-->

MENUNGGU IPUNG 5 VERSI BAHASA JAWA

 

MENUNGGU IPUNG 5 VERSI BAHASA JAWA

Taman Tembang dan Sastra
Budaya – Usai sudah menerjemahkan novel IPUNG 5 karya Prie GS (almarhum, semoga husnul khatimah) setebal 374 + xii ini. Pekerjaan ini telah dikebut dalam 51 hari kerja dari 90 hari yang dijadwalkan Balai Bahasa Jawa Tengah.  Tentunya masih kasar dan harus menunggu hasil dari penyunting untuk penyempurnaannya.

Mas Guru Bonang
sebagi pihak yang “dipercaya” untuk menerjemahkan novel nomine Prasidatama Balai Bahasa Jawa Tengah 2021 ini cukup merasa kelelahan. Setidaknya ia harus membaca dulu buku yang cukup tebal itu. Padahal, sebagai penulis, ia jarang sekali membaca. Hanya beberapa karya orang lain yang telah ia baca. Pertama adalah puisi yang di era tahun 80-an dimuat di harian sore Wawasan. Ia terkesan dengan salah satu puisi karya Agus Dewa (almarhum, semoga husnul khatimah) sehingga ia sering corat-coret di buku tulis untuk dikomsumsi sendiri.

Selanjutnya Mas Guru Bonang suka membaca sekitar 4 atau 5 buku karya Emha Ainun Najib ketika ia menjadi anak rantau di ibu kota di era tahun 90-an. Ada lagi satu buku novel saking penasarannya, sebab novel itu menjadi pemenang dalam lomba menulis novel Dewan Kesenian Jakarta, Saman, karya Ayu Utami.  Selain itu ada bacaan yang sangat ia tunggu, yaitu Sekapur Sirih-nya SL Soeprijanto (almarhum, semoga husnul khatimah) yang selalu menghias majalah sebuah BUMN. Ada satu lagi buku bacaan yaitu Antologi Puisi Jawa Modern 1060-1980 Editor Suripan Sadi Hutomo.

Selain yang disebutkan di atas Mas Guru Bonang bisa dikatakan nyaris tidak pernah membaca karya orang lain. Bahkan, hasil tulisannya sendiri saja banyak yang lupa, padahal ada satu teman penulis yang justru hapal di luar kepala. Ironis? Iya. Bahkan ketika ada adik-adik mahasiswa yang mengangkat karyanya untuk skripsi mereka, ketika diskusi, Mas Guru Bonang harus mengernyitkan alisnya untuk mengingat-ingat.

Bahkan ketika diskusi bertiga (Mas Guru Bonang, Didit Setyo Nugroho, dan Kun Prastowo), di mana dua orang temannya itu bercerita banyak tentang Api di Bukit Menoreh dan Nagasasra Sabuk Inten, Mas Guru Bonang hanya senyum-senyum saja. Jujur, jika Nagasasra Sabuk Inten sedikit-sedikit agak nyambung karena di-ketroprak-kan di radio yang saat itu Mas Guru Bonang juga nyandu. Tapi yang Api di Bukit Menoreh benar-benar ora mudheng. Padahal Didit Setyo Nugroho dan Kun Prastowo asyik hingga detail-detailnya.

Kembali ke Ipung 5 versi bahasa Jawa tadi, semoga alih bahasa ini tidak mengurangi substansi dan kesastraannya. Bahkan, harapannya dapat diterima di semua pihak, khususnya pecinta sastra budaya. Amin. (Pal).

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "MENUNGGU IPUNG 5 VERSI BAHASA JAWA"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel