-->

Budaya - MEMAYU HAYUNING BAWANA (BAGIAN 1)

Budaya - MEMAYU HAYUNING BAWANA (BAGIAN 1)
Budaya - MEMAYU HAYUNING BAWANA (BAGIAN 1)
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - BUDAYA - Sahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa dengan taman budaya. Kali ini taman budaya menyajikan artikel berjudul Memayu Hayuning Bawana (Bagian 1). Artikel ini pernah dimuat di buletin Kayon Edisi 02 Tahun 1 2015.

MEMAYU HAYUNING BAWANA

(Bagian 1)

Oleh: Parpal Poerwanto

Memayu hayuning bawana. Falsafah hidup yang diperkenalkan oleh pujangga besar Ronggowarsito ini sangat populer di kalangan masyarakat Jawa. Kata memayu berasal dari kata hayu/ayu yang berarti cantik, indah atau selamat dengan mendapat awalan ma menjadi mamayu yang berarti mempercantik, memperindah atau menjadikan keselamatan. Hayuning berasal dari kata hayu/ayu dengan mendapatkan kata ganti kepunyaan ning (nya) yang berarti cantiknya, indahnya atau selamatnya (keselamatannya). Apabila kedua kata tersebut dirangkai menjadi memayu hayuning berati memiliki makna mengusahakan suatu kecantikan, keindahan/kebaikan dan keselamatan (kebahagian/kesejahteraan). Sedangkan kata bawana berarti dunia atau bumi. Jadi, memayu hayuning bawana berarti kita berkewajiban untuk selalu mempercantik, memperindah dan menyelamatkan hidup dan penghidupan yang serba baik dan indah, semua yang ada di bumi ini.

Menurut Suryo S, Negoro, memayu hayuning bawana diinterpretasikan sebagai melakukan hal yang benar demi keselamatan dan kesejahteraan dunia beserta seluruh isinya. Menurutnya, bahwa persepsi orang Jawa dunia ini cantik, indah, dunia ini sendii sebagai alam adalah bagus, berguna untuk manusia dan makhluk-makhluk hidupnya. Oleh karena itu harus diperlakukan, dijaga, dan dilindungi dengan cara yang paling baik.

Pertanyaannya, siapa yang melakukan semua itu? Jawabnya tentu manusia! Sebagai khalifah di muka bumi, Tuhan memberi otoritas bagi manusia untuk mengolah dan memanfaatkan bumi dan seisinya, jangan sampai merusak bumi dan isinya itu sendiri. Sebab, dengan merusak bumi dan isinya berarti akan menciptakan bencana yang pada gilirnya akan merusak manusia itu sendiri.

Manusia tidak boleh melupakan bahwa keberadaannya di muka bumi tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan bumi itu sendiri. Untuk itu, sudah semestinya manusia sadar bahwa mereka mempunyai tanggung jawab moral untuk melestarikan keselamatan bumi, sehingga terjadi sinergi saling ketergantungan yang membawa kebaikan, kesejahteraan hidup di dunia.

Budiono Herusatoto menyatakan bahwa tradisi dan tindakan orang Jawa selalu berpegang kepada dua hal, yaitu pertama, kepada filsafat hidupnya yang religius dan mistis. Kedua, pada etika hidup yang menjunjung tinggi moral dan derajat hidup. Hal ini juga berlaku dalam memperlakukan alam atau bumi yang mereka wujudkan dalam salah satu ajaran yaitu Asta Brata yang diwujudkan dengan simbol-simbol: wanita, garwa, wisma, turangga, curiga, kukila, waranggana, dan pradangga. 


Wanita atau wanodya kang puspita, wanita nan cantik jelita, merupakan simbol kecantikan yang luar biasa. Keindahan itu hendaknya tidak tersirat pada luarnya saja tetapi ada dalam jiwa dan budinya. Keindahan wanita sempurna adalah simbol cita-cita manusia. Untuk meraih cita-cita mulia tentunya manusia harus berusaha sekuat tenaga untuk belajar, bekerja, dan berusaha, tanpa kenal lelah dan putus asa. Wanodya kang puspita disebut juga juwita, yang berarti sarju wani ing tata, selalu membela kebenaran atau pantang menyerah.

Garwa atau sigaraning nyawa, berati seorang suai-istri itu merupakan satu-kesatuan jiwa. Satu jiwa dua raga. Simbol ini menyimpan pesan bahwa hendaknya setiap orang dapat bersatu dengan lingkungan, saudara, tetangga, dan masyarakat. Hidup di masyarakat harus saling mengasihi satu sama lain, rukun, dan damai.

Wisma atau rumah, merupakan tempat kediaman keluarga. Rumah tidak pernah protes terhadap siapa dan apa yang menempatinya. Hal ini perlu dicontoh bagi manusia untuk tidak membeda-bedakan cintanya kepada siapa, sesama manusia, kepada hewan, kepada tumbuhan, dan juga kepada bumi yang diinjaknya.

Turangga (tetumpaking para punggawa) atau kuda. Kuda merupakan simbol kekuatan,kejantanan, kegagahan tetapi bisa dikendalikan oleh penunggangnya. Di sini manusia akan sadar bahwa fisik, panca indera, dan nafsu mesti dikendalikan oleh jiwa dan budi luhur manusia.

Sahabat, terima kasih atas ampirannya. Sampai jumpa di Memayu Hayuning Bawana (Bagian 2).

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Budaya - MEMAYU HAYUNING BAWANA (BAGIAN 1)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel