mengerjakan penebangan dengan hati-hati. Mereka tahu bahwa Hutan Donoloyo bukan tempat sembarangan. Bahkan, atas anjuran sesepuh desa pagi tadi sebelum acara penebangan dimulai diadakan selamatan terlebih dahulu. Hal ini dilakukan agar Tuhan Yang Maha Esa memberi kelancaran para pekerja untuk melaksanakan tugasnya. Benar, pekerjaan hari itu berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Beberapa batang pohon jati berkualitas sudah berhasil dirobohkan. Bahkan kini batang-batang itu telah siap untuk dibawa ke Surakarta.


Pada masa itu, alat angkut yang paling utama adalah jalur air atau kali. Untung saja, walaupun kemarau air kali Keduwang airnya cukup untuk menghanyutkan kayu jati tersebut.
Semua kayu jati telah siap untuk diberangkatkan ke sungai. Akan tetapi, ada kejadian ganjil. Kayu jati terbesar dan terpanjang sedikitpun tidak bergerak ketika akan digotong beramai-ramai. Padahal, menurut akal normal kayu tersebut pasti terangkat dan terangkut jika digotong dua puluh orang. Padahal sebagai pelicin, di bawah kayu diberi bantalan bambu agar mudah terbawa. Namun, hasilnya nihil. Jangankan bisa terangkut, bergerak sedikitpun tidak.

Teruna dan para tukang kehabisan akal. Bahkan warga sekitar yang membantu juga putus asa. Untung saja Mpu Brajaguna segera datang untuk membantu. Mpu yang bijaksana itu menyarankan agar mencarikan seorang pesinden yang cantik, muda, dan masih perawan. Untuk itu maka diutuslah beberapa orang untuk mencari pesinden yang dimaksud.
Pencarian memakan waktu cukup lama. Baru di hari ketiga pesinden sesuai kriteria itu dapat ditemukan. Pesinden tersebut disuruh memakai pakaian serba warna hijau. Konon, warna hijau adalah warna kesukaan Ratu Kidul, penguasa laut selatan. Pesinden muda nan cantik tersebut didudukan di atas kayu jati yang susah diangkut itu. Mpu Brajaguna menyuruh pesinden itu melantunkan tembang Dhandhanggula. Ajaib. Setelah pesinden melantunkan tembang macapat tersebut, seolah-olah kayu berjalan sendiri menuju sungai Keduwang. Tidak ada satupun orang yang bercakap-cakap ketika mengiring kayu tersebut menuju sungai kecuali suara lantunan si pesinden.

Syukurlah, akhirnya satu per satu kayu jati dapat dibawa ke sungai untuk selanjutnya dihanyutkan hingga ke Bengawan Solo yang alirannya menuju Surakarta.
Para tukang kayu pilihan kerajaan dikerahkan untuk membuat perahu yang diinginkan Sunan Pakubuwana IV. Dalam pekerjaan tersebut RM Sugandhilah yang bertanggung jawab penuh. Sedangkan RM Sugandhi memiliki kepercayaan, yaitu Wedana Kalang. Sedangkan Wedana Kalang, atas usul dari RM Sugandhi, agar memilih Teruna sebagai mitra yang pas untuk melaksanakan tugas tersebut. Kepada pemuda itulah Wedana Kalang memberikan tugas penuh agar perahu yang diharapkan segera terwujud. Akan tetapi Teruna bukan orang yang ahli dalam pertukangan apalagi tentang desain perahu. Ia harus banyak konsultasi dengan berbagai pihak agar tugas yang diberikan kepadanya dapat dilaksanakan dengan baik. Ia teringat dengan petuah gurunya, yaitu jangan pernah menyerah sebelum mencobanya dan jangan sampai menyesal karena tidak pernah mencobanya.

Segala sesuatu harus dipikirkan masak-masak jangan sampai salah bertindak. Begitu juga dengan tugas yang dibebankan kepada dirinya kali. Sebagai orang baru yang mengabdikan diri kepada keraton, mendapat tugas dan kepercayaan merupakan suatu penghargaan yang tidak bisa digantikan oleh apapun, bahkan kalau perlu nyawa taruhannya. Sebab, bisa jadi jika pembuatan perahu ini gagal, dirinyalah yang akan menanggung hukuman dari kerajaan. Dan itu sudah merupakan konsekuensi. Suatu keniscayaaan.


Teruna adalah Teruna. Seorang pemuda yang berpembawaan tenang tetapi memiliki jiwa optimistis. Seorang pemuda yang memiliki cita-cita. Dan cita-cita itu harus dibangun. Alangkah indahnya cita-cita. Manusia normal pasti memiliki cita-cita, harapan atau impian. Dengan memiliki cita-cita berarti manusia memiliki harapan. Cita-citanya sebenarnya sederhana saja. Ia ingin mengabdikan hidup bagi orang lain dan negaranya.  Makanya ia harus berani melangkah dengan karya nyata agar cita-citanya bukan isapan jempol semata.  Rasa optimis akan mendorong manusia yakin bisa melakukan sesuatu hal. Inilah aura positif yang membantu suatu keberhasilan. Manusia harus meninggalkan sifat malas dan berkeluh kesah serta enyahkan rasa pesimis yang akan menghalangi setiap langkah. Dan apa yang dimiliki Teruna itu terbaca oleh RM Sugandhi. Hal inilah yang membuat RM Sugandhi mempercayakan Wedana Kalang melaksanakan tugas bersama-sama membuat perahu dengan pemuda yang baru dikenalnya itu. Kepercayaan RM Sugandhi kepada Teruna ini tidak tanpa alasan. Pertama, karena Teruna adalah siswa Mpu Brajaguna dan ini berarti satu perguruan dengan dirinya. Kedua, tugas pertama untuk menebang kayu ke hutan Donoloyo berhasil dilaksanakan dengan baik. Oleh sebab itu, RM Sugandhi yakin bahwa di tangan Teruna perahu yang akan dibuat akan jadi sesuai yang diinginkan.

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - DEMANG JEBRES # Bag 10"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel