-->

Legenda - CEMPURUNG - KI AGENG DONOLOYO # 13

Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 13
Legenda - CEMPURUNG # KI AGENG DONOLOYO # 13
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - LEGENDA - Sahabat Taman Tembang dan Sastra, jumpa kembali dengan taman legenda (cerita rakyat). Kali ini masih melanjutkan kisah Cepurung Ki Ageng Donoloyo, yakni pada bagian ke-13. Legenda ini menceritakan terjadinya Alas Donoloyo di Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

CEMPURUNG

KI AGENG DONOLOYO # 13

Oleh: Parpal Poerwanto

Lain yang dibucarakan. Waktu itu, di Kasultanan Demak Bintoro tengah diadakah musyawarah mengenai rencana pembangunan masjid agung. Semua wali songo hadir. Musyawarah memutuskan bahwa setiap wali diwajibkan mencari tiang penyangga utama masjid. Tiang penyangga itu haruslah dari kayu jati yang umurnya sudah tua, besar ukurannya serta lurus dan panjang.

Seperti wali lainnya, Sunan Giri segera melaksanakan tugas. Arah yang dituju adalah daeraj Jawa bagian selatan. Berhari-hari Sunan Giri keluar masuk hutan menembus berbagai rintangan. Sampailah Sunan Giri di suatu daerah yang penuh hutan dan pegunungan.


Sepanjang perjalanan, Sunan Giri selalu diikuti gerak-geriknya oleh seseorang. Namun, orang tersebut dibiarkan saja oleh Sunan Giri. Sunan Giri malam suka bercanda dengan orang yang membuntutinya. Kadang-kadang Sunan Giri lari atau sembunyi. Melihat buruannya lari, orang yang membuntuti segera mengejar. Begitu juga ketika Sunan Giri sembuyi, orang itu berusaha mencarinya sampai ketemu. Anehnya, ketika Sunan Giri berusaha untuk menatap wajahnya, orang tersebut segera menyembunyikan wajahnya.

Suatu hari, Sunan Giri sudah berdiri di atas bukit di atas Bengawan Solo. Bukit itu sebenarnya tidak terlalu tinggi. Namun, orang-orang di wilayah itu mengatakan dengan sebutan gunung.

Setiap hari banyak orang yang mencari kayu bakar atau rumput pakan ternak di bukit tersebut. Sunan Giri istirahat di bawah sebuah pohon yang rimbun daunnya. Orang yang membuntuti berada tidak jauh dari tempat itu.

Lama kelamaan, Sunan Giri merasa terganggu juga oleh ulah orang tersebut. Karenanya, ditancapkannya tongkat miliknya ke tanah. Selanjutnya berdoa kepada Allah agar dirinya bisa melaksanakan tugas dengan baik. Allah mengabulkan, Sunan Giri berhasil mengelabuhi orang itu. Menurut pandangan orang itu, Sunan Giri masih duduk di dekat tongkatnya. Sebenarnya, yang terjadi adalah Sunan Giri telah melanjutkan perjalanannya ke arah timur.

Sunan Giri tidak mengikuti arah hulu Bengawan Solo. Diambilnya arah sungai yang lebih kecil yaitu Sungai Keduang. Selama perjalanan Sunan giri merasa heran dalam hati. Sepanjang jalan yang disaksikan hanyalah hutan dan pegunungan.


Langkah Sunan Giri sudah sampailah di suatu hutan jati yang teramat luas. Pohon-pohonya besar dan lurus-lurus. Sunan Giri sangat gembira melihatnya. Berarti sebentar lagi tugasnya akan berhasil. Namun, tiba-tiba Sunan Giri merasa bimbang dalam hati. Jangan-jangan si pemilik hutan tidak mengizinkannya.

Sunan Giri segera mencari si pemilik hutan. Sudah setengah hari Sunan Giri mencari di mana si pemilik hutan tinggal. Rasa capai dan lapar tidak dirasakan. Hampir saja Sunan Giri menyerah. Namun, semangatnya kembali timbul ketika tidak jauh dari tempatnya berdiri ada sebuah pondok. Pondok itu hanyalah kecil, tetapi tertata rapi dan bersih. Sunan Giri segera mendekat ke pondok tersebut.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh...!" Sunan Giri mengucap salam. namun, tidak ada yang menjawabnya. Sunan Giri mengulang lagi salamnya sambil mengetuk pintu pondok. Kemudian dari dalam si empunya pondok membuka pintu.
"Mencari siapa Kisanak?" bertanyalah si empunya pondok.
"Maafkanlah aku jika mengganggu Kisanak. Sebelumnya, bolehkan aku bertanya?" Sunan Giri balik bertanya.

"Apa Kisanak tersesat?"
"Tidak, Kisanak. Aku hanya ingin bertanya siapakah gerangan yang memiliki hutan jati seluas ini?" tanya Sunan Giri.
"O, itu yang ditanyakan. Sebelum kujawab, sebaiknya masuk dulu. Maaf keadaannya seperti ini."
"Seharusnya yang meminta maaf justru aku. Karena telah merepotkan Kisanak," kata Sunan Giri setelah duduk berhadapan di sebuah balai.

"Oh ya, sebelum kujawan pertanyaan tadi, tentu tidak ada salahnya jika aku ingin tahu siapa Kisanak sebenarnya, bukan?"

"Kisanak, sekali lagi maafkan aku telah lancang kemari," kata Sunan Giri. Selanjutnya berkata lagi, "Aku adalah Giri dari Demak Bintoro..."


Belum selesai Sunan Giri bicara, orang tersebut kemudian turun dari balai dan akan menghaturkan hormat. Namun, dicegah oleh Sunan Giri.
"Kita adalah sama-sama hamba Allah, Kisanak. Tidak ada manusia yang lebih mulia di hadapan Gusti Allah kecuali iman dan amal kita," jawab Sunan Giri.

Sahabat, terima kasih atas kunjungannya. Nantikan seri ke-14, ya! Sampai jumpa.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - CEMPURUNG - KI AGENG DONOLOYO # 13"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel