-->

LEGENDA SEMBADAKARYA

LEGENDA SEMBADAKARYA
LEGENDA SEMBADAKARYA

TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - LEGENDA - Legenda Sembadakarya menceritakan asal mula suatu tempat yaitu Sembadakarya. Legenda Sembadakarya memberi pelajaran kepada kita bahwa manusia harus rajin berusaha dan berkarya. Karena, hanya dengan rajin berusaha dan berkarya akan tercukupi semua kebutuhan hidupnya. Untuk selengkapnya sila simak cerita berikut.

LEGENDA SEMBADAKARYA

Oleh: Parpal Poerwanto

Dahulu kala ada seorang sultan yang bernama Sultan Kamboja yang dikenal dengan nama Pangeran Atas Angin Khalifatullah. Ia mempunyai empat orang istri.
Dari istri ke empat yang berasal dari Kerajaan Blambangan menurunkan Raden Paku yang kemudian bergelar Sunan Giri yang menjadi raja di Giri Gajah. Ia memiliki empat orang anak. Anak yang pertama bernama Pangeran Prapen yang bergelar Prabu Joko. Anak kedua bernama Pangeran Giri Wasiyat. Anak ketiga bernama Pangeran Giri Pit. Sedangkan yang keempat putri bernama Nyai Sekati.
Prabu Satmaka alias Sunan Giri menginginkan agar para anaknya berperan aktif menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Para anaknya dididik untuk dapat melaksanakan tugas dakwah dengan baik. Diajarkannya teknik-teknik dakwah yang efektif sebagaimanan dilaksanakan oleh para wali. Mereka didambakan menjadi insan mandiri yang tidak selalu menggantungkan diri pada orang tua.
Setelah dewasa dan memiliki pengetahuan yang cukup, Sunan Giri memanggil keempat anaknya, yaitu Pangeran Prapen, Pangeran Giri Wasiyat, Pangeran Giri Pit, dan Nyai Sekati.
"Anak-anakku, kalian sudah dewasa. Ilmu agama yang kalian miliki juga sudah cukup. Untuk itu, agar ilmu yang kalian miliki bermanfaat, maka jangan takut capai dan lapar. Sekarang juga bersiaplah untuk berdakwah menyebarkan agaman Allah kepada sesama."
"Baik Rama, ananda siap menjalankan tugas. Namun, perkenankan ananda tanya, daerah mana yang harus ananda tuju?" tanya Pangeran Giri Wasiyat.
"Menurut Rama, kalian  berdakwah di tanah Jawa bagian tengah."
Setelah berpamitan dan minta restu, berangkatkan anak-anak Sunan Giri itu ke arah barat melaksanakan tugas mulia ayahandanya. Sampailah mereka di suatu daerah di lembah Sungai Serayu yaitu daerah Bajarnegara dan sekitarnya.
Konon mereka  sempat singgah di padepokan Selamanik yang letaknya di sebelah barat kota Banjarnegara. Di sana mereka berbincang-bincang dan bekerja sama dalam menyebarkan agama Islam.Dari padepokan ini kemudian mereka menyeberang Sungai Serayu menuju ke sebelah barat Suangai Merawu. Setelah menyusuri pinggiran Sungai Merawu, sampailah mereka di Desa Banjaranyar di Pekuncen dan terus ke padepokan Kiai Ageng Maliu. Cukup lama mereka singgah di padepokan Kiai Ageng Maliu. Bahkan, Pangeran Giri Pit sempat mengadakan pernikahan antara salah satu anaknya dengan Kiai Ageng Maliu. Namun, setelah waktunya dirasa cukup, mereka segera  akan melanjutkan tugasnya yaitu menyebarkan agama Islam. Selanjutnya Pangeran Giri Wasiyat dan saudaranya berpamitan kepada Kiai Ageng Maliu.
"Kami akan meneruskan tujuan yaitu menyebarkan agama Islam. Untuk itu, perkenankan kami mohon diri."
"Paman, ananda hanya bisa berdoa semoga tugas Paman, Rama mertua, Paman Prapen, dan Bibi  selalu mendapat ridha dari Allah," jawab Kiai Ageng Maliu kepada orang-orang yang dihormatinya itu.
Para putra Sunan Giri segera melanjutkan pekelanaannya ke arah barat. Sejak saat itu sebutan pangeran diganti dengan sebutan sunan mengikuti sebutan ramandanya di Gresik.
Sampailah di daerah Sembada, tempat Kiai Mertadiwangsa mendirikan padepokan. Seperti di padepokan Banjar, Sunan Giri Wasiyat dan saudaranya diterima dengan baik oleh Kiai Mertadiwangsa. Padepokannya terletak di pinggir Kali Kacangan. Sunan Giri Wasiyat sangat tertarik akan kehidupan padepokan dan rakyat Semabda yang rajin bekerja. Tidak ada satu pun warga yang suka malas-malasan. Dengan rajin bekerja dan berkarya, maka pendapatan warga meningkat sehingga kesejahteraan hidupnya semakin baik. Konon Sunan Giri Wasiyat terkesima dengan semangat warga di desa tersebut.
"Kiai Mertadiwangsa, sepanjang perjalanan saya melihat warga sini baik tua-muda, laki-laki maupun perempuan selalu rajin bekerja," ujar Sunan Giri Wasiyat.
"Betul Njeng Sunan, bisa dikatakan tidak satu pun warga sini yang malas bekerja. hasilnya nyata, dea sini tidak pernah kekurangan pangan. Bahkan, ketika daerah lain dilanda masa paceklik, tidak untuk desa ini. Desa ini selalu memiliki cadangan makanan yang cukup yang disimpan di dalam lumbung," jawab Kiai Mertadiwangsa. Sunan Giri Wasiyat manggut-manggut mendengar jawaban itu. Demikian juga dengan Sunan Giri Pit, Sunan Prapen,dan Nyai Sekati.
Selanjutnya Sunan Giri Wasiyat berkata lagi. "Apa nama desa ini, Kiai?"
"Desa Sembada, Njeng Sunan."
"Sembada? Sebuah nama yang baik. Kiai, apabila dizinkan saya akan menambahkan karya pada nama tersebut. Jadinya Sembadakarya."
"Sembadakarya, Njeng Sunan? Wah, cocok dengan karakter orang-orangnya yang sembada menjalani hidup."
"Betul, Kiai. Nama tersebut memang cocok untiuk sebutan desa ini karena warganya yang rajin dan mampu berkarya untuk emenuhi kebutuhan hidup."
Demikian, sejak saat itu Desa Sembada berubah nama menjadi Semabdakarya. Sebagaimana telah dikisahkan, bahwa Sunan Giri Wasiyat akhirnya bermukim di Desa Sembadakarya (Badakarya) dan menjadi pemimpin pondok pesantren dengan nama Kiai Ageng Giri Wasiyat. Kelak keturunan Sunan Giri Wasiyat beserta para ulama besar lainnya banyak yang menajdi pejabat tinggi di kabupaten Banyumas. (Parpal Poerwanto).

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "LEGENDA SEMBADAKARYA"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel