-->

Budaya - MEMAYU HAYUNING BAWANA (BAGIAN 2)

Budaya - MEMAYU HAYUNING BAWANA (BAGIAN 2)
Budaya - MEMAYU HAYUNING BAWANA (BAGIAN 2)
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - BUDAYA - Sahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa lagi dengan taman budaya. Kali merupakan artikel Memayu Hayuning Bawana (Bagian 2/ habis).

MEMAYU HAYUNING BAWANA

(Bagian 2)

Oleh: Parpal Poerwanto

Curiga atau keris (curi lan raga). Logam berkelok dengan ujung runcing berbahaya bagi badan manusia, jika digunakan secara salah. Namun, jika digunakan secara benar tentu akan melindungi diri dari bahaya. Keris digunakan para ksatria Jawa dalam menghadapi musuh di kala perang. Keris merupakan simbol kepandaian, ketangkasan, dan keuletan dalam menghadapi kesulitan hidup.

Kukila atau burung. Dalam hal ini yang dimaksud adalah burung perkutut. Burung ini memiliki suara yang khas,yaitu "kung" (sangat merdu). Ini merupakan simbol  suara bijaksana dari seseorang yang berbudi luhur. Tidak mencla-mencle, tidak menyakitkan atau menyinggung perasaan orang lain, dan tentunya dapat dipercaya.

Waranggana, disebut juga ronggeng, wanita penari di panggung terbuka. Seorang penonton yang kejatuhan sampur harus menari bersama ronggeng, dan harus bisa mengimbangi tarian ronggeng agar si ronggeng tidak berpaling kepada orang lain. Kira-kira ada empat pria penari lain di sekeliling dia yang menggodanya. Godaan manusia hidup ada empat, yaitu nafsu amarah, aluamah, sufiah, dan mutmainah. Bila manusia berhasil mengekang keempat nafsu tersebut maka cita-citanya yang luhur akan mudah tercapai.

Terakhir, adalah pradangga (praptaning kendang lan gangsa), atau suara gamelan yang diatur oleh kendang. Gamelan terdiri dari berbagai macam bentuk sumber bunyi dengan suara yang berbeda-beda pula. Ada yang bulat besar, sedang, dan kecil. Ada yang pipih besar, sedang, dan kecil. Cara menabuhnya pun berbeda-beda. Namun demikian, jika gamelan ditabuh sesuai dengan aturan dan tata caranya akan menghasilkan sebuah orkestra musik yang merdu nan agung. Ini merupakan simbol masyarakat yang majemuk, baik sifat, karakter, latar belakang, dan kebiasaannya. Apabila masyarakat yang majemuk itu hidup dengan teratur, bersatu menyumbangkan kecakapan bagi masyarakat, maka negara yang tata tentrem kerta raharja akan menjadi kenyataan.

Delapan simbol yang terdapat dalam Asta Brata di atas sebenarnya merupakan satu kesatuan tekad untuk meraih cita-cita. Hal ini bisa diadopsi oelh Badan Kerjasama Daerah Pawonsari untuk melestarikan dan menjaga terhadap lingkungan (bumi) serta memberikan kemanfaatan bagi kehidupan manusia, yaitu salah satunya adalah di Pegunungan Selatan yang dikenal dengan nama Gunung Sewu dan batuan dasar yang mengalasinya. Konsep yang dipilih, yang mendasarkan pada pilar-pilar konservasi, pendidikan, dan penumbuhan nilai ekonomi lokal, adalah Geopark Gunung Sewu, terdiri dari bagian barat (Gunungkidul GeoArea), bagian tengah (Wonogiri GeoArea), dan bagian timur (Pacitan GeoArea).


Bicara mengenai taman/cagar (park), di dunia pewayangan ada tokoh wayang yang memiliki fisik buruk tetapi di balik kekurangan fisiknya itu, ia memiliki jiwa yang bersih, polos, dan apa adanya. Dialah Sukosarono, seorang yang keberadaannya di dunia tidak dikehendaki orangtuanya dan harus diasingkan di sebuah huta. Namun, ia tidak sakit hati apalagi dendam. Bahkan, ia sangat sayang pada saudaranya yang memiliki fisik yang bagus serta wajah elok memesona, yaitu Bambang Sumantri.

Akhirnya, kedua saudara itu bersatu untuk menunjukkan darma bakti kepada negara. Secara fisik dan pengakuan, Bambang Sumantrilah yang berhasil memindahkan Taman Sriwedari. Namun sebenarnya, secara kenyataan adalah Sukosaronolah yang nyata-nyata berhasil menjalankan tugas. Di sini jelas bahwa antara Bamdang Sumantri dan Sukosarono merupakan satu jiwa dalam keberhasilan.


Nah, sekarang kembali ke Geopark Gunung Sewu, dengan kerja keras dari berbagai elemen, akhirnya pada 19 September 2015, Geopark Gunung Sewu dikukuhkan menjadi Geopark Global di antara 9 Geopark Global lainnya dari Cina, Siprus, Yunani, Islandia, Italia, Jepang, dan Spanyol. Gunung Sewu menjadi anggota Jaringan Geoprak Global ke-115 dari 120 Geopark Global yang tersebar di 33 negara di dunia. Bagaikan Taman Sriwedari, nantinya Geopark Global Gunung Sewu diharapkan bisa mendatangkan kemanfaatan, alam elok lestari dan kehidupan tertata rapi, harmoni. Lestari alam, kehidupan selamat sejahtera, benar-benar mewujud memayu hayuning bawana.(*)

Wonogiri, 21-11-2015
Kayon Edisi 02 Tahun 1 2015
Dari berbagai sumber

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Budaya - MEMAYU HAYUNING BAWANA (BAGIAN 2)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel