DARI STUDI TIRU: PENGEMBANGAN BERBASIS ASET
DARI STUDI TIRU: PENGEMBANGAN BERBASIS ASET
Taman Tembang dan Sastra – Pendidikan - Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS) Kecamatan
Wonogiri Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah mengadakan studi tiru di Sekolah
Penggerak Berkemajuan SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta, Selasa (07/3). Acara
ini diharapkan membawa dampak positif bagi pendidikan di sekolah dasar se-Kecamatan
Wonogiri.
Menurut Korwilcam
Pendidikan Kecamatan Wonogiri, Drs Pamuji, M.Pd, tujuan utama dipilihnya SD
Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta karena sekolah tersebut merupakan sekolah
penggerak serta memiliki prestasi tingkat nasional sehingga diharapkan kita dapat meniru dan menerapkannya di satuan
kerja masing-masing. “Diharapkan kita dapat belajar banyak dari sekolah
penggerak yang memiliki banyak prestasi ini.”
Banyak yang dapat dipetik dari kegiatan studi tiru ke
sekolah penggerak ini. Di antaranya
adalah kepala sekolah dapat melihat secara langsung implementasi kurikulum dari
berbagai aspek yaitu manajerial, pembelajaran, strategi, evaluasi serta
pelaksanaan projek penguatan profil pelajar Pancasila (P5), pembelajaran dengan
paradigma baru, perencanaan berbasis data, dan digitalisasi sekolah. Semua itu
menurut narasumber utama, Sri Sayekti, tidak terlepas dari pengembangan
berbasis aset. “Dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran yang fleksibel,
efisien, dan esensial sekolahnya
menyusun perangkat ajar, seperti melakukan asesmen awal untuk bakat dan minat
yang sesuai dengan tipe belajar siswa. Selain itu, kita harus bisa
mengembangkan aset sekolah. Aset utama adalah SDM, yaitu kepala sekolah dan
para guru. Maaf Bapak-Ibu, yang namanya guru meskipun datang sering terlambat
atau mengajar sambil duduk di depan kelas tetap merupakan aset. Untuk itu
kewajiban kepala sekolah adalah bagaimana mengubah perilaku aset itu menjadi
perilaku positif,” tandas Sayekti.
Lebih lanjut Sayekti mengatakan bahwa kondisi sekolahnya
yang swasta tentu berbeda dengan sekolah negeri. “Sekolah kami adalah swasta.
Jika ada guru yang tidak bisa mengajar ini akan berakibat dengan kelangsungan
sekolah kami. Sebab, ini akan membuat para orang tua berpikir untuk
menyekolahkan ke tempat kami. Selain itu, kami juga harus bisa mengembangkan aset
sekolah non-SDM untuk kesejahateraan para guru dan karyawan. Kami punya
beberapa usaha milik sekolah seperti pertokoan, kantin, dan kendaraan
antarjemput. Alhamdulillah, hal tersebut dapat kami gunakan untuk memberikan
uang lauk pauk, gaji 13, dan gaji 14.” (Parpal Poerwanto)
.jpg)
0 Response to "DARI STUDI TIRU: PENGEMBANGAN BERBASIS ASET"
Post a Comment