Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 6
Sunday, 11 February 2018
Add Comment
![]() |
| Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 6 |
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - LEGENDA - Sahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa lagi dengan taman legenda (cerita rakyat). Kali ini masih melanjutkan cerita Cepurung Ki Ageng Donoloyo, yakni seri ke-6. Cerita ini mengisahkan terjadinya Alas Donoloyo di Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
CEMPURUNG
KI AGENG DONOLOYO # 6
Oleh: Parpal Poerwanto
Pangeran Meleng telah menyatakan rasa hatinya kepada Dewi Donowati. Tampaknya Dewi Donowati kaget. Ia tidak mengira akan mendapatkan pernyataan seperti itu. Gadis cantik keturunan Majapahit itu parasnya menjadi merah jambu. Hidungnya kembang-kempis, berkeringat. Pandangannya tertunduk menatap ibu jari kakinya. Tiada sepatah katapun keluar dari mulutnya. Namun, semua itu sudah cukup bagi Pangeran Meleng. Bahasa hati yang ditangkap dari gestur tubuh adalah pancaran dan ungkapan cinta sejati. Itulah kelebihan dari sosok manusia yang dinamakan perempuan.
Hari-hari berikutnya serasa sangat indah. Luasnya hutan rimba bagaikan taman sari di kerajaan Majapahit. Bunga-bunga yang tumbuh dari belukar menambah keindahan, berseri alami.
Perjalanan kembali dilanjutkan, yakni ke arah barat daya. Sebagai ujung langkah adalah Pangeran Meleng. Ia melangkah sambil membuka jalan. Parang di tangannya tak henti-hentinya membabat semua rintangan yang ada di depannya. Perjalanan kali ini serasa lebih berat. Bukan karena harus membuka jalan untuk menapak tetapi medannya sangat sulit. Harus menuruni lereng yang terjal dan curam.
Pada sore harinya, rombongan sampailah di sebuah dusun kecil di kaki Gunung Lawu bagian barat daya. Dusun itu belum ramai, namanya Dusun Sokoboyo.
Kedatangan rombongan dari Majapahit itu disambut dengan baik oleh warga Sokoboyo. Mereka diizinkan mendirikan tempat tinggal. Bahkan, semua warga bergotong royong ikut serta. Maka, hanya hitungan tiga hari sudah berdirilah sebuah rumah meskipun sederhana. Untuk tidak menimbulkan fitnah, Pangeran Meleng segera memperistri Dewi Donowati.
Pangeran Meleng cakap dalam mengolah tanah. Bukan itu saja, Pangeran Meleng juga memiliki ilmu dan pandangan-pandangan yang lebih jika dibandingkan warga asli Sokoboyo. Karenanya, Pangeran Meleng sangat dihormati dan secara kesepakatan, ia diangkat menjadi sesepuh dusun dengan sebutan Ki Ageng Sokoboyo.
Pada suatu kesempatan, Ki Ageng Sokoboyo berbincang-bincang dengan Pangeran Dono Kusumo.
"Dimas Dono Kusumo, aku sudah kerasan dan nyaman tinggal di sini. Tempat ini kelak akan menjadi ramai. Untuk itu, ayo kita segera menyusun kekuatan guna mendirikan negara untuk meneruskan sejarah Majapahit."
Mendengar kata-kata itu, Pangeran Dono Kusumo kaget. Ternyata benar apa yang pernah mengganjal hatinya bahwa niat Pangeran Meleng berbeda dengan niatnya.
"Kakang Meleng, sebelumnya aku minta maaf. Jujur, aku tidak sependapat dengan rencana Kakang. Apa Kakang lupa niat dan tekad kita sewaktu meinggalkan Majapahit dulu?"
"Lho, apa salahnya jika kita bida meneruskan Majapahit. Bukankah kita masih keturunan Majapahit? Apa kamu tidak suka dengan derjat dan pangkat?"
"Bagiku, derajat dan pangkat hanya akan membuat hidup ini serakah. Bisa-bisa akan menghalalkan segala cara untuk meraih semua itu."
"Sudah, sudah. Apapun risikonya, aku tetap ingin meneruskan sejarah Majapahit. Jika kamu tidak mau, ya terserah...."
"Kakang, sekali maafkanlah aku. Sekalian aku minta pamit akan meneruskan perjalanan. Aku akan mencari hidup yang lebih bermakna untuk kepenetingan manusia. Aku ingin dapat memayu hayuning bawana."
"Jika demikian Dinda, aku hanya bisa mendoakan semoga terkabul apa yang kau cita-citakan."
Sahabat, terima kasih atas kunjungannya. Nantikan seri ke-7, ya! Sampai jumpa.

0 Response to "Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 6"
Post a Comment