-->

SERIAL ASAL DAN MAKNA KATA NAMA WILAYAH DI KABUPATEN WONOGIRI (BAGIAN 1)

 

SERIAL ASAL DAN MAKNA KATA NAMA WILAYAH DI KABUPATEN WONOGIRI (BAGIAN 1)

WONOGIRI
Oleh : Yoga Pujakesuma Wanadharma Girisaraya

Taman Tembang dan Sastra - Budaya - Wonogiri, ejaan aslinya adalah WANAGIRI; wana - giri berasal dari bahasa Sanskerta: vana - giri. Ejaan adalah tata penulisan. Jadi, tata penulisan aslinya memang WANAGIRI, sesuai kaidah HANACARAKA.

WANA berarti hutan atau alas. Sehingga tidak aneh apabila orang-orang desa sering menghaluskan (bahasa Jawa krama) sawah atau ladang (tegal) mereka dengan kata 'wana' yang artinya alas, yang disadari atau tidak, sesungguhnya merendahkan sawah dan ladang mereka sebagai area yang menyerupai alas (lantaaran banyaknya tumbuhan yang belum sempat dibersihkan). Contoh:
~ "Arep menyang [ng]alas Lé?"
~ "Badhe dhateng wana Mbah?"
Biasanya, maksud dari kata '[ng]alas' atau 'wana' dalam konteks contoh kalimat tersebut adalah tegal, ladang, atau mungkin bisa sawah.

Dalam nama WANAGIRI (yang terpengaruh dalam teks-teks Belanda akhirnya menjadi WONOGIRI), makna WANA dan GIRI yang berarti hutan/alas dan gunung/pegunungan. Dalam bahasa Jawa, kata GIRI bisa mencakup gunung, pegunungan, bukit, dan perbukitan. Maka, kata WANA-GIRI menunjuk suatu kawasan yang memiliki banyak hutan dan gunung-gunung, atau pegunungan (rangkaian gunung-gunung) termasuk gunung-gunung kecil yang disebut bukit dan perbukitan (rangkaian bukit-bukit).

Kapan mulai digunakan istilah WANAGIRI menjadi nama tempat (Kabupaten Wonogiri ini)?
Hingga saat ini, belum ada catatan akurat yang menyatakan bahwa sebelum Abad XIX telah ada nama Wanagiri sebagai nama daerah yang terletak di hulu Bengawan Solo ini. Yang ada adalah nama Keduwang, yang dalam beberapa peta dan catatan lawas (seperti History of Java) merupakan sebuah 'distrik' (bisa diartikan sebagai 'daerah', 'kademangan', dan pada masa yang lebih baru ada istilah 'kawedanan'. Keduwang (Kaduwang) juga merupakan nama sungai yang mengalir dari arah timur menuju ke barat dan bermuara di Bengawan Solo; pertemuan Sungai Keduwang dan Bengawan Solo ini lada tahun 1976 telah tenggelam dengan adanya waduk Gajah Mungkur.

Ada pendapat bahwa nama WANAGIRI telah disebut dalam Prasasti Pucangan (atau Prasasti Kalkuta), peninggalan awal Abad XI. Diceritakan bahwa Erlangga/Airlangga berkelana ke "wana-giri" seusai peristiwa mahapralaya di Kerajaan Medang. Tetapi, tidak ada bukti penguat bahwa kata WANA-GIRI yang ada dalam prasasti itu sudah menunjuk pada nama wilayah. Karena nama wana-giri mengandung maksud kawasan yang berupa hutan dan gunung-gunung, dan tidak harus ditafsirkan sebagai daerah Wonogiri sekarang. Ada banyak dugaan daerah yang disebut sebagai 'wana-giri' tempat berkelana Sang Erlangga saat itu.

Lalu, dalam Serat Centhini penulis menemukan kata WANA-GIRI (dan juga varian nama WANA-HARGA) yang teridentifikasi sebagai kawasan Wonogiri sekarang. Tetapi, Serat Centhini bagian itu belum diketahui ditulis dan digubah pada tahun berapa. Memang, Serat Centhini (Suluk Tambangraras) asli ditulis pada kisaran tahun 1814-1823. Tetapi masa-masa setelah itu, ada beberapa gubahan-gubahan yang akhirnya pada masa sekarang kita temui Serat Centhini yang 12 jilid itu.
 
Yang lebih jelas, nama WANAGIRI muncul sebagai nama pasanggrahan yang dibangun pada masa Sri Paduka KGPAA Mangkunegara III, dugaan penulis dibangun pada tahun 1840-an, berdasarkan sebuah tulisan yang mendiskripsikan tentang Pesanggrahan Wanagiri yang berjudul "WANAGIRI" selesai ditulis pada tahun 1844. Sebelum itu, pada masa pemerintahan Sri Paduka KGPAA Mangkunegara I dan II, belum ada nama WANAGIRI sebagai nama daerah.

Baru pada tahun 1847 benar-benar muncul nama WANAGIRI sebagai nama kawedanan. Kawedanan Wanagiri pertama kali berdiri pada tahun 1847 itu, sebagai daerah yang langsung berada di bawah Praja Mangkunegaran, pada masa pemerintahan Sri Paduka KGPAA Mangkunegara III. Kepala daerahnya disebut Wedana Gunung, dijabat oleh Raden Ngabehi Jayasudirja. Meskipun belum menjadi kabupaten, Wanagiri sebagai sebuah kawedanan sudah merupakan suatu daerah yang tertata secara administratif pada saat itu. Saat itu belum ada kabupaten. Sehingga Wedana Gunung yang pertama kali itu (R.Ng. Jayasudarsa) oleh orang sekarang sering disebut-sebut sebagai 'bupati pertama' Wonogiri.

Ada dugaan penulis, bahwa nama Wanagiri yang dipakai menjadi nama kawedanan pada tahun 1847 itu (dan kemudian berkembang menjadi kabupaten pada tahun 1917) berhubungan dengan nama Pesanggrahan Wanagiri yang telah dibangun pada tahun sebelumnya.

Setelah ada Kabupaten Wanagiri (sejak tahun 1917) itu, Kawedanan Wanagiri tetaplah ada, namun berada di bawah wilayah Kabupaten Wanagiri. Dengan kata lain, Kawedanan Wanagiri menjadi bagian dari Kabupaten Wanagiri. Selanjutnya, Wanagiri atau Wonogiri juga menjadi nama kecamatan di mana pusat Kabupaten Wonogiri berada, yakni Kecamatan Wonogiri. Kantor Kecamatan Wonogiri maupun perkantoran pusat pemerintahan kabupaten Wonogiri (kantor DPRD, rumah dinas bupati, dan sejumlah kantor lain) berada di Kelurahan Giripurwo. Giripurwo sendiri berasal dari bahasa Sanskerta: giri (gunung) dan purva (timur). Mungkin maksud asli Giripurwo adalah 'sebelah timur dari gunung'; memang pusat kecamatan dan pusat kabupaten yang terletak di wilayah Kelurahan Giripurwo ini posisinya di sebelah timur dari deretan pegunungan yang di antaranya ada sejumlah puncak, yakni Gunung Gandul dan Gunung Butak (paling utara).

Adapun kemudian sistem kawedanan dihapuskan sama sekali (dengan peraturan perundang-undangan tahun 1960-an, persisnya saya lupa) (Yoga Pujakesuma Wanadharma Girisaraya)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "SERIAL ASAL DAN MAKNA KATA NAMA WILAYAH DI KABUPATEN WONOGIRI (BAGIAN 1)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel