-->

Legenda - PUNDEN MBAH KENDIL

Legenda - PUNDEN MBAH KENDIL
Legenda - PUNDEN MBAH KENDIL
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - LEGENDA - Sahabat Taman Tembang dan Sastra berjumpa kembali dengan taman legenda (cerita rakyat). Kali ini disajikan sebuah cerita rakyat berjudul Punden Mbah Kendil dari Wonogiri, sebagai berikut.

PUNDEN MBAH KENDIL
Oleh: Parpal Poerwanto


Pada suatu hari, sampailah laskar Pangeran Sambernyowo di desa Turus. Mereka beristirahat menghilangkan lelah setelah berhasil lepas dari kejaran pasukan kompeni Belanda. Selain lelah, mereka sangat menderita karena haus dan kelaparan. Untuk menghilangkan semua itu, mereka bercanda dengan menawarkan makanan dan minuman kepada teman-temannya kemudian diakhiri dengan tertawa terbahak-bahak bersama.

Melihat hal itu, Pangeran Sambernyowo tanggap. Bersama Dipati Kudonowarso dan Ronggo Panambangan mendatangi sebuah rumah penduduk yang terdekat dari tempat itu. Rumah itu milik seorang janda setengah tua. Melihat kedatangan para priyayi, tampak wanita tua itu ketakutan.

"Janganlah taku, Mbok. Kami bukan orang jahat. Kami kemari hanya ingin minta air putih barang segelas saja," ucap Dipati Kudonowarso.
"Mo, monggo, Den," ucap wanita itu sambil memberikan sebuah kendi berisi air putih matang. "Kalau Raden bertiga berkenan, akan saya buatkan teh dengan gula aren."
"Tidak perlu repot-repot, Mbok. Saya rasa air putih ini cukup untuk menghilangkan haus dan penat raga."

Akan tetapi, wanita tua lantas pergi ke dapur. Setelah beberapa saat kembali membawa teh tiga cangkir dan tiga gumpal gula aren. Pangeran Sambernyowo tampat berkenan sekali atas kebaikan wanita tua itu.

"Maaf Raden, jika diperkenankan, siapakah Raden bertiga ini?" tanya janda itu sambil menuangi lagi ketiga cangkir yang isinya hampir habis.
"Terima kasih, Mbok. Sudahlan nanti saya yang menuangnya," kata Dipati Kudonowarso.
"Tidak apa-apa, Den. Sudah kewajiban saya."
"Ketahuilah Mbok, kami ini adalah kerabat kerajaan Kartosuro. Saya Pangeran Sambernyowo, sedangkan ini Ronggo Panambangan dan Paman Dipati Kudonowarso," jawab Pangeran Sambernyowo.

Mendengar jawaban itu, wanita tua itu tampak kaget dan ketakutan seraya cepet-cepat duduk jongkok.
"Maafkan saya, Raden. Saya kurang sopan terhadap paduga bertiga."
"Sudahlah, Mbok. Tidak ada yang perlu dimaafkan. Malah sebaliknya kami mengucapkan terima kasih kepadamu."
"Jika Raden berkenan, sudilah kiranya menjelaskan maksud dan tujuan hingga sudi kerkunjung ke desa ini."

"Begini Mbok, kami keluar dari kerajaan karena merasa tidak betah diperlakukan sewenang-wenang oleh kompeni Belanda. Orang bule itu telah mencampuri urusan kerajaan. Bukan itu saja, ternyata mereka juga suka memeras penduduk. Karena itu, kami bersama pasukan berikrar akan mengenyahkan kompeni Belanda."

Janda tua itu mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Kabar mengenai kebengisan kompeni Belanda telah ia dengar sejak lama.
"Berarti, teman-teman Raden jumlahnya banyak?"
"Betul Mbok, teman-teman saya ada enam puluh orang," jawan Dipati Kudonowarso.
"Jika demikian, saya akan menanak nasi untuk Raden dan teman-teman Raden."
"Jangan repot-repot, Mbok. Enam puluh tiga orang itubukan jumlah yang sedikit."

Tanpa menjawab lagi, janda itu langsung menuju dapur. Ditanaknya nasi dengan sebuah periuk atau kendil. Setelah menaruh kendil di atas tungku, ia menuju kebun. Tangannya memetik sayuran yang tumbuh di pekarangannya.

Tidak lama kemudian nasi dan lauk sekadarnya telah siap. Janda itu segera mempersilakan semua laskar Sambernyowo untuk menyantap masakannya. Pangeran Sambernyowo ragu-ragu akan kesungguhan janda tua dalam menjamu mereka. Sebab, nasinya hanya satu kendil, sedangkan yang akan makan semua ada enam puluh tiga orang.

"Mbok, jumlah kami semua ada enam puluh tiga orang. Bagaimana saya harus membagi nasi yang hanya satu kendil ini?"
"Raden, sebelumnya saya mohon maaf. Cobalah dulu Raden, saya rasa nasi ini cukup untuk semua."

Semuanya merasa heran dan ragu-ragu akan jawaban wanita tua itu. Namun, Pangeran Sambernyowo segera memberi isyarat agar semua segera mengambil nasi. Orang pertama yang mengambil adalah Pangeran Sambernyowo sendiri kemudian disusul Dipati Kudonowarso dan Ronggo Panambangan. Barulah diikuti para laskar. Mereka mengambil nasi dengan ukuran lebih hingga piringnya menggunung.

Aneh sekali, nasi yang hanya satu kendil itu tidak habis dimakan oleh orang sebanyak enam puluh tiga. Selesai makan, Pangeran Sambernyowo mengucapkan terima kasih kepada janda itu. Sebelum melanjutkan perjuangan, Ronggo Panambangan berkata, "Mbok, sekali lagi kami semua mengucapkan banyak terima kasih. Atas jasamu yang telah membantu perjuangan kami, kelak saya akan kembali ke desa ini. Saya berjanji akan membalas budi kebaikanmu." Selanjutnya Pangeran Sambernyowo beserta laskarnya melanjutkan perjuangan.

Sejak kejadian itu, setiap orang berkumpul selalu membicarakan tentang kendil ajaib itu. Lama kelamaan warga sekitar menyebut janda itu dengan nama Mbah Kendil. Nama Mbah Kendil terkenal hingga ke luar desa Turus.

Atas jasa Mbah Kendil, banyak kerabat Mbah Kendil mendapat jasa dari Raden Ronggo Panambangan. Banyak keturunan ptiyayi dari daerah ini. Setelah meninggal, Mbah Kendil dikubur di desa Turus. Kuburannya terkenal dengan nama Punden Mbah Kendil sampai sekarang banyak dikunjungi orang.

Sahabat, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa di lain kisah. Nuwun.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - PUNDEN MBAH KENDIL"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel