-->

KETEMU BAKUL BUAH


KETEMU BAKUL BUAH


Taman Tembang dan Sastra – Budaya – Hari Mas Guru Bonang super sibuk. Setidak-tidaknya pura-pura sibuk. Biasa, duduk manthengi layar laptop. Tiba-tiba ada motor parkir di halaman sekolah. Rupanya tukang buah. Selintas melihat, lantas kembali menthelengi layar laptop.

Tiba-tiba, Bakul Buah sudah berdiri di depan kelas di mana Mas Guru Bonang sedang pura-pura sibuk. Setelah saling menatap, Mas Guru Bonang dan Bakul Buah terkaget-kaget.
“Mas Guru Bonang...!”
“Sampean, Mas....”

Antara Mas Guru Bonang dan Bakul Buah sejatinya tidak ada hubungan khusus. Pun juga bukan teman atau saudara. Hubungan terjadi yakni antara wali kelas dan orang tua murid. Itupun sudah 16 tahun yang lampau. Tepatnya ketika Mas Guru Bonang menjadi guru bantu di SD favorit di pusat kota Wonogiri.

Waktu itu, ada seorang murid yang cerdas. Ia berasal dari kampung nan jauh dari kota Wonogiri. Tepatnya sekitar enam kilometer arah utara dari Kecamatan Ngadirojo. Jadi, untuk menuju ke sekolah tidak kurang dari 15 kilometer. Ukuran yang sangat jauh bagi siswa sekolah dasar.

Waktu itu, orang tua siswa tersebut menjadi penjual koran. Kadang-kadang Mas Guru Bonang beli koran dagangannya. Namun, belakangan dagangannya berubah. Ia menjual buah keliling.

Enam belas tahun berlalu. Kini Bakul Buah itu duduk di depan meja kerja Mas Guru Bonang. Sebelumnya, ia meletakkan empat keresek buah apokat di meja belakangnya. Mas Guru Bonang dan Bakul Buah itu asyik bercerita. Tentunya Mas Guru Bonang tetap nyambi menyelesaikan tugasnya di laptop.

Pertama yang ditanyakan Mas Guru Bonang adalah anaknya sekarang di mana. Bakul Buah bercerita bahwa anaknya telah lulus dokter dari universitas ternama di Yogyakarta. Kini tengah menjalani koas di sebuah rumah sakit di Yogyakarta. Mas Guru Bonang terkagum-kagum. Memang, sejak duduk di SD ia anak yang cerdas. Ditambah orang tuanya yang gigih mencarikan pendidikan yang terbaik bagi anaknya sejak SD dulu. Jarak belasan kilo bukan halangan. Mencari rezeki banting tulang untuk biaya anak sekolah bukan beban yang menyurutkan tekad dan semangat. Akhirnya semua dapat dilalui. Sudah pantas jika sekarang menunai hasilnya.

“Selamat Mas, tidak sia-sia perjuangan sampean selama ini. Jujur, selain bangga, saya juga iri terhadap keberhasilan sampean,” kata Mas Guru Bonang sambil garuk-garuk kepala. (Pal).

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "KETEMU BAKUL BUAH"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel