Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 8
Tuesday, 13 February 2018
Add Comment
![]() |
| Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 8 |
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - LEGENDA - Sahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan taman legenda. Kesempatan ini masih meneruskan cerita Cempurung Ki Ageng Donoloyo, yaitu bagian 8. Legenda ini menceritakan terjadinya Alas Donoloyo di Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
CEMPURUNG
KI AGENG DONOLOYO # 8
Oleh: Parpal Poerwanto
Ki Ageng Donosari benar-benar menepati dan setia dengan niat semula. Sejak awal meninggalkan Majapahit sudah bertekad untuk mengabdikan hidupnya kepada bebrayan agung. Ia benar-benar tidak memikirkan dirinya. Salah satunya, sampai umur setengah tua Ki Ageng Donosari tidak beristri. Ia benar-benar telah meninggalkan kesenangan dunia. Ibaratnya makan merupakan sekadar penyambung hidup dan pakaian merupakan penutup aurat saja. Ia juga jauh dari gebyar dan gemerlapnya hidup di dunia.
Hal ini sangat jauh berbeda dengan keadaan Ki Ageng Meleng atau Ki Ageng Sokoboyo. Ia hidup dalam kemewahan untuk ukuran penduduk desa. Kesemuanya itu memang hasil jerih payahnya dalam mengolah tanah pertanian. Selain beraneka tanaman palawija dan padi, ia memiliki hutan jati yang sangat luas. Pohon-pohon jatinya besar-besar dan lurus-lurus terkenal hingga luar daerah.
Kayu jati merupakan kayu pilihan untuk kerangkan rumah atau perkakas rumah tangga lainnya. Kayu ini memiliki nilai jual yang tinggi. Dari hasil pohon jati inilah Ki Ageng Sokoboyo bisa hidup dalam kemewahan. Tabungannya setiap waktu selalu bertambah. Ia mempunyai cita-cita besar, yakni ingin meneruskan kejayaan Majapahit.
Di dalam merawat tanaman jatinya, Ki Ageng Sokoboyo mempunyai dua orang pembantu setia. Keduanya ialah Ki Brajageni dan Ki Brajalintang. Sikap dan perangai kedua abdi ini tidak jauh berbeda dengan juragannya. Kepada setiap penduduk yang berani menginjakkan kaki di hutan jati milik juragannya, jika ketahuan pasti akan mendapat hukuman. Sudah banyak penduduk yang hanya sekadar mencari ranting kering sebagai kayu bakar tetapi menerima humuman yang berat.
Sikap sombong dan congkak telah menguasai diri Ki Ageng Sokoboyo. Sebagi istri, Nyai Ageng sebenarnya tak segan-segan mengingatkan suaminya. Namun, semua itu tidak didengar oleh Ki Ageng Sokoboyo.
"Ki Ageng, jika dibandingkan dengan para tetangga, kita ini sudah dikatakan hidup lebih. Seumpama ada warga yang menginginkan ranting kering sekadar untuk kayu bakar, tolong diperbolehkan."
"Apa? Jika dipikir memang hanya ranting kering yang tak ada harganya. Tapi bukan itu masalahnya. Jika sekarang mereka berani mengambil kayu bakar dan dibiarkan, tentu lama-lama akan merasa nyaman. Nah, ketika merasa aman apa tidak mungkin suatu saat akan mencuri kayu jati yang besar dan mahal...!"
"Ki Ageng, apa tidak ada terlintas di pikiran Ki Ageng bahwa semua tanah ini dulu milik warga Sokoboyo?"
"Jika dipandang dari situ memang benar. Tapi, apa orang-orang Sokoboyo tidak memahami jika seluruh daerah sini masih wilayah Majapahit. Kamu juga tahu bahwa kita ini masih keturunan Majapahit. Jadi, meskipun tanah daerah ini aku minta tentunya rakyat Sokoboyo harus memberikan dengan rela."
"Ki Ageng, sudahlah. Majapahit sekarang tinggal kenangan."
"Makanya, akulah yang akan menyambung sejarah supaya Majapahit tetap lestari."
"Makanya, akulah yang akan menyambung sejarah supaya Majapahit tetap lestari."
"Apa Ki Ageng lupa dengan niat kita meninggalkan istana dulu. Bukankah kita akan hidup seperti rakyat jelata serta mengabdikan hidup ini untuk sesama?"
"Itu tujuanmu bersama Dimas Dono Kusumo. Tapi tujuanku beda. Sejak meninggalkan istana yang terpikir olehku bagaimana caranya agar bisa mendirikan negara lagi," jawab Ki Ageng Sokoboyo. Kemudian lanjutnya, "Sudahlah, kamu tidak perlu ikut campur masalah ini!"
Sahabat, terima kasih atas kunjungannya. Nantikan seri ke-9, ya. Sampai jumpa.

0 Response to "Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 8"
Post a Comment