-->

Biografi - EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG

Biografi - EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG
Biografi - EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG

EKO HARTONO

KURSI RODA SANG PENGARANG


Taman Tembang dan Sastra - Biografi - Eko Hartono adalah salah satu pengarang yang produktif. Putra Wonogiri ini karya-karyanya tersebar di media cetak dan sebagian besar telah dibukukan. Bahkan, kini skenario untuk FTV buah karyanya selalu menghisasi layar kaca. Pendidikan formal Eko Hartono hanya SMP dan salah satu penyandang difabel. Kursi Roda Sang Pengarang merupakan kisah sebagian sisi hidup Eko Hartono terutama dalam membangun cita-citanya sebagai seorang penulis/pengarang serta pengalaman hidupnya dalam berumah tangga yang cukup menarik. Berikut ini cuplikan buku Kursi Roda Sang Pengarang yang ditulis Parpal Poerwanto

1. Mutiara Hati


Hidup adalah anugrah, apapun bentuknya, apapun wujudnya. Segala yang terlahir di dunia tak luput dari kehendak-Nya. Semuanya telah digariskan. Pun, demikian dengan diriku. Meskipun, kadang-kadang sebagai manusia ada rasa protes, tak puas atau bahkan menyalahkan Tuhan karena merasa diperlakukan tidak adil. Namun, setelah direnungkan, dijalani, dan disyukuri, ternyata semua itu membawa hikmah dan berkah yang tiada tara. Tuhan mempunyai rencana lain di luar nalar manusia.

Itulah manusia, jika sesuatu yang menimpa dirinya dianggap sebagai bencana maka hidupnya penuh keluh kesah, penuh ketakpuasaan. Bahkan ada rasa berontak terhadap keadaan. Seakan hidup adalah suatu penghinaan penuh penistaan. Senyatanya, jika manusia bisa mengambil hikmat dengan apa yang terjadi atas dirinya, maka hidup ini adalah indah karena kaya akan warna. Berarti, hidup adalah suatu pilihan. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Bagaimana kita menjalaninya. Bukankah menurut ajaran agama manusia adalah khalifah di bumi? Sebagai khalifah kita diberi keluasaan untuk menikmati semua fasilitas yang ada di bumi ini tetapi semua itu harus digunakan sebagai sarana menuju hidup di akherat yang lebih langgeng, abadi.

Di dalam falsafah Jawa, urip iki mung mampir ngombe. Untuk itu, sebaiknya manusia menjalani kehidupannya di dunia yang singkat ini dengan hal-hal yang positif dengan penuh kesyukuran. Sungguh sangat merugi bagi manusia jika hanya mencari kesenangan dan kebahagiaan di kehidupan yang sebenarnya semu ini. Namun, apakah lantas manusia meninggalkan dunianya? Tidak, manusia yang beruntung harus bisa mencari dunia dan akheratnya. Ada keseimbangan di antara keduanya.


Keterbatasan manusia dalam hal fisik akan membawa dampak yang luar biasa dalam hidupnya. Perasaan minder, canggung dalam bertindak, kesulitan dalam melakukan aktivitas, serta bayangan masa depan yang suram selalu menghantuinya. Ketika teman-teman lain bisa bermain di lapangan berkejaran memburu bola kemudian menendangnya, tidak ada pilihan lain kecuali hanya bisa menikmati di luar lapangan dengan perasaan yang tak bisa terwujud dalam kata. Di saat usia remaja, di mana orang lain telah banyak bergaul lebih dekat dengan lawan jenis, perasaan minder semakin menjadi-jadi. Ada rasa iri, protes, nglangut, dan sejuta perasaan yang mengganjal dan menyesakkan hati.

Belum lagi bayangan akan masa depan. Namun, akankah roda akan berhenti di sini? Tidak! Roda itu akan terus bergulir dengan kendali diri sendiri. Roda kehidupan sebagaimana yang telah digariskan oleh yang Maha Kuasa harus dijalani, apapun bentuknya. Lalu, ke manakah rodaku akan bergulir? Aku hanyalah manusia tuna daksa dengan pendidikan rendah. Kita semua tahu untuk hidup manusia harus bekerja dan menghasilkan uang.

Kerja? Apa yang dapat kulakukan dengan kerja? Di mana ada lapangan kerja yang mau menampung orang seperti aku ini? Bayangan masa depanku suram dan gelap. Seakan dunia tidak memihakku. Seakan dunia ini mempermainkan aku. Duniaku yang gamang. Duniaku yang hilang.

Akan tetapi, manusia tidak boleh pesimis. Bukankah Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak merubahnya sendiri?

Lama aku termenung. Berdiam diri di malam hari. Minta petunjuk pada-Nya. Ternyata banyak membutuhkan waktu lama. Seakan menanti tumbuhnya jamur di musim kemarau panjang. Serasa mustahil. Akankah aku menyerah? Sekali lagi, tidak! Aku yakin bahwa  Tuhan menciptakan manusia disertai dengan “senjata” untuk menghadapi dan mencukupi kebutuhan hidupnya. Hanya saja, apa “senjata” yang kumiliki untuk menghadapi hidup dan kehidupan ini? Ya, aku sempat frustasi. Sempat apatis untuk menatap masa depan. Pada waktu itu, berapa banyak lulusan SMA bahkan sarjana yang menjadi pengangguran di negeri ini? Sementara aku yang hanya berpendidikan SMP apa yang bisa kuandalkan? Dus, instansi atau perusahaan mana yang mau memperkerjakan seorang yang tuna daksa? Untuk bekerja di sektor non-formal juga tidak ada bayangan. Aku tidak memiliki kecakapan khusus. Selain itu fisikku jelas tidak memungkinkan.

Ketika memasuki usia remaja, orang tuaku tinggal di  Banyakprodo Kecamatan Tirtimoyo  yang jaraknya lebih dari 30 km dari kota Wonogiri. Tempat tinggal yang jauh di pelosok desa akses informasi juga sangat mengganggu. Teman-temanku ketika di SMP dulu yang awalnya sering berkirim surat (waktu itu belum ada HP atau akses internet), satu per satu juga putus komunikasi. Seolah hidup semakin terisolasi.

Surat kabar hanya bisa saya dapatkan hanya berupa koran-koran bekas. Bagiku, tidak ada koran bekas atau baru. Semua koran yang baru aku dapatkan merupakan koran baru, informasi baru. Dari kegiatan membaca koran, aku sangat tertarik di dunia sastra budaya. Sejak saat itu aku berusaha untuk mendapatkan koran edisi minggu karena biasanya selalu memuat dunia sastra budaya.

Hari-hari sangat menjemukan. Namun, aku tetap berpikir dan berdzikir untuk mencari jati diri. Aku harus bisa menemukan “senjata” yang Tuhan berikan padaku agar hidupku berguna minimal untuk diriku sendiri. Syukur-syukur bisa berguna bagi keluarga atau orang lain. Agar hidupku tidak kalah dengan pohon pisang. Pohon pisang tidak akan mati  sebelum berbuah, meskipun telah ditebang berulang kali.

Niat ingsung! Itu yang terbetik dan terucap di dalam hati. Mudah-mudahan Tuhan mendengar keluhanku. Mendengar rintihan hamba-Nya yang Ia beri kesempatan untuk menapak dan melihat hamparan dunia. Aku yakin Tuhan Maha Mendengar. Aku yakin bahwa tak satu pun makhluknya dibiarkan merana di dunia ini tanpa memiliki manfaat apa-apa. Namun apakah tanpa niat dan usaha segala sesuatunya akan datang dengan sendirinya?

Kegiatanku setiap hari hanyalah membaca. Utamanya karya sastra yang dimuat di harian minggu. Banyak sekali nama-nama pengarang ngetop yang telah kubaca karyanya. Ternyata, semua karya sastra itu bukan hanya sekedar tulisan atau hiburan. Karya sastra sarat akan pelajaran hidup untuk mengerti bagaimana menyikapi hidup itu sendiri. Karya sastra bisa mengubah mindset bagi pembacanya. Karya sastra merupakan pencerahan yang disampaikan dengan bahasa indah dan tidak menggurui. Karya sastra memiliki muatan yang beragam. Ada percintaan, politik, budaya, agama, falsafah hidup dan lain sebagainya. Sejak saat itu aku berniat untuk menjadi sastrawan atau pengarang. Menurutku, seorang pengarang itu selain namanya dikenal banyak orang juga memberikan pendidikan atau pencerahan kepada masyarakat (pembaca). Artinya, jika aku berhasil menjadi seorang pengarang sudah pasti hidupku berguna atau bermanfaat bagi orang lain. Selain itu, aku bisa mendapatkan nafkah.


Bayangan menjadi seorang penulis telah menguasai niat dan pikiranku. Aku selalu belajar dan belajar untuk menulis. Untung saja Ayah mengerti kemauanku. Ayah membelikan mesin ketik bekas. Sayangnya, aku belum bisa mengoperasikan mesin ketik. Didorong oleh keinginan dan niat yang kuat, aku belajar mengoperasikan mesin ketik manual yang kondisinya sudah agak memprihatinkan. Syukurlah Ayah juga mengursuskan aku sehingga aku benar-benar bisa menggunakan mesin ketik. Hal itu semata-mata karena keinginanku untuk menjadi seorang pengarang begitu besar. Aku pernah bayangkan kalau Chairil Anwar yang juga haya tamatan SMP saja bisa menjadi sastrawan besar. Targetku memang tidak setinggi Chairil. Terlalu tinggi untuk kuraih. Aku hanya ingin bisa mengarang yang bisa bermanfaat bagi orang lain dan mendapatkan imbalan.

Akan tetapi, keinginan untuk menjadi pengarang hampir saja pupus. Berkali-kali naskah yang kukirimkan ke media cetak (koran) selalu di-retur. Aku hampir patah arang. Untuk saja ada seorang kawan yang memberiku semangat. Katanya, Gunawan Muhamad itu pada awal karirnya baru yang ke kali ratusan naskahnya dimuat di media cetak. Oleh teman itu, aku disarankan untuk mempelajari ciri khas dimiliki oleh setiap media massa (koran). Karena, setiap redaktur memiliki gaya dan ciri masing-masing. Selain itu, setiap media juga memiliki misi lain-lain.

Mendapat ilmu baru itu, aku segera belajar kembali. Kupahami model dan isi setiap karya sastra di media yang berbeda. Setelah lama kubanding-bandingkan, ternyata apa yang dikatakan teman saya tadi benar. Setiap media memiliki ciri dan gaya sendiri-sendiri dan selera redaktur itu juga berbeda-beda. Hal ini memang belum pernah kupikirkan sebelumnya.

Semangatku meletup kembali. Naskah-naskah yang di-retur oleh redaktur satu per satu kudandani kembali. Selesai merevisi naskah, dengan penuh percaya diri segera kukirim naskah tersebut. Alhasil, ada naskahku yang berhasil nongkrong di halaman majalah. Rasa gembira tak terkirakan. Akan tetapi, rasa gembira itu tidak berlangsung lama. Hal ini berkaitan dengan honor yang diberikan kepada penulis pemula. Baru aku sadari bahwa (saat itu, entah sekarang) ada diskriminasi antara penulis pemula dengan penulis senior. Namun, setelah aku pupus, ternyata hal tersebut tak membuatku patah arang. Aku malah termotivasi untuk menulis lagi dan lagi. Agar tulisannku dapat menghiasi media cetak. Ternyata, menulis adalah proses. Lambat laut tulisanku sering di muat di berbagai media cetak baik ibu kota maupun daerah.

Karena sudah merasa memiliki sumber penghasilan, aku juga berani merancang masa depan. Akan tetapi siapa yang mau menikah dengan seorang pemuda yang tuna daksa? Namun, apakah orang yang memiliki kekuarangan fisik tidak pantas untuk memiliki pasangan hidup? Bukankah semua manusia itu sama kebutuhannya? Manusia memiliki kebutuhan rohani di samping jasmani. Begitu juga diriku. Aku juga ingin menyeimbangkan kebutuhan hidup itu. Selain itu, sebagai muslim aku juga ingin mengikuti jejak Nabi dengan menjalankan salah satu sunahnya, yakni berumah tangga. Sebab, dengan keyakinanku aku insya Allah bisa dan mampu untuk membina rumah tangga.

Karena keinginanku untuk membina umah tangga begitu tinggi, aku terus rajin menulis. Selain itu aku juga sering mengikuti berbagai lomba kepenulisan. Sudah banyak lomba yang kumenangkan. Saat ini, aku merambah menulis skenario untuk film televisi (FTV). Akhirnya aku memberanikan diri untuk berumah tangga. Kini aku telah memiliki dua anak laki-laki yang keduanya duduk di SMA.

Nah, keberanianku inilah yang selalu aku tanamkan kepada anak-anakku. Aku selalu memberikan penguatan-penguatan kepada mereka. Aku sering bercerita  tentang tokoh-tokoh yang memiliki karakter kuat agar mereka memiliki karakter yang kuat pula dalam menjalani hidup.

Kepada mereka kukatakan, pendidikan sangat penting. Namun, ketika seseorang tidak bisa meraih pendidikan (formal) yang tinggi tidak perlu merasa kecil hati.  Banyak contoh orang sukses dan berguna dalam hidupnya berawal dari dunia mengarang.  Eka Budianta dalam buku Mendengar Pramudya, mengutip cerita dari Marselli bahwa ia (Pramudya) memuji Ajip Rosidi sebagai seorang manusia yang pantas jadi tokoh sebuah roman. “Dari kenyataan bahwa dia tidak lulus SMA tapi bisa menjadi guru besar saja, saya sudah angkat topi.... Lebih-lebih lagi dari keberanian untuk hidup. Ajip mulai berkeluarga pada umur 17 tahun, bertanggung jawab, setia dan tidak bercerai sampai sekarang.

Inilah salah satu modal dan spiritku untuk menjalani hidup sebagai seorang pengarang dan sekaligus kepala keluarga yang bertanggung jawab. Memang, bisa dikatakan sebagai langit dan bumi jika aku dibandingkan dengan Ajip. Namun, setidaknya aku bisa mencontoh dan menerapkan dalam kehidupanku sebagai mutiara hati, meskipun dalam kapasitas kecil sekalipun. Insya Allah mutiara hati yang begitu berharga dan akan menjadi kekuatan dan spirit dalam menjalani hari-hari mendatang dengan penuh keyakinan. Mutiara hati yang akan selalu bersinar dalam situasi dan kondisi apapun. Mutiara hati akan menerangi setiap langkah dan mengambil sikap untuk menatap tegar kerasnya kehidupan.

Hidup adalah fakir, penuh kekurangan. Hidup tidak ada yang sempurna.  Manusia segagah apapun, sekaya apapun tidak ada yang tidak memiliki cela. Namun, di balik kekurangan dan ketidaksempurnaan ternyata banyak hikmah yang harus dipetik. Dengan pandai-pandainya menyiasati dan menyikapi kekurangan, maka kita terkurung dalam ketakberdayaan. Untuk itu hidup harus dijalani dengan keberanian tetapi dengan perencanaan yang baik dan matang. Agar segala sesuatunya berjalan baik dan membawa kemanfaatan dan keberkahan bagi kehidupan manusia. Agar kefakiran tidak mendera kehidupan manusia, baik rohani maupun jasmani. Baik secara pribadi maupun orang lain.

Menurut Suryo S. Negoro dalam buku Kejawen, Laku Menghayati Hidup Sejati, tujuan yang mulia adalah menyempurnakan hidupmu sebelum badan jasmanimu rusak. Dalam keadaanku yang serba kekuarangan ini, aku selalu berusaha untuk berjuang agar hidupku berguna, bermanfaat, dan berfaedah bagi kehidupan sesama sebelum hidupku berakhir.

Ya, inilah hidupku dan kisahku sebagai seorang manusia yang berebut untuk bermanfaat bagi sesama dengan segala kekuranganku. Mudah-mudahan ini bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja, terutama yang kondisinya tidak jauh berbeda dengan diriku. Amin.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Biografi - EKO HARTONO # KURSI RODA SANG PENGARANG"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel