Legenda - KAHYANGAN DLEPIH
Saturday, 10 February 2018
Add Comment
![]() |
| Legenda - KAHYANGAN DLEPIH |
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - LEGENDA - Sahabat Taman Tembang dan Sastra, berjumpa kembali dengan taman legenda (cerita rakyat). Kali ini cerita yang diunggah adalah Kahyangan Dlepih yang berada di Kecamatan Tirtomoyo Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Ceritanya sebagai berikut.
KAHYANGAN DLEPIH
Oleh: Parpal Poerwanto
Konon, sudah sejak lama Kahyangan Dlepih terkenal sebagai tempat spiritual. Diyakini beberapa tokoh terkenal pernah bermunajat atau samadi di tempat ini. Mulai dari Sunan Kalijogo, Panembahan Senopati, Raden Mas Rangsang (Sultan Agung Hanyokrokusumo), Pangeran Mangkubumi (Sri Sultan Hamengkubuwono I), dan Pangeran Sambernyowo.
Cerita kali ini bersangkutan dengan kisah Danang Sutowijoyo. Dikisahkan, ketika dapat menaklukkan Aryo Penangsang, Danang Sutowijoyo dibantu oleh Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi. Atas jasanya itu, Ki Pemanahan diberi bumi Mentaok dan Ki Penjawi diberi bumi Pati Pesantenan oleh Sultan Hadiwijoyo.
Akan tetapi, pemberian hutan Mentaok ditunda. Hal ini disebabkan atas ramalan seorang sekti, Ki Ageng Giring, bahwa bumi Mentaok akan menjadi kerajaan besar. Oleh sebab itu, Ki Gede Pemanahan meminta tolong kepada Sunan Kalijogo. Maka Sunan Kalijogo segera mengingatkan Sunan Hadiwijoyo agar bumi Mentaok segera diberikan kepada Ki Gede Pemanahan.
Akhirnya, bumi Mentaok diberikan kepada Ki Gede Pemanahan. Selanjutnya, dibukalah hutan tersebut menjadi hunian. Lama kelamaan bumi Mentaok menjadi ramai dan makmur sehingga dapat dikatakan layak menjadi kerajaan sendiri.
Akan tetapi, Raden Danang Sutowijoyo merasa ragu. Ia merasa bukan keturunan raja. Lagi pula, pada saat itu ia belum memiliki calon permaisuri. Oleh karena itu, ia minta diri untuk bertapa mohon berkah Ilahi sekaligus mencari calon permaisuri.
Perjalanan Raden Danang Sutowijoyo sampailah di Madiun. Ia bertemu dengan Retno Dumilah, putri Raden Ronggo Prawirodirjo Bupati Madiun. Karena saling jatuh cinta, maka keduanya segera dinikahkan. Raden Danang Sutowijoyo berjanji akan menjadikan Retno Dumilah sebagai permaisuri setelah kelak menjadi raja di Mataram.
Selanjutnya Raden Danang Sutowijoyo menuju Kahyangan Dlepih. Berdua dengan Retno Dumilah, singgahlah sementara waktu di rumah Kiai Puju, seorang petani dan dalam kesehariannya mencari kayu bakar di hutan.
Pada hari yang dianggap tepat, Raden Danang Sutowijoyo minta diri untuk bertapa. Sementara Retno Dumilah dititipkan di rumah Kiai Puju.
Perjalanan Raden Danang Sutowijoyo sampailah pada batu besar yang bentuknya pipih besar. Ujung atas kedua batu itu menyatu sehingga rongganya bisa digunakan untuk lewat. Batu itu dinamakan Selo Gapit atau Selo Penangkep. Kemudian ia menuju sebuah batu besar yang berongga serta atasnya melebar seperti payung. Di batu itulah ia melakukan tafakur. Batu itu sekarang masih berdiri dan dinamakan Selo Payung atau Batu Pamelengan. Untuk melaksanakan salat, ia memilih sebuah batu hitam datar bagaikan sebuah meja yang letaknya di sebelah Selo Payung. Batu itu dinamakan Selo Gilang atau Batu Pesalatan. Untuk menjaga kebersihan badannya, Raden Danang Sutowijoyo selalu mandi di sebuah kedung yang dinamakan Kedung Pasiraman.
Ketika sedang bertafakur di Selo Pamelengan, datanglah Kanjeng Ratu Kidul penguasa Laut Selatan. Pertemuan antara keduanya bukan yang pertama kalinya. Ratu Kidul sudah menjadi kekasih Raden Danang Sutowijoyo sejak pertemuannya di Kali Opak. Kemudian, kedua insan itu memadu kasih di atas Selo Gilang.
Sementara itu, Retno Dumilah merasa gelisah dan cemburu karena sudah beberapa hari kekasihnya tidak memberi kabar atau kembali. Rasa cemburunya itu diutarakannya kepada Kiai Puju.
"Perasaabku tidak enak, Kiai. Saya minta tolong supaya Kiai berkenan menyusul Kakang Danang ke Kahyangan!"
Berangkatlah Kiai Puju ke Kahyangan. Bagi Kiai Puju, perjalanan menuju Kahyangan merupakan hal yang biasa dilakukan. Maka perjalanan tidak memakan waktu terlalu lama.
Waktu itu Kiai Puju tidak mempunyai prasangka apa-apa. Dianggapnya Raden Danang Sutowijoyo sedang bertafakur. Namun, betapa terperanjtnya Kiai Puju melihat Raden Danang Sutowijoyo tengah memadu kasih dengan seorang putri cantik.
Konon, Kanjeng Ratu Kidul mau membantu agar Kerajaan Mataram berdiri apabila Raden Danang Sutowijoyo bersedia menjadi suaminya. Alhasil, belum puas mereka memadu kasih, Kanjeng Ratu Kidul terperanjat dan memberitahukan kepada Raden Danang Sutowijoyo. Danang pun marah besar.
"Hai Kiai Puju. Perbuatanmu mengintiporang sedang memadu kasih adalah tindakan asusila. Maka terimalah ini!" kata Raden Danang Sutowijoyo sembari akan mengejar Kiai Puju. Namun, niat itu diurungkan oleh Ratu Kidul dengan menarik tasbih Raden Danang Sutowijoyo. Tasbih itu putus dan jatuh berantakan di Kedung Pasiraman. Melihat hal itu, Ratu Kidul menambah batu bertuah dari Laut Kidul ke dalam Kedung Pasiraman.
Sepulang dari Kahyangan Dlepih, Raden Danang Sutowijoyo minta maaf kedapa Kiai Puju. Namun, ia tetap memberikan hukuman kepada Kiai Puju, yakni untuk menunggu Kahyangan Dlepih hingga nyawanya moksa.
Kelak di kemudian hari, Raden Danang Sutowijoyo dinobatkan menjadi sultan di Mataram dan bergelar Kanjeng Panembahan Senopati Hing Ngalogo Kalifatulloh Sayidin Panotogomo.
Sahabat, terima kasih atas kunnjungannya. Sampai jumpa.

0 Response to "Legenda - KAHYANGAN DLEPIH"
Post a Comment