-->

Legenda - Buaya Kedung Depis # Meninggalkan Istana

Legenda - Buaya Kedung Depis # Meninggalkan Istana
Legenda - Buaya Kedung Depis # Meninggalkan Istana
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - LEGENDA - Sahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa dengan taman legenda. Taman legenda kali menyajikan sebuah cerita rakyat berjudul Buaya Kedung Depis bagian Meninggalkan Istana. Selamat menikmati.

BUAYA KEDUNG DEPIS

MENINGGALKAN ISTANA

Oleh: Parpal Poerwanto

Pajang tinggal kenangan. Matahari seolah-olah enggan menampakkan sinarnya. Debu-debu beterbangan di mana-mana. Asap mengepul, apinya memberangus tanpa sisa. Hampir semua bangunan hancur rata dengan tanah. Sebagian lagitelah hangus menjadi arang. Di sana-sini banyak bangkai hewan tunggangan untuk perang. Tak terhitung lagi berapa nyawa yang hilang percuma. itulah gambaran akhir perang antara Pajang dan Mataran yang tidak seimbang.

Melihat situasi yang tidak memungkinkan, ada beberapa putra Pajang yang berniat meloloskan diri dari kejaran musuh. Di antara putra-putra Pajang tersebut adalah Raden Irapati, Raden Kencana, dan Raden Sungging. Mereka beserta segenap anak istrinya bertekad untuk emingglkan Pajang demi kelasngsungan hidup.

Tengah malam mereka meninggalkan reruntuhan istana bersama anak-istri. Arah yang dituju adalah timur, mengikuti aliran Bengawan Semanggi.


Iring-iringan berjalan dalam gelap gulita. Tanpa suara dalam keadaan masih berduka, mereka rela meninggalkan kehidupan yang selama ini dinikmati. Mereka menembus hutan tanpa lentera tanpa penerang.

Ketika pagi telah membuka hari, mereka masih di dalam hutan.
"Kita istirahat di sini. Tempat ini saya rasa aman, jauh dari kejaran musuh," ajak Raden Kencana. Rombongan berhenti. Ada yang menggelar tikar untuk duduk dan rebahan. Ada yang menyajikan sisa-sisa bekal untuk dimakan guna membunuh hawa dingin di pagi itu.

Setelah beberapa waktu istirahatat, perjalanan diteruskan kembali. Hutan belukar tidak menjadi penghalang bagi mereka.

Menjelang sore rombongan putra Pajang telah sampai di wilayah Mantingan sebelah timur laut Sukowati. Di tempat itu Raden Kencana mengajak untuk istirahat kembali.
"Dimas, kita istirahat dulu di tempat ini. Kasihan anak-anak."
"Baiklah Kanda, mari kita menginap di rumah penduduk!" usul Raden Sungging.

"Dimas Sungging, meskipun kita ini dilepas oleh adangan prajurit Mataram, belum tentu aman. Sebab, Dimas dengan sendiri alasan prajurit Mataram yang mengadang dan melepas kita kemarin itu hanyalah atas dasar kemanusiaan. Hal ini belum tentu berkenan di hati Danang Sutowijoyo yang sekarang telah menjadi raja. Apabila raja kurang berkenan dan mengetahui jejak kita tentu akan utusan prajurit untuk mengejarnya. Jadi, sebaiknya kita bermalam di hutan saja. Kita buat barak seadanya. Di daerah ini banyak pohon kelapa yang bisa kita gunakan untuk mendirikan barak untuk bermalam dan istirahat beberapa hari."

Mereka sepakat untuk membuat barak peristirahatan. Anak-anak istirahat sambil menikmati indahnya alam sekitar. Sedangkan para ibu sibuk memasak. Barak selesai tengah hari. Begitu juga msakan telah tersedia. Mereka makan bersama-sama, lahap sekali. Mungkin baru kali ini selama perjalanan mereka merasakan makan yang nikmat. Mungkin karena benar-benar kelaparan atau mereka merasa nyaman di tempat itu.


Mereka istirahat di tempat itu selama sepekan. Selanjutnya mengadakan perjalanan lagi. Kali ini perjalanan terasa lebih ringan. Anak-anak mereka tidak rewel seperti ketika baru meninggalkan istana. Apalagi ketika melihat pemandangan sepanjang Bengawan Semanggi yang indah dan alami. Pemandangan seperti itu belum pernah mereka lihat selama ini. Tidak terasa haripun mulai sore. Mereka kembali membuat barak untuk menginap malam itu. Keesokan harinya melanjutkan perjalanan lagi sampai menemukan tempat yang dirasa cocok. (bersambung).

Sahabat, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa lagi dengan legenda Buaya Kedung Depis pada seri Perjalanan yang Berat.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - Buaya Kedung Depis # Meninggalkan Istana"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel