LEGENDA ASAL USUL NAMA WONOGIRI
Saturday, 16 December 2017
Add Comment
| LEGENDA ASAL USUL NAMA WONOGIRI |
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA - LEGENDA - Legenda Asal Usul Nama Wonogiri ini sebenarnya terdiri dari tiga kejadian, yaitu asal mula nama Wonogiri, Hutan Donoloyo, dan Gunung Giri. Selengkapnya adalah sebagai berikut.
ASAL USUL NAMA WONOGIRI
Oleh: Parpal PoerwantoSejak Majapahit runtuh, Raden Patah mendirikan pusat pemerintahan di Demak Bintoro. Beliau memerintah dengan arif dan bijaksana. Dalam memerintah, dibantu oleh Walisongo (= wali sembilan) dan seluruh ponggawa.
Pada suatu hari, diadakan musyawarah mengenai rencana pembangunan masjid agung. Semua Walisongo hadir tanpa terkecuali. Musyawarah memutuskan bahwa setiap wali mendapat jatah mencari satu tiang penyangga. Tiap penyangga haruslah kayu jati yang sudah tua, besar, dan panjang.
Seperti wali lainnya, Sunan Giri segera melaksanakan tugasnya. Ia mencari kayu jati ke daerah selatan. Perjalanan memakan waktu cukup panjang. Berhari-hari Sunan Giri masuk hutan keluar hutan, tetapi tidak menemukan kayu jati sesuai dengan yang diinginkan. Hingga tibalah Sunan Giri pada suatu daerah yang penuh hutan dan berbukit-bukit.
Sepanjang perjalanan, Sunan Giri selalu dibuntuti seseorang. Namun, ia tidak menghiraukannya. Orang tersebut sebenarnya tidak jelas akan berbuat apa terhadapnya. Sunan Giri malah sering bercanda dengan pura-pura lari atau bersembunyi. Melihat buruannya lari, orang yang membuntuti segera menyusulnya. Begitu jua ketika Sunan Giri bersembunyi, orang tersebut berusaha mencari hingga menemukan. Anehnya, ketika Sunan Giri berusaha untuk menatap wajahnya, orang tersebut cepat-cepat menyembunyikan jati dirinya.
Tibalah Sunan Giri pada sebuah bukit kecil di atas Bengawan Solo. Bukit yang ditumbuhi kayu jati itu tidak terlalu tinggi. Namun, orang-orang sekitar menyebutnya gunung. Setiap hari ada yang mencari rumput atau kayu bakar di bukit itu. Sunan Giri beristirahat di bawah pohon jati yang sangat rindang. Orang yang membuntuti bersembunyi tidak jauh dari tempat itu.
Sunan Giri semakin terganggu dengan ulah orang itu, lalu menancapkan tongkatnya ke tanah. Kemudian duduk bersila dan mengheningkan cipta mohon kepada Allah supaya terbebas dari gangguan dalam melaksanakan kewajibannya mencari kayu jati.
Allah mengabulkan permohonannya. Sunan Giri berhasil mengelanuhi orang tersebut. Menurut pandangan orang itu, Sunan Giri masih duduk bersila di dekat tongkatnya, padahal ia telah jauh berjalan ke arah timur.
Sepanjang perjalanan, Sunan Giri merasa heran. Sejauh mata memandang yang tampak hanyalah hutan dan gunung-gunung.
Sampailah Sunan Giri pada sebuah hutan jati yang lebat. Hutan itu sangat luas dengan tumbuhan jati yang besar-besar. Sunan Giri gembira sekali. Berarti tidak sia-sia perjalanannya sampai ke tempat ini. Namun, pikirannya sekarang berubah. Perasaan yang awalnya senang kini diliputi rasa ragu-ragu. Sunan Giri khawatir bahwa si pemilik hutan tidak mengizinkan kayu itu diminta atau ditukar dengan sesuatu. Sungguh tidak mungkin jika hutan ini tidak ada yang punya.
Sunan Giri pun mencari si pemilik hutan itu.
Sudah setengah hari Sunan Giri mencari si pemilik hutan jati. Rasa capai dan lapar tidak dirasakannya. Hampir saja Sunan Giri menyerah. Tiba-tiba tidak jauh dari tempat itu ada sebuah pondok. Pondok itu kecil dan sederhana, tetapi terawat rapi. Bergegaslahlan Sunan Giri mendatangi pondok itu.
"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh....!" Sunan Giri mengucap salam. Namun, tidak ada jawaban dari pemilik pondok. Lalu Sunan Giri mengulang ucapan salam sambil mengetuk pintu. Tidak lama kemudian, datanglan seorang laki-laki seusianya menghampiri.
"Mencari siapa, Kisanaka?" tanya laki-laki itu.
"Maafkan jika saya mengganggu. Sebelumnya, bolehkan saya bertanya?" Sunan Giri balik bertanya.
"Apakah Kisanak tersesat?" tanya laki-laki itu lagi.
"tidak Kisanak. Saya hanya ingin bertanya, siapa pemilik hutan ini?" tanya Sunan Giri.
"O, itu pertanyaannya. Silakan duduk dulu. Maaf kursinya reyot."
"Sayalah yang semestinya minta maaf karena telah mengusik ketenangan Kisanak," kata Sunan Giri setelah duduk berhadapan dengan laki-laki itu.
"Sebelum saya jawab, tentu tidak ada salahnya jika saya bertanya siapa Kisanak dan dari mana asalnya serta apa tujuannya sampai di hutan ini?" tanya laki-laki itu lagi.
"Kisanak, beribu maaf jika kedatangan saya di tempat ini dianggap lancang," kata Sunan Giri. Lalu lanjutnya, "Saya adalah Giri. Saya abdi dalem Sultan Demak Bintoro...."
Belum selesai perkataan Sunan Giri, laki-laki itu turun dari kursinya dan bertindak akan menghaturkan sembah. Namun, Sunan Giri mencegahnya dengan cara berdiri dan memegang pundaknya.
"Kita ini sama-sama hamba Allah, Kisanak. Tidak ada yang berarti di hadapan-Nya kecuali iman dan amal kita," kata Sunan Giri.
Mendengar kata-kata Sunan Giri, laki-laki yang mengaku Kiai Donosari itu sangat berterima kasih bisa bertemu dengan Sunan Giri. Kiai Donosari menyebutkan namanya serta mengatakan bahwa hutan itu miliknya. Kemudian Kiai Donosari berkata, "Kanjeng Sunan, setelah mengerti maksud dan tujuan paduka, silakan Kanjeng Sunan memilih kayu jati yang akan digunakan tiang masjid agung Demak Bintoro."
"Terima kasih Kiai. Kebaikan Kiai, Allah yang akan membalasnya."
Tidak lama kemudian, Sunan Giri telah memilih sebuah kayu yang sangat tua. Kayu jati itu besar, panjang, dan lurus. Namanya Jati Cempurung. Setelah ditebang, Sunan Giri kerepotan membawanya.
"Kiai Donosari, di bawah itu ada kali, namanya kali apa?" tanya Sunan Giri sambil menunjuk ke arah selatan.
"Itu Sungai Keduwang, Njeng Sunan."
"Alirannya sampai ke Bengawan Solo, bukan?"
"Betul, kali itu bersatu di suatu tempat dengan Bengawan Solo. Ada apa Kanjeng Sunan?"
"Begini Kiai. Bantulah saya untuk menghanyutkan kayu ini di Sungai Keduwang itu. Nanti sayalah yang akan mengawalnya hingga mendekati Demak Bintoro."
Konon, dalam mengangkut kayu jati ke Sungai Keduwang, Kiai Donosari menyuruh seorang pesindan untuk duduk di atas kayu sambil melantunkan tembang-tembang macapat. Anehnya, kayu jati tersebut bukannya bertambah berat, tetapi seakan-akan bisa berjalan sendiri dengan ringan. Sampailah kayu jati itu di Sungai Keduwang.
Sebelum pergi, Sunan Giri sempat berkata kepada Kiai Donosari.
"Kiai, sepanjang perjalanan yang saya lihat tiada lain hanyalah hutan-hutan dan gunung-gunung. Karena itu, saksikannlah daerah ini saya beri nama Wonogiri. Insya Allah kelak daerah ini akan ramai dihuni orang."
"Wonogiri, Njeng Sunan?" tanya Kiai Donoari meyakinkan.
"Betul. Wono berarti hutan dan giri berarti gunung."
"Baiklah Njeng Sunan, saya akan menjadi saksi bahwa daerah ini diberi nama Wonogiri."
Sunan Giri juga sempat menamakan hutan itu Donoloyo. Begitu juga Kiai Donosari diganti nama menjadi Ki Ageng Donoloyo.
Selanjutnya, Sunan Giri mengawal kayu jati yang dihanyutkan di Sungai Keduwang. Sesampainya di Bengawan Solo, Sunan Giri singgah sebentar di bukit tempat menancapkan tongkatnya dulu. Ia akan mengambil kembali tongkatnya. Dilihatnya orang yang dulu membuntutui masih menunggu tongkat dari jarak agak jauh. Sunan Giri mendekat dari belakang. Ia lalu memegang pundak orang itu. Terkejutlah orang itu ketika tiba-tiba orang yang diawasinya sudah memegang pundaknya.
"Ma, ma, maafkan saya, Kisanak," kata orang itu gugup.
"Kamu itu sebenarnya siapa dan punya maksud apa terhadap saya?"
"Sa, sa, saya Wasingo. Saya tidak punya maksud apa-apa kepada Kisanak."
"Kalau tidak punya maksud apa-apa kenapa membuntuti saya terus?"
Orang yang mengaku bernama Wasingo itu menudnuk. Tidak ada kata yang terucap dari mulutnya.
"Baiklah jika kamu tetap diam, berarti kamu betah di tempat ini. Tungguilah tongkatku, kelihatannya kamu ingin memilikinya!" kata Sunan Giri.
Wasingo tetap diam. Bahkan akan berdiri tidak bisa. Namun, masih bisa mendengar dan mengerti apa yang diucapkan oleh Sunan Giri. Kemudian Sunan Giri berkatan lagi.
"Karena saya pernah singgah di tempat ini maka untuk mengingat-ingat tempat ini akan saya beri nama Gunung Giri. Sudahlah, aku mohon pamit akan mengawal kayu jati untuk dibawa ke Demak Bintoro."
Sepeninggal Sunan Giri, Wasingo tinggal di Gunung Giri. Konon, setelah meninggal Wasingo menjelma seekor singa sebagai penunggu Gunung Giri. Gunung Giri berupa bukit kecil ditumbuhi hutan jati. Puncaknya ada astana pra kerabat Keraton Mataram. Letaknya kira-kira dua kilometer di sebelah utara kota Wonogiri.
0 Response to "LEGENDA ASAL USUL NAMA WONOGIRI"
Post a Comment