Rahasia di Balik Lagu Terbaik #bonangan
Rahasia di
Balik Lagu Terbaik #bonangan
By Parpal
Poerwanto
Siang itu, matahari membakar terik ketika Mas Guru Bonang sibuk mengarahkan kamera, mengabadikan momen bahagia di sebuah hajatan pengantin. Di tengah keriuhan para tamu, ia berpapasan dengan Bapak Iskandar (alm), yang saat itu menjabat sebagai Kepala Desa Purwosari. Tak ada firasat apa pun, hanya sapaan ramah pengisi waktu. Siapa sangka, takdir mempertemukan mereka kembali malam harinya di tempat hajatan yang berbeda. Kali ini, Pak Iskandar membawa sebuah kabar penting: ada Lomba Cipta Lagu Campursari tingkat Jawa Tengah yang pendaftarannya diinformasikan melalui surat edaran ke desa-desa.
Keesokan harinya, Mas Guru Bonang bergegas menuju kantor desanya sendiri untuk menanyakan surat pengumuman tersebut. Sayang, jawaban kecewa yang ia terima; pegawai desa berdalih surat edaran itu hilang. Tak hilang akal, Mas Guru Bonang langsung meluncur ke Desa Purwosari. Di sana, Pak Iskandar menyambutnya dengan hangat dan menyerahkan salinan surat pengumuman lomba. Saat membaca lembaran kertas itu, jantung Mas Guru Bonang hampir copot. Astaga! tenggat waktu penyerahan karya jatuh esok pagi!
Tanpa buang waktu, hari itu juga Mas Guru Bonang berlari mendatangi Mas Manugro. Di tengah kepungan waktu yang kian menjepit, mereka berpacu mengaransemen lagu sekaligus menuliskan notasi musiknya. Begitu garapan rampung, keesokan harinya Mas Guru Bonang nekat mengantar sendiri menuju Semarang untuk menyerahkan naskah, notasi, dan kaset rekaman contoh aransemen langsung ke tangan panitia.
Hari pengumuman pun tiba, dipusatkan di Obyek Wisata Waduk Gajahmungkur, Wonogiri. Suasana begitu riuh oleh para pejabat dan seniman yang hadir. Ketika dewan juri membacakan keputusan juri, ketegangan memuncak. Gelar Lagu Terbaik resmi jatuh pada karya berjudul Kenangan Wadhuk Gajahmungkur ciptaan Mas Guru Bonang.
Lucunya, seorang pejabat yang duduk tak jauh dari Mas Guru Bonang mendadak berdiri dan celingak-celinguk mencari sang pemenang sambil bergumam sinis, "Biasa, Pak Bonang pasti tidak hadir!"
Mendengar itu, Mas Guru Bonang hanya tersenyum tipis lalu berdiri dan melangkah tenang menuju panggung. Suasana mendadak canggung. Tak ada satu pun orang atau pejabat yang bergerak memberikan selamat kepada pria sederhana itu. Barulah ketika Pak Roes Wardiyatmo (alm), Kepala Dinas P dan K kala itu, berdiri, memeluk hangat Mas Guru Bonang dan mengucapkan selamat, para pejabat lain seolah tersadar lalu berbondong-bondong naik ke panggung ikut bersalaman.
Namun, takdir karya seni terkadang menyimpan ironinya sendiri. Perihal nasib lagu Kenangan Wadhuk Gajahmungkur, kisahnya berjalan persis seperti kata "kenangan" dalam judulnya. Padahal, janji manis panitia saat pengumuman lomba menegaskan bahwa 10 lagu terpilih akan direkam dalam sebuah album kompilasi. Nyatanya, sejak kompetisi itu berjalan di tahun 2002 hingga detik ini, janji album tersebut tak pernah terwujud, menyisakan karya terbaik itu abadi sebagai kenangan di atas kertas. (PAL)

0 Response to "Rahasia di Balik Lagu Terbaik #bonangan"
Post a Comment