Biografi - EMPU DALANG M Ng WARSINO GUNO SUKASNO # PRAKATA
Sunday, 18 March 2018
Add Comment
![]() |
| Biografi - EMPU DALANG M Ng WARSINO GUNO SUKASNO # PRAKATA |
PRAKATA
Taman Tembang dan Sastra - Biografi - Hanya kepada-Mu ya Allah penulis haturkan puji syukur bahwa hanya atas izin dan ridla-Mu buku biografi sederhana dan singkat mengenai Empu Dalang Ki Mas Ngabehi Warsino Guno Sukasno ini dapat terselesaikan.
Sosok Ki Warsino yang penuh kharisma serta pengabdiannya yang tulus terhadap seni dan budaya Jawa adalah sebagai salah satu alasan bahwa tokoh ini pantas ditulis sejarah hidupnya. Banyak kalangan yang menilai bahwa sosok Ki Warsino sebagai dalang ruwat maupun dalang wayang kulit pantas disebut sebagai Empu Dalang selain sebutan kondangnya, yaitu Dalang Kethek.
Selain itu, berbagai piagam penghargaan ikut mengokohkan posisinya. Penghargaan itu di antaranya berupa Tanda Kehormatan Satyalencana Kebudayaan dari Presiden Republik Indonesia tahun 2003 atas jasanya dalam melestarikan seni pedalangan yang mampu menjaga lestari pakem pedalangan, demi kemajuan seni pedalangan Indonesia, Piagam Penghargaan Pemerintah Indonesia atas prestasinya yang luar biasa dalam bidang Hadiah Seni dari Menteri Pendidikan, Seni dan Kebudayaan RI tahun 1999, dan Piagam Penghargaan sebagai dalang sepuh yang telah banyak mengabdikan diri terhadap perkembangan Seni Pedalangan Wayang Kulit pada Musda Ganasidi TK I Jawa Tengah yang ke-7 tahun 1999.
Beliau juga mendapat gelar dari Adipati MangkunegaraIX. Pangkat Mantri dengan sebutan Mas Ngabehi Warsino Guno Sukasno didapatnya pada tanggal 3 April 2001. Setahun kemudian, pangkatnya naik menjadi Wedono sesebutan Ngabehi tepatnya pada tanggal 23 Maret 2002.
Sebagai dalang sepuh, Ki Warsino mengidentifikasikan dirinya bagaikan sosok Anoman, tokoh kera putih dalam pewayangan. Menurutnya, sosok Anoman pantas diteladani bagi setiap orang. Sewaktu muda, Anoman adalah senopati yang pilih tandhing. Ia tidak mempunyai tendensi apa-apa ketika memimpin wadya bala kera untuk membantu Sri Rama dalam mengenyahkan keangkaramurkaan dari Rahwana. Begitupun, ketika usai perang, Anoman tidak minta kedudukan atau jabatan. Namun demikian, ia tetap siap siaga sewaktu-waktu tenaga dan pikirannya dibutuhkan. Sebagai puncaknya, ketika usia telah memasuki senja, Anoman mengabdikan diri kepada bebrayan agung sebagai resi di Kendalisada. Hal inilah yang menjadi landasan dalam setiap langkah dan sikapnya.
Ki Warsino adalah dalang wayang kulit yang sudah malang melintang di dunia pertunjukan. Berbagai kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur sudah menjadi wilayahnya sejak jaman kolonial. Bahkan, ketika jaman telah merdeka, beliau juga njajah desa milang kori sampai ke tanah seberang, Sumatera. Cukup lama beliau malang melintang di Sumatera, yaitu sekitar sepuluh tahunan.
Kemahiran dan kehebatannya dalam mendalang terutama hal sabet, membuat dirinya dinobatkan oleh penontonnya sebagai Dalang Kethek. Ini tentunya mengingatkan kita kepada Ki Manteb Sudarsono yang mendapat sebutan sebagai Dalang Setan karena kehebatannya dalam hal sabet pula. Dan setelah dirunut, ternyata kedua seniman dalang beda generasi itu dulunya memang sering menyatu dalam suatu pentas. Waktu itu Ki Warsino sebagai dalang, sedangkan Ki Manteb Sudarsono muda sebagai pengendangnya.
Sejak usia muda Ki Warsino telah menjalankan ruwatan, namun sosoknya sebagai Dalang Ruwat lebih dikenal ketika usianya semakin tua. Dalam hal ruwat ini tidak banyak dalang yang bisa dan berani menjalankannya. Bisa dihitung dengan jari untuk wilayah Wonogiri dan sekitarnya ini mengenai dalang yang berani melaksanakan ruwatan. Sebut saja, selian beliau “hanya” ada Ki Marsono dan Ki Sutino Hardoko Carito.
Ki Warsino adalah sosok yang sangat njawani, yaitu seorang Jawa yang benar-benar menjalani kehidupannya sebagai orang Jawa sehingga patut untuk diteladani. Ki Warsino adalah dalang sepuh yang benar-benar pantas didudukkan sebagai sesepuhnya para dalang.
Komitmennya dalam memupuk dan nguri-uri budaya Jawa sukar untuk ditandingi. Sebagai misal, di usianya yang sudah senja, Ki Warsino masih sudi memikirkan bagaimana dan kemana arah budaya Jawa. Ki Warsino sangat tidak rela bila budaya yang adi luhung itu tinggal menjadi kebanggaan masa lalu. Karenanya, salah satu bentuk kepeduliannya diwujudkan dengan adanya tradisi sarasehan para seniman (dalang) sekaligus menggelar acara wayangan dalam setiap selapan sekali.
Selain itu, kecintaan Ki Warsino dalam mencintai budaya Jawa juga dapat dilihat dari keterlibatnya dalam organisasi. Seperti yang diungkapkan oleh Ki Soeparman Ponco Prabowo bahwa Ki Warsino duduk sebagai Dewan Penasehat di Pendawi (Persatuan Dalang Wonogiri) dan Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia) Komisariat Wonogiri. Selain itu, mantan Wedono Wonogiri tahun 1983-1987 ini menilai bahwa Ki Warsino pantas didudukkan sebagai sesepuhnya para dalang di Wonogiri. “Ia adalah budayawan muslim yang benar-benar peduli terhadap budayanya sendiri, yaitu budaya Jawa. Maka pantaslah jika dianggap sebagai sesepuhnya para dalang.”
Sikap dan perilaku njawani dan rendah hati terlihat dari tutur kata yang selalu hati-hati dalam setiap ucapannya. Bahkan, dari sikap kehati-hatian itu ada kesan bahwa beliau itu orangnya tertutup. Seperti ketika penulis mewawancarainya dalam mengumpulkan data-data guna menyusun biografi ini.
Sebenarnya, Ki Warsino tidak berkenan kisah-kisahnya ditulis dalam bentuk buku. Namun, setelah mendapat masukan dari berbagai fihak, akhirnya beliau mengiyakan dirinya ditulis riwayatnya. Akan tetapi, banyak sekali hal-hal “sungkan” untuk diungkapkan kepada penulis. Untuk itu penulis berusaha mencari nara sumber yang dapat dipercaya. Setelah mendapatkan cukup data, baru di-cros cek kepada beliau.
Masih banyak hal-hal lain terutama yang berhubungan dengan “kelebihannya” di dalam dunia supranatural termasuk kejadian-kejadian aneh yang sering dialami, baik ketika sedang mendalang maupun pada kesempatan lain yang tidak ada hubungannya ketika pentas mendalang, yang tidak terungkap. Hal ini sepertinya menjadi salah satu ciri dari sikap dan perilakunya agar tidak dianggap “sombong” oleh orang lain. Kalau toh penulis berhasil mengungkap beberapa kisah yang berbau mistis, sumbernya tidak dari beliau. Namun demikian, penulis tidak saja mempercayai kebenaran kisah-kisah itu. Penulis selalu mengadakan cros cek ke Ki Warsino sendiri terhadap setiap informasi yang didapat. Beliau menanggapi, “Itu kisah masa lalu. Kalau (penulis) sudah terlanjur mendengar, ya tulis saja.”
Menurut Ki Sutarto serta adik kandungnya Ki Suloto bahwa Ki Warsino memang tidak mau memamerkan “kelebihan” yang dimiliki. Padahal, sebagai bekas niyaganya yang telah malang melintang di beberbagai kesempatan, mereka sering melihat secara langsung kejadian-kejadian aneh berbau mistis yang terjadi di panggung pertunjukan. Ki Warsino sering dikerjai oleh orang ketika sedang mendalang. Namun, beliau tetap bisa mengatasi semua cobaan itu. Sebab beliau mempunyai prinsip tidak mau kewirangan di atas panggung.
Akan tetapi, dengan telaten penulis berhasil mengungkap langsung berbagai pandangan Ki Warsino mengenai beberapa hal. Antaranya, mengenai seni pedalangan, ruwatan, ilmu titen, pandangan hidupnya, dan lain sebagainya.
Selanjutnya tidak lupa penulis ucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada Ki Warsino beserta segenap keluarga, Bapak Bupati Wonogiri Begug Poernomosidi, Ketua Komisariat Pepadi Wonogiri Ki Soeparman Ponco Prabowo, Ki Manteb Sudarsono, Ki Tristuti, Ki Sutino Hardoko Carito, Ki Sutarto, Ki Suloto, Ki Cipta Sarana, dan Ki Sudibyo serta siapa saja yang telah dengan suka rela membantu kami untuk menyusun biografi singkat dan sederhana ini.
Khusus untuk Ki Sutarto dan Ki Suloto penulis sangat memberikan apresiasi atas prinsip yang hanya mau bercerita kalau dirinya ikut atau terlibat langsung pada peristiwa yang terjadi saja. Sebenarnya, menurut Ki Sutarto dan Ki Suloto, kisah-kisah mistis yang dialami Ki Warsino ketika mendalang banyak sekali. Sayang, yang tahu dan ikut terlibat pada berbagai kejadian mistis itu yaitu Ki Martoyoso (ayah Ki Sutarto) sekarang sudah almarhum.
Rasa terima kasih yang tak terhingga juga penulis ucapkan kepada Mas Drs. Undung Wiyono, Arih Numboro, S.Pd., Kun Prastowo, dan Joko Sriyanto, S.Pd. yang telah banyak meluangkan waktu dalam mendampingi penulis guna mencari nara sumber dan mengumpulkan data-data selama ini.
Akhir kata, penulis sadar bahwa buku ini jauh dari sempurna serta banyak kekurangan di sana-sini. Itu semua disebabkan oleh kurangnya dan terbatasannya pengalaman serta pengetahuan penulis. Untuk itu, dengan rendah hati penulis berharap atas sumbang saran serta kritikan yang sifatnya membangun dari pembaca sekalian. Sekian, semoga buku sederhana ini bermanfaat.
Wonogiri, 2005-2006-2015
Penulis

0 Response to "Biografi - EMPU DALANG M Ng WARSINO GUNO SUKASNO # PRAKATA"
Post a Comment