-->

Legenda - Sendang Siwani

Legenda - Sendang Siwani
Legenda - Sendang Siwani
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - LEGENDA - Sahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan taman legenda. Kali ini akan disajikan salah satu legenda yang berkaitan dengan Pengeran Sambernyowo dalam perjuangannya melawan Belanda, yakni Sendang Siwani.

Cerita ini memberi pelajaran kepada kita bahwa perjuangan itu membutuhkan ketabahan, kesabaran, dan tidak mudah menyerah.

LEGENDA SENDANG SIWANI

Oleh : Parpal Poerwanto

Sudah beberapa bulan Pangeran Sambernyowo meninggalkan Sukowati. Sejak kepergian itu sampai sekarang belum ada kabar beritanya. Hal ini membuat para ponggawa di Nglaroh sangat mengkhawatirkannya. Lebih-lebih neneknya, Bendoro Raden Ayu Kusumonarso. Sang nenek sangat prihatin dan senantiasa berdoa atas keselamatan cucunya.

Sementara itu, di bawah sinar bulan purnama, banyak anak yang sedang bermain. Para orang tua sibuk sekali. Maklum, malam itu akan diadakan pentas wayang kulit. Pentas tersebut dimaksudkan untuk menghibur para laskar dan masyarakat Mantenan Nglaroh sendiri. Dalang yang dipercaya adalah Ki Dalang Ponco Sukarno. Ia seorang dalang yang terkenal di Mantenan dan sekitarnya.

Sehabis isyak orang-orang berdatangan ke tempat pentas. Gamelan sudah mulai ditabuh. Tiba-tiba, orang-orang yang tengah mencari tempat duduk untuk menyaksikan pentas wayang kulit dikejutkan suara sorak-sorai dari ujung desa. Ternyata Pangerang Sambernyowo beserta pengawalnya datang. Semua rakyat gembira menyambut dan menyampaikan ucapan selamat atas  kedatangan Pangeran Sambernyowo. Suasana saat itu semakin semarak dengan kehadiran Pangeran Sambernyowo.

Pentas wayang kulit pun dimulai. Sebelumnya, didahului upara dan doa bersama yang dipimpin oleh Kiai Nur Iman. Dijelaskan, tujuan diadakannya pentas wayang kulit bitu pertama untuk menghibur rakyat. Kedua, sebagai ajak komunikasi dan silaturahim antarwarga, dan ketiga sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Mahakuasa.

Pada tengah malam, ketika Pangeran Sambernyowo menikmati pentas wayang kulit, dilihatnya ada seorang putri cantik yang duduk dekat kelir bersama teman-temannya. Perhatian Pangeran Sambernyowo kemudian beralih kepada putri cantik tersebut. 

Belum sempat berkenalan, putri itu tertidur bersama teman-teman lainnya. Pangeran Sambernyowo mendekat lalu memberikan tanda pada kain yang dipakai putri cantik tersebut dengan sulutan rokok. Kemudian Pangeran Sambernyowo pulang untuk beristirahat. Namun, bukan tidur yang didapat malahan wajah cantik putri selalu terlihat jelas di pelupuk mata.


Keesokan harinya, Pangeran Sambernyowo memanggil Kiai Nur Iman.
"Maaf Pangeran, ada kewajiban apa Pengeran memanggil saya?"
"Ki Ageng. Tadi malam saya melihat ada seorang putri yang kainnya berlobang karena rokok. Untuk itu carilah siapa sebenarnya putri tersebut!" 
"Siap Pangeran, saya akan segera mencarinya."

Kiai Nur Iman segera mencari siapa remaja putri yang kainnya berlobang karena rokok. Namun, betapa terkejutnya ketika ternyata putri tersebut adalah anaknya sendiri.
"Gusti Pangeran Sambernyowo pasti akan marah melihat seorang putri yang pakaiannya berlubang karena rokok. Pasti akan mengira bahwa anaknya perokok atau setidaknya bergaul dengan orang yang perokok." Demikian kata hati Kiai Nur Iman. Namun, Kiai Nur Iman tetap melaporkan kepada Pangeran Sambernyowo.

"Gusti Pangeran, sebelumnya saya mohon maaf. Ternyata putri tersebut adalah anak saya sendiri." Kata Kiai Nur Iman dengan perasaan takut bukan kepalang.
"Apa Ki Ageng, saya kurang jelas!"
"Putri tersebut anak saya sendiri."
"Wah kebetulan kalau begitu. Saya tidak perlu jauh-jauh mencarinya.
"Maaf Pangeran, saya kurang mengerti maksud Pangeran."
"Ki Ageng, meskipun saya tutupi nanti juga akan ketahuan. Saya minta maaf sebab yang melubangi kain putri Ki Ageng adalah saya sendiri."

Kiai Nur Iman mengerutkan jidatnya.
"Sebenarnya apa maksud Pangeran, saya semakin bingung."
"Tidak perlu bingung, Ki Ageng. Terus terang saja, jika tidak keberatan dan diizinkan saya berharap putri Ki Ageng menjadi pendamping hidup saya untuk selamanya."

Kiai Nur Iman tidak menjawab. Ia merenung, kemudian minta penjelasan dari Pangeran Sambernyowo.
"Pangeran, apakah saya tidak sedang bermimpi? Apakah yang diucapkan Pangeran itu benar? Kalau benar apa yang dikatakan Pangeran, saya mengucapkan banyak terima kasih. Hanya saja...."
"Hanya saja apa, Ki Ageng?"
"Apa Bendara Raden Ayu Kusumonarso berkenan?"
"Masalah ini tentu akan saya mintakan saran dan pertimbangan kepada Eyang Putri."

Singkat cerita, Bendara Raden Ayu Kusumonarso merestui. Pada hari yang telah ditentukan, Pangeran Sambernyowo resmi menjadi suami Raden Ayu Patah Hati (Matahati). Raden Ayu Patah Hati merupakan keturunan Sultan Pajang, Sultan Hadiwijoyo, yakni keturunan kelima.

Pada suatu hari, Pangeran Sambernyowo bersama istrinya keluar rumah untuk melihat-lihat suasana. Di Desa Mantenan terdapat sebuah tanah lapang yang digunakan untuk menggembalakan ternak. Sepasang pengantin baru itu singgah di tanah lapang tersebut. Mereka menyaksikan berbagai hewan, seperti kerbau, sapi, dan kambing sedang makan rumput. Para gembala tengah asyik dengan mainan masing-masing. Ada yang bermain kejar-kejaran, ada yang memainkan seruling merdu sekali.

Ketika sedang asyik-asyiknya memperhatikan anak-anak gembala, Pangeran Sambernyowo dikejutkan oleh seekor kerbau jantan berlari kencang menghindar dari kejaran kerbau jantan lainnya. Kedua kerbau itu ternyata tengah berlaga. Kerbau jantan yang kalah itu lari ke sbuah sumber air dan meminum airnya. Anehnya, kerbau yang minum air itu jadi berani menghadapi lawannya kembali.

Kedua kerbau itu kembali berlaga. Mereka saling menerjang, menanduk, dan mendorong. Lagi-lagi kerbau yang kalah tadi kehabisan tenaga. Kemudian berlari lagi dan minum air sumber sehingga timbul keberanian (wani) menghadapi lawannya. Begitu sampai berulang kali, dan akhirnya kerbau yang semula kalah menjadi menang.

Peristiwa itu menjadikan pelajaran bagi Pangerang Sambernyowo. Dalam suatu perjuangan, kita harus tabah dan jangan mudah menyerah. Setiap kali kalah, kita harus bangkit dan menyusun kekuatan baru dengan semangat baru pula. Seperti yang dilakukan kerbau jantan setiap kali kalah dan kehabisan tenaga, selalu minum air sumber yang menimbulkan keberanian (wani) untuk bertarung lagi.

Pengeran Sambernyowo memahami peristiwa itu sebagai isyarat bahwa perjuangannua kelak akan membutuhkan ketabahan, kesabaran, dan semangat yang kuat serta tidak mudah putus asa. Hanya dengan jalan itulah sebuah perjuangan akan berhasil.

Untuk mengingat peristiwa itu, Pangeran Sambernyowo mengatakan kepada istrinya.

"Apa yang dilakukan oleh kerbau jantan yang semula kalah berlaga itu sangat menarik perhatian saya. Kerbau yang semula kalah dan kehabisan tenaga, setiap kali minum air sumber itu kekuatannya pulih dan timbul keberaniannya untuk memenangi pertarungan. Untuk mengingat peristiwa dan sebagai saksi perjuangannku di Nglaroh, sumber ini kelak akan menjadi sendang dan saya beri nama Sendang Siwani."

"Pangerang, saya sebagai saksi bahwa sumber ini dinamakan Sendang Siwani, " kata Raden Ayu Patah Hati.


Berita keberadaan Sendang Siwani dan peristiwa kerbau bertarung tersebar luas. Konon, sejak peristiwa itu laskar Sambernyowo selalu minum air sendang tersebut sebelum maju perang.(*)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - Sendang Siwani"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel