Budaya - GERMO, TRONDOLO, BAJINGAN, DAN SONTOLOYO
Sunday, 28 October 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - GERMO, TRONDOLO, BAJINGAN, DAN SONTOLOYO |
GERMO, TRONDOLO, BAJINGAN, DAN SONTOLOYO
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA – BUDAYA – Akhir-akhir ini ramai dibicarakan tentang kata sontoloyo. Entah itu yang dimaksud adalah arti sebenarnya atau arti yang sudah bergeser maknanya. Kadang arti sebuah kata akan bergeser makna sebagaimana orang secara manasuka menggunakan dan memaknai sebuah kata.
Ada kata germo yang dalam bahasa Jawa artinya adalah seorang yang pekerjaannya berburu hewan di hutan. Seiring waktu kata inipun berubah makna yakni seorang mucikari, yang pekerjaannya sebagai perantara (pemburu) atau pemilik pekerja seks komersial. Mungkin berawal dari perantara atau pemburu itulah makna germo melekat pada sebuah pekerjaan yang “memburu mangsa” sebagai pelanggan para pekerja seks yang diasuhnya.
Sedang trondolo merupakan perubahan ucap dari dua kata, yakni turun dulu. Seiring waktu kata trondolo ini menjadi sebuah umpatan. Konon, di era awal kemerdekaan alat transportasi massal yang menjadi pilihan rakyat adalah kereta api. Ketika kereta berhenti di sebuah stasiun, maka banyak penumpang yang saling berebut untuk turun dan naik. Nah, ketika orang-orang saling berebut itulah kondektur memberi aba-aba “turun dulu-turun dulu”. Hal ini dimaksudkan untuk memberi jalan keluar bagi penumpang yang akan turun. Namun, yang namanya orang banyak, maka rebutan turun-naik pun tidak bisa dihindarkan. Ketika yang akan turun kembali terdesak naik, mereka bilang, “Turun dulu-turun dulu. Trondolo-trondolo. O, dasar trondolo!”
Umpatan bajingan pun juga berasal dari kekesalan yang sebenarnya awalnya merupakan sindiran bagi seorang yang pekerjaannya sebagai kusir pedati yaitu gerobak yang ditarik oleh sapi. Pada waktu itu, pedati merupakan alat transportasi massal ala kampung. Nah ketika kelamaan menunggu kedatangan pedati yang datangnya sering terlambat, maka mereka kemudian bilang, “Baj!ng@n, ditunggu tidak muncul-muncul!”
Sekarang kembali ke sontoloyo. Dalam bahasa Jawa arti sontoloyo adalah seseorang yang pekerjaannya sebagai penggembala itik. Bahkan salah satu lagu yang dinyanyikan si “Walang Kekek” Waljinah ada yang berbunyi....”sontoloyo angon bebek ilang loro....”. Entah apa sebabnya, seiring waktu kata sontoloyo menjadi sebuah umpatan. Kowe ngerti ora, Son? (Pal).

0 Response to "Budaya - GERMO, TRONDOLO, BAJINGAN, DAN SONTOLOYO"
Post a Comment