BUDI WAHYONO DALAM SAJAK LIRIK
Monday, 1 February 2021
Add Comment
BUDI WAHYONO DALAM SAJAK LIRIK
Taman Tembang dan Sastra – Budaya – Tanpa keraguan, Segar Keringat Melimpah Berkah adalah sehimpun puisi yang mewakili ekspresi emosi pribadi penulis secara intens. Persoalan personal penulis bermetaformorsa menjadi puisi bersahaja, sebagai estetika puisi itu sendiri. Asimetri struktur puisi menjadi ranah superflu untuk digugat, karena itu kearifan dan pesan puisi tersampaikan dengan baik kepada pembaca.
Momen penciptaan selama 36 tahun -- dari tahun 1984 hingga 2020 -- merupakan hasil kontemplasi dan refleksi dari kehidupan sehari-hari. Dengan cermat penulis membaca keseharian kemudian menuangkan dalam larik-larik puisi. Usaha efektif untuk merawat ingatan atau pengalaman. Juga mencatat letupan rasa pada suatu peristiwa, di suatu tempat dan masa.
Masalah sosial-ekonomi adalah tema yang dominan dalam puisi-puisi Budi Wahyono. Terbaca pada pembukaan buku, dengan puisi-puisi yang mengisahkan derita ekonomi akibat pandemi. Namun tak melulu dengan hal itu, beberapa puisi cinta juga tertulis indah dalam balutan diksi-diksi gundah.
Saya mencatat tonggak-tonggak tema sosial yang terbaca benderang dari tahun kepenulisan:
Tahun 1984, dan 1988, penulis memotret kegelisahan ekonomi. Tertuang di antaranya dalam puisi: Penumbuk Padi, Wanita Penjual Hik Tengah Malam, Pemetik Teh, …. Sajak sosial-ekonomi tertuang dalam kisaran tahun 1998, 2001, 2002 di antaranya dalam puisi: Siaran Pers Kuli Panggul, Sebujur Sajak yang Siuman, …. Kemudian pada 2003, 2004, 2005, 2014, 2016 didominasi sajak sosial politik, di antaranya dalam puisi: Artis Cantik Dipinang Partai, Ode Negeri Kumuh, Ruang Tamu Pensiunan, Penganggur, Metamorfose Kemiskinan, Kehidupan Pensiunan, Kecipak Ikan, Seguyur Tajin, …. Kritik sosial disampaikan penulis dengan anggun, diksi santun, tanpa teriakan penuh dentum. Kegelisahan, adalah ikatan kecil yang menali semua napas puisi.
Tahun 1984, 2000, 2003 adalah tahun romantis bagi penulis. Tertuang dalam puisi: Menjelang Jombang, Malang, Surat Maaf dari Ratna Mustika, Kelebat Rambut Panjang, Kelebat Perempuan…. Dengan sisipan kisah tahun 2008: Kepergian Cerpenis, dan kisah tentang asal usul, pertengkaran, nasihat kepada istri pada tahun 1990, dalam puisi: Dusun Kelahiran, Rumah Neraka, Potret Ibu, …. Ibu dan Istri adalah subjek puisi sekaligus sosok inspiratif yang sangat berpengaruh terhadap penciptaan puisi.
Saya sangat menghargai ide penulis untuk menghimpun puisi-puisinya, baik yang pernah dimuat maupun yang tidak -- karena faktor kapling media cetak. Menurut saya, ini adalah pilihan yang bijak. Serasa seorang bapak yang tidak pilih kasih terhadap anak-anaknya.
Saya berharap puisi ini dapat dinikmati oleh semua pecinta puisi di Indonesia. Seperti halnya saya, yang begitu mengapresiasi kelahiran buku ini. Selamat kepada Mas Budi Wahyono atas sumbangan literasi terhadap sastra Indonesia.
Brussel, November 2020.
Naning Scheid,
Penulis Melankolia – Puisi dalam Lima Bahasa. (Dikutip dari Segar Keringat
Melimpah Berkah Sehimpun Puisi BUDI WAHYONO) Catatan: Dapatkan buku ini dengan ganti ongkos cetak Rp 60k, belum termasuk ongkir. Hub No 0815-6571-449

0 Response to "BUDI WAHYONO DALAM SAJAK LIRIK"
Post a Comment