Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 9
Tuesday, 13 February 2018
Add Comment
![]() |
| Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 9 |
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - LEGENDA - Sahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa dengan taman legenda (cerita rakyat). Kali ini taman legenda masih melanjutkan kisah Cempurung Ki Ageng Donoloyo, yakni seri ke-9. Legenda ini merupakan kisah terjadinya Alas Donoloyo di Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Selengkapnya sebagai berikut.
CEMPURUNG
KI AGENG DONOLOYO # 9
Oleh: Parpal Poerwanto
Setelah berdebat dengan suaminya, Nyai Ageng merasakan ada penyesalan mengapa dulu memperbolehkan Pangeran Meleng ikut meninggalkan istana bersamanya. Namun, semua telah terjadi. Apalgi sekarang Pangeran Meleng adalah suaminya, seorang sesepuh dusun yang disegani di Sokoboyo.
Pikiran Nyai Ageng mengingat kembali masa-masa silam. Bermula dari huru-hara yang memakan korban banyak hingga perjalanannya hingga di Sokoboyo yang penuh dengan cobaan dan rintangan.
Nyai Ageng kemudian teringat adiknya, Pangeran Dono Kusumo yang sudah lebih tiga windu lalu melanjutkan perjalanan karena selisih paham dengan Ki Ageng Sokoboyo. "Di mana keberadaan Adinda Dono Kusumo?" batinnya menangis.
Kabar tentang hutan jati yang dimiliki Ki Ageng Sokoboyo terdengar hingga ke Watusomo. Sebagai orang yang suka tentang kelestarian lingkungan, Ki Ageng Donosari atau Pangeran Dono Kusumo sangat gembira hatinya. Apa lagi hutan miliknya di Watusomo tidak ada satu pun pohon jatinya. Maka, dengan rasa penuh harap Ki Ageng Donosari akan minta bibit jati kepada kakak iparnya sekalian silaturahmi sebab sudah seperempat abad tidak berjumpa.
Ketika hari menjelang sore, Ki Ageng Donosari telah sampai di pinggir hutan jati yang luasnya tiada tara. Jatinya besar-besar dan lurus-lurus tumbuh dengan subur. Ki Ageng Donosari sangat yakin bahwa hutan jati itu adalah milik Ki Ageng Meleng. Karenanya, Ki Ageng Donosari sangat bangga dengan kakak iparnya itu. Ini berarti keinginan untuk mendapatkan bibit jati akan segera terkabulkan.
Kedatangan Ki Ageng Donosari diterima dengan suka gembira. Nyai Ageng merangkul adiknya. Keakraban semakin bertambah ketika para tetangga ikut bergabung.
Setelah tiga hari lamanya, Ki Ageng Donosari lantas mengutarakan maksud kedatangannya, yaitu minta bibit jati untuk ditanam di Watusomo.
"Kakang Meleng, aku rasa pertemuan ini sudah cukup lama. Jika diperbolehkan, besuk pagi aku akan minta pamit kembali ke Watusomo. Namun...."
"Namun, apa Dimas?" tanya Ki Ageng Sokoboyo.
"Begini Kakang, di Watusomo belum ada pohon jati. Maksudku, bila Kakang mengizinkan aku minta bibit jati untuk ditanamn di sana...."
"Apa?" nada suara Ki Ageng Meleng meninggi. "Tidak salah dengarkah, aku? Kamu minta bibit jati?" Ki Ageng Meleng berdiri. Lalu lanjutnya, "Dimas, kamu bisa minta apa saja pasti akan kuberi. Namun, jika minta bibit jati, maaf Dimas, aku tidak akan memberikannya!"
"Kakang Meleng, aku tidak minta emas berlian. Aku hanya membutuhkan biji jati yang akan aku tanam di Watusomo."
"Oooo, sekarang aku tahu bahwa sebenarnya kau iri dengan keberhasilanku."
"Kok Kakang bicara seperti itu?"
"Sudah jelas, ketika kamu tahu betapa luasnya hutan jatiku, lalu timbul irimu. Dalam pikiranmu yang terlintas hanya bagaimana caranya agar kamu punya hutan jati seperti milikku, bukan? Dan, pikiran itu bisa semakin gila. Bukankah jika terlaksana punya hutan jati kamu juga akan mendirikan negara seperti yang aku idam-idamkan?"
"Tidak, Kakang. Aku hanya berharap bahwa tlatah Watusomo juga memiliki hutan jati. Apa Kakang lupa bahwa sejak awal aku berniat untuk mengabdikan hidupku ini untuk kehidupan bersama. Kalau suatu saat aku bisa memiliki hutan jati, itu bukan untuk kekayaan pribadi. Biarlah masyarakat yang memilikinya."
"Itu hanya dalihmu saja. Sekali tidak, aku tidak akan memberikan bibit jati kepadamu!"
Ki Ageng Donosari serasa hilang tulang belulangnya. Lemas tiada daya. Keinginannya untuk mencari bibit jati tidakberhasil. Malah sebaliknya, ia merasa sakit hati karena telah diperlakukan tidak sepantasnya oleh kakak iparnya. Niat baiknya untuk melestarikan lingkungan dianggap akan menandingi semua keinginan kakak iparnya.
Nyai Ageng Sokoboyo yang sedari tadi menguping percakapan antara suami dengan adiknya tidak bisa berbuat banyak. Nyai Ageng tidak mau ikut campur karena khawatir akan membuat suasana semakin runyam. Diam-diam, Nyai Ageng mempunyai cara tersendiri untuk menolong adiknya. Dengan sembunyi-sembunyi dimasukkannya tiga janggleng atau biji jati ke dalam tongkat adiknya yang terbuat dari bambu wuluh.
Selanjutnya, dengan perasaan kecewa Ki Ageng Donosari minta pamit untuk kembali ke Watusomo. "Baiklah Kakang, tidak menjadi apa jika Kakang tidak berkenan. Aku minta maaf sekalian mohon diri."
Sahabat, terima kasih atas ampirannya. Sampai jumpa di kisah ke-10. Salam.

0 Response to "Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 9"
Post a Comment