Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 12
Saturday, 17 February 2018
Add Comment
![]() |
| Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 12 |
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - LEGENDA - Sahabat Taman Tembang dan Sastra, jumpa kembali dengan taman legenda (cerita rakyat). Kesempatan kali ini masih meneruskan kisah Cempurung Ki Ageng Donoloyo, yakni bagian ke-12. Legenda ini mnegisahkan terjadinya Alas Donoloyo di Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.
CEMPURUNG
KI AGENG DONOLOYO # 12
Oleh: Parpal Poerwanto
Seperti kesetanan Ki Ageng Sokoboyo memacu kudanya. Kedua pengawalnya kewalahan mengikuti laju kuda tuannya. Meskipun medannya sukar ditempuh, tetapi ketiga orang itu tidak terlalu lama sampai di tepian hutan jati yang sangat luas. Tampak pohon-pohonnya yang besar-besar dan lurus-kurus. Jika dibandingkan dengan hutan milik Ki Ageng Sokoboyo jauh lebih luas. Hal tersebut semakin menyulut amarah Ki Ageng Sokoboyo.
"Keparat! Tidak mengira kalau aku telah kecolongan besar-besaran. Ayo, lekas dicari di mana Dono Kusumo!" teriak Ki Ageng Sokoboyo kepada kedua pengawalnya.
"Baik, Ki Ageng...!"
"Ke arah mana, Ki Ageng?" tanya Ki Brajalintang.
"Ikuti langkahku!"
Kuda dilarikan mengitari pinggiran hutan jati. Tidak terlalu lama mereka berhenti di sebuah pondok. Pada waktu itu sedianya Ki Ageng Sokoboyo akan minta petunjuk pemilik pondok mengenai keberadaan Ki Ageng Donosari. Secara kebetulan orang yang dicari adalah pemilik pondok tersebut. Melihat ada tamu yang datang, Ki Ageng Donosari bangkit dari kursi dan menyambutnya dengan ramah.
"Mari Kakang, silakan masuk. Maaf, tempatnya seperti ini," kata Ki Ageng Donosari penuh hormat.
"Tidak perlu basa-basi, Dono Kusumo!" kata Ki Ageng Sokoboyo dengan kasar.
"Ada apa, Kakang? Aku tidak paham semua ini..."
"Wujudmu memang ksatria sebab kamu masih keturunan raja Majapahit. Namun, perilakumu tidak mencerminkan sikap ksatria."
"Salahku apa, Kakang?"
"Kamu tidak mengakui kesalahanmu?"
"Sungguh Kakang, aku tidak paham apa yang kau ucapkan."
"Di mana ada maling mau mengakui perbuatannya...?"
"Aku bukan maling, Kakang."
"Bukan maling? Dari mana asalnya bibit jati jika bukan hasil mencuri dari hutanku?"
"Kakang...!"
"Cukup! Semuanya telah cukup bukti bahwa kamu mencuri bibit jati. Karenanya aku tidak terima!"
Akal dan perasaan Ki Ageng Donosari tumpang tindih menjadi satu. Ki Ageng Donosari tahu betul siapa Ki Ageng Meleng yang tengah dilanda amarah itu. Jika marah Ki Ageng Meleng tidak akan pandang bulu. Oleh karena itu, Ki Ageng Donosari sebisa-bisa menahan rasa hatinya untuk tidak terbakar amarah.
Selanjutnya, dengan hati-hati Ki Ageng Donosari bicara, "Kakang Meleng, sebaiknya masuk dulu ke pondokku. Nanti, bisa kita bicarakan baik-baik masalah ini. Jika nanti aku benar-benar salah, aku tidak akan lari. Aku siap menerima hukuman dari Kakang."
"Cukup di sini saja. Sekarang bicaralah dengan jujur!" jawab Ki Ageng Sokoboyo tidak sabar.
"Begini, Kakang. Selama hidup tidak pernah terpikir olehku untuk melakukan hal-hal yang nista termasuk mencuri. Meskpiun aku kecewa karena tidak diizinkan untuk minta bibit jati, aku hanya pasrah. Namun, dalam kepasrahan tersebut, aku selalu berdoa minta kemurahan Tuhan Yang Maha Bijaksana agar suatu saat aku memiliki hutan jati untuk menjaga lingkungan supaya terhindar dari bahaya banjir. Entah datangnya dari mana, tiba-tiba di halaman pondok ini tumbuh sebatang pohon jati. Asal bibit jati itu dari mana aku tidak tahu. Dari pohon itulah aku bisa mengubah lahan tandus itu menjadi hutan jati seperti yang Kakang saksikan."
"Sesuatu yang mengada-ada. Itu hanyalah bualanmu agar aku tidak marah. Aku yakin kamu maling bibit jati. Untuk seorang maling harus ada hukumannya!"
"Kakang, maafkanlah aku!"
"Kalau kamu bukan adik iparku tentu sudah kuhajar habis-habisan. Dengarlah! Langit dan bumi menjadi saksi, aku akan mengeluarkan tulah!"
"Mohon ampun, Kakang. Jangan lakukan semua itu!"
Akan tetapi Ki Ageng Sokoboyo tetap mengeluarkan tulahnya.
"Dengarkan tulahku ini. Pertama, jika kayu jati dari hutan ini dalam bentuk apapun jika dibawa ke daerah Sokoboyo akan mendatangkan bencana. Kedua, antara orang Sokoboyo dan daerah Watusomo ini tidak boleh menikah!"
Seketika ada petir menyambar-nyambar dan disusul hujan yang deras tiada tara. Selanjutnya Ki Ageng Sokoboyo melarikan kudanya sambil tertawa terbahak-bahak.
Sahabat, terima kasih atas ampirannya. Sampai jumpa di bagian ke-13. Nuwun.

0 Response to "Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 12"
Post a Comment