Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 10
Wednesday, 14 February 2018
Add Comment
![]() |
| Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 10 |
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - LEGENDA - Sahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpal lagi dengan taman legenda (cerita rakyat). Kali ini taman legenda akan meneruskan kisah Cempurung Ki Ageng Donoloyo, yakni pada bagian 10. Legenda ini mengisahkan terjadinya Alas Donoloyo di Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
CEMPURUNG
KI AGENG DONOLOYO # 10
Oleh: Parpal Poerwanto
Ki Ageng Donosari sangat menyesal atas sikap kakak iparnya, Ki Ageng Sokoboyo. Sepanjang perjalanan tidak henti-hentinya berdoa agar kakak iparnya sadar atas kesalahannya. Selain itu,ia juga berdoa agar bisa memiliki hutan jati seperti di Sokoboyo. Langkahnya pelan sekali, menuju arah selatan di mana dusun Watusomo berada, tetapi memilih memutar agak ke timur.
Ki Ageng Donosari singgah sebentar di dusun Made. Sebelum duduk, ia menancapkan tongkatnya ke tanah. Tanpa disadarinya, salah satu biji jati dari dalam tongkat itu terjatuh. Sepeninggal Ki Ageng Donosari, biji jati itu tumbuh dan kelak menjadi sebuah jati yang sangat besar. Jati itu oleh masyarakat sekitar dinamakan Jati Denok.
Selanjutnya, Ki Ageng Donosari melanjutkan perjalanan. Ketika sampai di suatu tempat kembali beristirahay. Sambil menancapkan tongkatnya, ia merasa ragu-ragu (Jawa: mangu-mangu) apakah kembali ke Watusomo atau kembali ke Majapahit. Namun, perasaan ragu-ragu itu bisa ditepisnya. Dengan tekad bulat ia kembali ke Watusomo. Ketika mencabut tongkatnya, salah satu biji jati jatuh lagi. Biji tersebut akhirnya tumbuh dan menjadi pohon jati yang besar dan lurus. Untuk mengingat-ingat kejadian itu, tempat itu dinamakan Dusun Sokomangu. Nama itu berasal dari kata ragu-ragu atau mangu-mangu sewaktu menentukan langkah. Sampai sekarang jati yang tumbuh di dusun Sukomangu masih berdiri kokoh. Tempatnya dikeramatkan dengan sebutan Punden Sukomangu.
Ketika sampai di pondoknya, karena capai dan kecewa, Ki Ageng Donosari menancapkan begitu saja tongkatnya di halaman rumah. Dirinya kemudian masuk ke rumah dan manjatuhkan diri di atas dipan. Rasa kecewa dan sedih bercampur manjadi satu. Mungkin saking capainya, Ki Ageng Donosari sampai tertidur beberapa hari lamanya.
Waktu itu Ki Ageng Donosari belum bangun dari tidurnya. Tiba-tiba ada halilintar yang mengagetkan dan membangunkan tidurnya. Padahal waktu pagi hari. Jarang terjadi hujan turun deras dengan halilintar menyambar-nyambar seperti itu.
Dalam keheranannya, Ki Ageng Donosari bangun lalu berjalan gontai ke depan pintu. Perasaan heran kian bertambah ketika melihat tongkatnya sudah hancur berkeping-keping. Mungkin tongkat tadi disambar petir yang menggelegar beberapa waktu lalu. Pandangannya tertuju pada sesuatu yang sangat tidak dipercayainya. Saking tidak percayanya, dikuceklah matanya berulang kali. Ternyata itu bukan mimpi atau salah lihat. Di bekas tancapak tongkat yang hancur berkeping-keping tumbuhlah pohon jati. Karenanya, ia segera menghambur meskipun hujan belum reda. Diciuminya berulang kali tumbuhan jati itu.
"Terima kasih Tuhan. Engkau telah mengabulkan permintaan hamba. Hanya karena pertolongan-Mu aku bisa memiliki tanaman jati. Semoga benih jati ini bisa tumbuh dengan baik dan kelak bisa digunakan sebagai bibit...," Ki Ageng Donosari berdoa mengucap syukur kepada Tuhan Yang Mahamurah.
Hampir setiap detik Ki Ageng Donosari menunggui tumbuhan jati itu. Setiap hari dirawat dan dilihat perkembangannya. Supaya tidak terserang hama dan hewan piaraan, tumbuhan jati itu diberi pengaman berupa srumbung, semacam pagar bambu yang melingkar. Ibaratnya, Ki Ageng Donosari lebih mementingkan tanaman jati itu dari pada dirinya sendiri.
Berkat kemurahan Gusti Yang Mahamurah, jati itu cepat besar. Selain itu, batangnya lurus dengan daun-daunnya yang lebat sekali. Ki Ageng Donosari senantiasa berdoa agar jati itu bisa menjadi bibit yang baik guna ditanam di wilayah Watusomo. Selanjutnya, jati itu diberi nama Jati Cempurung.
Selang beberapa tahun, Jati Cempurung sudah berbunga. Dari bunga-bunga itu berubahlan menjadi biji-biji jati dengan ukuran besar dan bulat-bulat. Orang menyebutnya janggleng. Setiap kali ada yang jatuh karena umur sudah tua, biji jati itu dikumpulkan dengan sabar. Selanjutnya dijemur supaya kering. Pada musim penghujan tiba, janggleng tersebut disemaikan sebagai bibit jati. Kini, Ki Ageng Donosari siap menanam beratus-ratus bibit jati.
Sahabat, terima kasih atas ampirannya. Sampai jumpa di kisah ke-11. Salam.

0 Response to "Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 10"
Post a Comment