-->

Legenda - Buaya Kedung Depis 2 # Perjalanan yang Berat

Legenda - Buaya Kedung Depis 2 # Perjalanan yang Berat
Legenda - Buaya Kedung Depis 2 # Perjalanan yang Berat
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - LEGENDA - Sahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa lagi dengan taman legenda (cerita rakyat). Kali ini akan melanjutkan legenda Buaya Kedung Depis bagian 2 yakni Perjalanan yang Berat. Selengkapnya sebagai berikut.

BUAYA KEDUNG DEPIS (2)

PERJALANAN YANG BERAT

Oleh: Parpal Poerwanto

Perjalanan kali ini terasa lebih berat. Mereka harus melewati hutan yang luas. Di sana-sini masih banyak onak berduri. Raden Irapati berjalan paling depan sambil membuat jalan setapak sehingga bisa dilalui. Di belakangnya Raden Kencana disusul ibu-ibu dan anak-anak. Sedangkan paling belakang adalah Raden Sungging. Tibalah mereka di lereng sebuah perbukitan. Tepatnya di sbeleah timur laut Kadipaten Bojonegoro.

"Kita istirahat dulu, Dimas," usul Raden Kencana.
"Baiklah, mari istirahat di bawah pohon trembesi itu!" Raden Irapati menyetujui. Sambil istirahat mereka menikmati bekal yang masih tersisa. Ya, benar-benar yang masih tersisa sebab bekal itu tinggal untuk yang terakhir kalinya.

"Perbekalannya sudah habis, Kanda," kata istri Raden Sungging ketika menyajikan makanan.
"Habis?" sahut Raden Kencana.
"Ini yang terakhir."
"Bagaimana Dimas Irapati?" tanya Raden Kencana.
"Kita tidak mungkin melanjutkan perjalanan, Kanda. Mungkin kita sebagai orang tua kuat bertahan untuk beberapa jauh lagi. Namun, bagaimana dengan anak-anak kita?"
"Betul Dimas. Mereka masih kanak-kanak. Lagi pula tidak terbiasa melakukan perjalanan seberat ini."
"Bagaimana kalau kita tinggal di lereng bukit ini saja, Kanda?" usul Raden Irapati.

Raden Kencana dan Raden Sungging saling pandang seolah sama-sama minta persetujuan. Tidak lama kemudian Raden Kencana menyampaikan pendapatnya.
"Usulmu bagus, Dimas. Perbukitan ini cukup subur. Saya yakin kelak akan menjadi sebuah desa yang ramai."

Untuk sementara, mereka membuat tempat peristirahatan berupa barak dari daun aren. Sebagai kerangkanya ditebanglah bambu wulung yang tumbuh tidak jauh dari tempat itu.

Malam harinya, rombongan itu bisa tidur lelap kecuali ayah-ayah mereka, yaitu Raden Kencana, Raden Irapati, dan Raden Sungging. Ketiga mantan pangeran dari kerajaan Pajang itu tetap siaga menjaga keluarga mereka. Tidurnya giliran. Satu tidur yang dua jaga begitu seterusnya.


Setelah sepekan menetap di tempat itu, untuk selanjutnya para putra Pajang itu merencanakan akan membuat rumah sederhana. Raden Kencana memotong bambu wulung yang besar-besar dan panjang-panjang. Raden Irapati menebang kayu jati untuk kerangka rumah. Sedangkan Raden Sungging mencari daun aren. Daun-daun aren itu dianyam sedemikian rupa menjadi atap rumah yang bisa menahan panas dan hujan. Tiga hari sudah berdiri sebuah kerangka rumah sederhana.


"Kita membuat kerangka rumah lagi, Kanda?" tanya Raden Sungging.
"Lebih baik kita selesaikan satu rumah terlebih dahulu. Yang penting ank-istri kita bisa istirahat di tempat yang cukup aman. Selanjutnya kita membuat rumah lagi sesuai jumlah keluarga kita, yaitu tiga rumah," terang Raden Kencana.

"Betul, Dimas. Kita harus selesaikan satu rumah ini. Kita butuh tempat untuk istirahat yang layak," Raden Irapati ikut bicara.

Selanjutnya, tanpa mengenal lelah mereka membuat rumah yang dapat digunakan untuk istrirahat yang nyaman bagi keluarganya. Bagia mereka, keluarga adalah harta yang tak ternilai harganya.

Sahabat, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa dengan Buaya Kedung Depis edisi 3, yakni Desa Banjarsari.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - Buaya Kedung Depis 2 # Perjalanan yang Berat"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel