-->

LEGENDA ASAL MULA BANJARNEGARA

LEGENDA ASAL MULA BANJARNEGARA
LEGENDA ASAL MULA BANJARNEGARA
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - LEGENDA - Legenda ini menceritakan asal mula Banjarnegara yang berasal dari kata banjar yang berarti sawah/tempat yang luas dan negara yang berarti kota. Cerita ini memberi pelajaran kepada kita bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memperhatikan kehidupan rakyatnya, senantiasa dicintai rakyatnya pula. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

ASAL MULA BANJARNEGARA

Oleh: Parpal Poerwanto

Kota Banjarnegara mungkin belum terkenal seperti kota-kota lain di Jawa Tengah. Kota Banjarnegara terletak di antara Kota Wonosobo di sebelah timur dan Kota Purbalingga di sebelah barat. Sebelah selatan berbatasan dengan Kota Kebumen dan di sebelah utara berbatasan dengan Kota Batang dan Pekalongan.
Adalah seorang tokoh agama kharismatik yang sangat dihormati. Tokoh tersebut masih muda bernama Kiai Maliu. Sudah berhari-hari Kiai Maliu menyusuri hutan, gunung, dan lembah. Namun, tempat yang dicari belum ditemui. Rasa lelah dan haus tidak dihiraukan. Hanya satu yang dicari, yaitu suatu tempat yang cocok untuk mendirikan sebuah pondok.
Sampailah Kiai Maliu di suatu tempat yang menarik hatinya. "Keindahan alam sekitar Kali Merawu ini sangat mengesankan. Apa ini tempat yang saya cari selama ini?" demikian hatinya bertanya.
Tanah di sekitar Kali Merawu berundak dan berbanjar sepanjang aliran sungai. Di sekitarnya berdiri pegunungan Kendeng yang indah dan berhawa sejuk. Maka, segera dibangunnya pondok yang indah menghadap Kali Merawu. Tempat itu sekarang berada di sekitar jembatan Clangap.

Kiai Maliu berperangai baik dan jujur. Selain itu ia juga tekun bekerja dan berdisiplin tinggi. Karenanya, ia sangat berwibawa dan disegani banyak orang. Tidak mengherankan kalau segala perilakunya menjadi anutan warga di sekitarnya. Waktu demi waktu terus berjalan dan akhirnya daerah sekitar pondok Kiai Maliu menjadi desa baru yang indah, bersih, dan teratur.

Pada suatu hari Kiai ageng Maliu mengumpulkan semua warganya di padepokannya.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan Saudara semua, terima kasih kalian sudi mendatangi undangan saya," berkatalah Kiai Maliu di hadapan warga yang diundangnya. Kemudian lanjutnya, "Apa kalian kerasan tinggal di tempat ini?"
Semua warga menjawab sudah betah dan nyaman tinggal di tempat baru tersebut.
"Baik, terima kasih. Namun, ada satu hal akan saya sampaikan kepada kalian."
"Sesuatu apa, Kiai?" tanya seorang warga.

"Kalian tahu tempat ini belum bernama. Nah, maksud undangan saya kepada kalian adalah untuk bermusyawarah menetapkan nama yang cocok untuk desa kita ini."
Kemudian musyawarah menentukan nama desa dilaksanakan. Banyak yang mengusulkan nama dengan alasan masing-masing. Karena banyak perdebatan, Kiai Maliu juga mengusulkan sebuah nama yaitu Banjar. Alasannya, selain tempatnya indah, tanah-tanahnya berundak dan berbanjar.
"Aku setuju, Kiai...." jawab seseorang.
"Aku juga setuju Kiai...." jawab yang lainnya hampir serempak.
Atas dasar musywarah warga hari itu juga, Kiai Maliu diangkat menjadi petinggi dan kemudian dikenal sebagai Kiai Ageng Maliu Petinggi Banjar.

Kiai Ageng Maliu terkenal sebagai pemimpin yang memiliki rasa asah, asih, dan asuh sehingga sangat dicintai oleh rakyatnya. Penduduk Desa Banjar sangat giat dalam bekerja disawah-sawah. Tidak heran kalau rakyatnya hidup makmur dalam hal sandang, pangan, dan papan.

Di bawah kepemimpinannya desa Banjar berhasil menjadi desa mandiri dan berswasemabada pangan. Bahkan, Desa Banjar pada saat itu sempat menjadi lumbung padi untuk daerah-daerah di sekitarnya.

Kehidupan beragama juga tumbuh dengan subur dan menjiwai segenap aspek kehidupan rakyatnya. Masjid selain digunakan sebagai tempat ibadah salat juga digunakan untuk bermusyawarah dalam memecahkan segala urusan desa. Muali dari menentukan kapan waktu yang cocok untuk menanam padi, perawatan, dan memanen. Semuanya dikerjakan dengan gotong-royong dan penuh rasa kekeluargaan.

Tidak heran kalau pada waktu itu Desa Banjar terkenal hingga luar daerah dan mengundang perhatian para ulama besar yang sedang melaksanakan dakwah Islam.
Suatu hari, datanglah tiga orang tamu ke pondok Kiai Ageng Maliu.

"Wa'alaikumsalam...." Kiai Ageng Maliu menjawab salam tamunya seraya menuju ke pintu. Dilihatnya tiga orang tamu yang dipastikan bukan berasal dari daerah Banjar. Cara berpakaian dan tutur katanya setidaknya bisa dijadikan alasan.
"Mari Kisanak, silakan masuk...!" ucap Kiai Ageng Maliu sambilmenjabat tangan ketiga tamunya satu per satu.
"Terima kasih kisanak telah menerima kami dengan baik. Oh ya, perkenalkan, saya adalah Giri Wasiyat dari Gresik. Sedangkan kedua ini adalah saudaraku, Kangmas Prapen dan Dimas Giri Pit. Kami bertiga adalah putra Rama Sunan Giri dari Gresik."
"Allahu akbar... saya kedatangan tamu agung rupanya...."
"Jangan berlebihan Kisanak. Saya sudah tahu bahwa Kisanaka petinggi desa ini. Santrai-santri yang belajar di pondok sangat banyak. Untukitu kami bertiga menyempatkan datang kemari untuk saling bertukan pengalaman."
"Jangan berkata begitu Pangeran. Kalau saya berani berdakwah itu hanya berbekal niat. Namun, saya yakin kalau Pangeran bertiga selain bekal niat juga telah memiliki ilmu agama yang mumpuni."
"Di mata Allah kita itu sama. Segala ilmu adalah milik Allah. Kita hanya dipinjami, itupun sangat terbatas. Namun demikian, jika ilmu yang sedikit ini diamalkan untuk orang lain, maka jadilah ilmu yang bermafaat, demikian Rama Sunan Giri pernah berwasiat menirukan sabda Nabi Muhammad."

Semenjak kedatangan tamu dari Gresik, hampir setiap malam diadakan pengajian umum. Rakyat Desa Banjar benar-benar merasa beruntung dapat menimba ilmu keagamaan secara luas dari seorang ulama besar secara langsung.

Kiai Ageng Maliu banyak bergru kepada Kiai Ageng Giri Wasiyat. Kiai Ageng Maliu sendiri adalah orang yang cerdas, jujur, disiplin, dan taat beribadah. Tidak heran kalau Kiai Ageng Giri Wasiyat sangat tertarik akan sikap terpuji Kiai Ageng Maliu, tuan rumah sekaligus santrinya itu.
Untuk memperkokoh persahabatan dan sebagai penghargaan atas kebaikan Kiai Ageng Maliu, beliau sepakat menghadiahkan putrinya, Nyai Barep, kepada Kiai Ageng Maliu sebagai istrinya. Terjadilah pernikahan dan Nyai Barep resmi menjadi istri Kiai Ageng Maliu.

Selepas kepergian Sunan Giri Pit dan Pangeran Giri Wasiyat, Kiai Ageng Maliu bersama istrinya tetap meneruskan dakwah membina warga Desa Banjar dalam bidang keagamaan dan pertanian.

Desa Banjar berkembang sangat pesat. Selain sebagai pusat penyebaran agama, juga tempat bertemunya para pedagang.Karena sebagai tempat perniagaan maka desa itu semakin ramai dan berpenduduk banyak. Akhirnya desa itu menjadi sebuah kota atau tepatnya disebut kadipaten.

Semula Kadipaten Banjar berlokasi di sebelah timur Kali Merawu, kemudian pindah ke sebelah barat Kali Merawu dan kemudian dikenal dengan nama Banjar Watu Lembu.

Selanjutnya,pusat pemerintahan dipindahkan dari Banjar Watu Lembu ke sebelah selatan Kali Merawu yang sekarang menjadi Kota Banjarnegara.

Lokasi pusat pemerintahan di daerah pesawahan yang cukup lebar (banjar) dan dinamakan Banjarnegara. Banjarnegara berasal dari dua suku kata yaitu banjar yang artinya sawah atau lebar dan negara yang artinya kota. Jadi, dahulu kala Kota Banjarnegara didirikan di daerah pesawahan yang cukup lebar dan datar.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "LEGENDA ASAL MULA BANJARNEGARA"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel