-->

Berjuta Aksara Metafora dalam Aliran Tinta Pena Pesyair Selaksa Nama

 

Berjuta Aksara Metafora dalam Aliran Tinta Pena Pesyair Selaksa Nama

Taman Tembang dan Sastra – Puisi – Kembali  hadir sebuah buku bertajuk Segenggam Aksara Desember karya pesyair perempuan dan pegiat di Komunitas Sastra Giri Kawedhar (KSGK), yakni Ika Ratna Mangali. Untuk selengkapnya baca ulasan berikut.

Hingga kupinang hening malam-malam

Kumaharkan tebaran aksara yang kian rimbun

Untaian puisi kasih telah tercampak

Terkapar berpagut derai hujan bulan Desember

Itulah petikan salah satu bait dalam puisi “Segenggam Aksara Desember”, yang kelak diangkat menjadi judul buku antologi tunggal ini. 

Barangkali Pembaca akan terkecoh, menyangka buku ini merupakan antologi bersama. Sangkaan demikian menemukan alasan lantaran tereja nama-nama berbeda pada 80 judul puisi di dalamnya: SW, RM, Nyi RM, Nyi Sekar Wangi, dan Nyi Ratna Mangali. Sebenarnya kelima nama tersebut merujuk kepada satu orang, yang nama aslinya justru tidak dimunculkan pada satu pun puisinya.

Variasi nama perempuan pesyair ini seolah mencerminkan kekayaan varian peran kehidupan yang pernah dilakoninya serentang usianya. Setiap lakon ia perankan sepenuh penghayatan sehingga percikan-percikan emosinya mengkristal lalu memrasasti dalam rupa puisi. Kumpulan syair yang kini menyapa Pembaca ini hanyalah sepersekian jilid dari berjilid-jilid album prasasti lakonnya.

Eloknya, pada setiap lembar prasasti itu terpahat untaian metafora yang seakan tak pernah kehabisan kata. Di setiap baitnya, Pembaca akan merasai aura mantra magis dalam balutan frasa-frasa idiomatis. Eksploitasi bahasa arkais seperti sudah melekat sebagai jenama Penulis, sekaligus menjadi kekuatan sajak-sajaknya.

Di balik estetika bahasa itu pula, dengan piawai Penulis menyamarkan segala atribut emosinya. Rintihan pedih, jeritan sakit, aduan rindu, kicauan galau, sindiran getir, cacian benci, hingga umpatan damprat, semua terlampiaskan melalui gugusan aksara yang berbaris ritmis dalam racikan apik larik demi larik. Apa pun suasana kebatinan yang melatarinya, puisi yang tersuguh di hadapan Pembaca selalu dikemas dalam untaian kata-kata berirama. 

Bagi saya pribadi, membaca puisi-puisi di buku ini serasa berselancar di lautan kata, yang sesekali memaksa untuk membuka kamus. Adakalanya Kamus Besar Bahasa Indonesia pun terasa amat tidak memadai. Alhasil, Bausastra Djawa dan bahkan Kawi Djarwa pun tak bisa betah terparkir di raknya. Jika mengalami hal serupa, Pembaca tak perlu berkecil hati; inilah hidangan yang membuat kita tak pernah merasa pantas untuk berhenti memperkaya khazanah bahasa.

Kelahirannya di era serba-pop seperti sekarang, kiranya buku antologi puisi Segenggam Aksara Desember ini layak untuk diapresiasi sebagai karya sastra klasik. Untuk memetik mutiara maknanya, barangkali tak selalu mudah dan bisa instan. Namun, dalam proses pemindaian yang saksama itulah, Pembaca justru memperoleh pengalaman eksotis pada setiap sajak di buku ini. Buku ini dapat dipinang dengan mengganti ongkos cetak sebesar Rp55.000,- (belum termasuk ongkir) Bisa pesan melalui WA 081393305359.

Semarang, 9 Februari 2022

Teguh Gw

Penggandrung literasi dan abdi dalem di LPI Hidayatullah Semarang, Pegiat Seni Budaya di Komunitas Sastra Giri Kawedhar (KSGK)


Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Berjuta Aksara Metafora dalam Aliran Tinta Pena Pesyair Selaksa Nama"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel