Budaya - CERDAS MENYENANGKAN ISTRI
Friday, 28 December 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - CERDAS MENYENANGKAN ISTRI |
CERDAS MENYENANGKAN ISTRI
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA – BUDAYA – Pagi itu Mas Guru Bonang agak risau. Berkali-kali telpon tidak diangkat. Sementara nomor satunya tidak bisa dihubungi. Ia kemudian kirim WA. Isinya menyatakan bahwa dirinya pasien dokter Annas untuk menanyakan apakah ada kamar untuk hari ini. Pesan ini sesuai perintah perawat seminggu yang lalu. Semenit kemudian ada balasan bahwa Mas Guru Bonang sudah didaftar.
Lega.
Kemudian Mas Guru Bonang menanyakan lewat WA lagi, jam berapa harus berangkat. Lalu dijawab dokter pratiknya jam 13.00, bisa datang sebelum itu. Lho. Pasti ini ada salah komunikasi. Sebab, kata perawat seminggu lalu harus datang sebelum jam 8 pagi.
Mas Guru Bonang mencoba telpon lagi. Tidak diangkat. WA lagi tidak dijawab. Kemudian mencoba telpon nomor satunya. Nyambung. Bla-bla-bla. Intinya Mas Guru Bonang harus datang pagi itu juga sebelum jam 8.
Sampai di rumah sakit hampir jam 8. Lalu daftar. Kemudian masuk ruang IGD. Nunggu beberapa waktu. Jam 9 masuk kamar. Dapat antrian operasi pukul 13.00 WIB. Berarti jam pertama.
Jam 13.00 masuk ruang tunggu operasi. Masih nunggu. Ada operasi cesar. Terdengar suara bayi melengking. Kata tim medis, ibunya belum sadar.
Giliran masuk. Sarung harus dilepas. Begitu juga celana pendek. Tinggal menyisakan celama dalam. Ganti pakaian operasi.
Gelap. Tidak ingat. Hanya mendegar suara-suara dan bayangan yang indah-indah. Ini berbeda dengan pengalam operasi sekitar 22 tahun lalu. Waktu itu Mas Guru Bonang melambung di awan. Semua serba putih. Ribuan orang bertemu di sebuah masjid di awan. Tapi wajahnya Cuma Satu. Dirinya! Lalu muncul sosok wanita. Ia pernah melihatnya di televisi. Tapi tokoh wanita itu belum begitu tenar waktu itu.
Dua tahun kemudian Mas Guru Bonang menikah. Disusul anak pertama lahir, laki-laki. Ketika anak keduanya lahir, akan dinamakan sama dengan nama tokoh wanita tadi. Istrinya gak boleh. Cemburu. Dikira mantan. Setelah beliau jadi menteri, Mas Guru Bonang jelaskan itu loh orangnya. Istrinya tersipu malu. Kini beliau menjadi Gubernur Jawa Timur.
Kembali ke operasi kemarin. Mas Guru Bonang tidak sadar begitu lama. Magrib tepatnya baru siuman. Setelah sadar, muntah-muntah. Warna pekat hitam. Dikira dokter darah. Untungnya cuma sisa-sisa makanan pagi. Kan seharian puasa.
Hari ini, tepatnya sehari setelah operasi, Mas Guru Bonang sudah pulang. Sampai di rumah istrinya senyum-senyum gembira. Ada apa? Tanyanya. Ternyata, kemarin pas menggigau, Mas Guru Bonang ditanggapi anaknya yang menunggui. “Ibu galak ya, Yah.” Dijawab, enggak. “Ibu ngeselin ya, Yah.” Lagi-lagi dijawab enggak. Kemudian, agar tidak tertidur, Mas Guru Bonang disuruh nyanyi oleh anaknya. Ia nurut. Kemudian menyakikan lagu Garuda Pancasila. Untung bukan lagu bikinan Mas Guru Bonang sendiri yang bikin istri cemburu itu. Judulnya, Prawan Semengit!
Ah, ternyata igauan cerdas itu menyenangkan istri! (Parpal Poerwanto).

0 Response to " Budaya - CERDAS MENYENANGKAN ISTRI"
Post a Comment