Budaya - KOSONG VS KOSONG
Saturday, 16 June 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - KOSONG VS KOSONG |
KOSONG VS KOSONG
Oleh: Parpal PoerwantoTAMAN TEMBANG DAN SASTRA – BUDAYA – Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kosong berarti tidak berisi; tidak berpenghuni; hampa, berongga; tidak mengandung arti; tidak ada muatannya. Di dalam matematika kosong tidak indentik dengan angka nol (0). Namun, ketika kita memasuki budaya lebaran, bolehlah kedua-duanya kita pinjam dan samakan. Selesai salat ied, lantas kita saling mengaku dosa dan meminta maaf dengan salam-salaman, sehingga kita tidak punya dosa antarsesama lagi alias kosong-kosong atawa nol-nol.
Ramadan kali ini memang penuh warna. Terlepas dari arti ramadan itu sendiri, banyak kejadian-kejadian di negeri ini yang secara nyata sebenarnya tak lepas dari hikmah puasa ramadan. Hikmah puasa itu banyak sekali. Salah satunya adalah bagaimana kita bisa beramar ma’ruf nahi munkar, berbuat kebajikan dan mencegah kemungkaran. Seorang pemimpin tentu tidak akan membiarkan kezaliman yang terjadi di negeri ini berlarut-larut seperti benang kusut. Meskipun ruwet dan melelahkan dengan niat baik semoga segalanya akan teratasi.
Rupanya berkah ramadan juga dirasakan oleh para korban Lapindo Sidoarjo. Mereka yang sejak lama menunggu realisasi dana sisa ganti rugi bisa bernapas lega. Pencairan dana talangan ganti kerugian korban lumpur Lapindo Sidoarjo, diharapkan sampai ke tangan warga secara utuh dan tidak ada potongan sedikit pun. Menteri Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, meminta warga segera melapor jika ada oknum yang memotong dana sisa ganti kerugian.
"Segera laporkan jika ada yang memotong dana talangan siapapun orangnya. Jika itu aparat saya, saya pecat hari itu juga," kata dia saat memberi sambutan di acara penyerahan perjanjian dana talangan sisa ganti kerugian korban lumpur di Pendopo Sidoarjo, Selasa (14/7/2015). Demikian menurut Kompas.Com.
Ya, dengan turunnya dana sisa ganti kerugian korban Lapindo semoga dapat mengobati luka yang menganga selama ini. Sehingga ada jalinan kasih kepercayaan masyarakat kepada niat baik pemerintah.
Kemudian, yang lebih menarik adanya “ancaman” untuk memecat siapapun yang berani memotong dana talangan tersebut. Ini adalah salah bentuk “puasa” bagi para oknum yang gemar potong-memotong. Setidaknya dengan peringatan itu kita benar-benar dilatih untuk “berpuasa”, sakali lagi berpuasa! Puasa bukan sekedar menahan hawa nafsu secara badaniyah saja, tetapi juga perilaku kita. Makanya hanya Allahlah yang tahu tentang kejujuran kita dalam melaksanakan ibadah puasa.
Jika di tengah-tengah puasa kita masih kemaruk untuk potong-memotong terhadap hak-hak orang lain apa ini layak disebut puasa. Padahal, dengan puasa akan dibukakan mata hati kita untuk merasakan bagaimana penderitaan orang lain, bukan sebaliknya mencari kesempatan atas penderitaan orang lain. Mereka yang menderita itu tentu hidup dalam suasana kefakiran dan memprihatinkan. Jangankan untuk memandang masa depan, memikirkan besuk apa bisa makan saja susah untuk diuraikan.
Ah, ternyata memaknai puasa itu sulit. Makanya ketika Alexander Yang Agung bertanya pada si fakir Diogenes perihal apa yang diminta darinya, dengan enteng Diogenes menjawab, “Jangan menghalangi matahari!”. Padahal, seandainya ia “kemaruk” tentu sang raja yang banyak harta itu akan mengabulkannya. Si Fakir takut bahwa hari belum malam. Dan rasa takut itu adalah suatu hal yang sangat manusiawi.
Sebagaimana Nabi Yusuf AS ketika beliau ditanya kenapa hampir setiap hari puasa, beliau menjawab,”Saya takut kenyang, dan melupakan yang lapar”. Nah, bagaimana dengan kita dan orang-orang sekeliling kita?
Kembali ke soal idul fitri. Ketika selesai salat ied, melalui silarahmi dan silaturahim yang tulus akan tergerak untuk saling memaafkan dalam suasana halal bihalal. Budaya “nusantara” ini menurut Dr M Quraish Shihab MA, merupakan suatu bentuk aktivitas yang mengantarkan para pelakunya untuk meluruskan benang kusut, serta menghangatkan hubungan yang tadinya membeku sehingga cair kembali.
Kaum muslim, semoga ibadah puasa kita kali ini hasilnya tidak kosong atawa nol. Karenanya dan insya Allah, dosa-dosa kita diampuni-Nya. Dan jangan lupa minta maaf kepada sesama sehingga kita kembali fitri, alias dosa kita kosong atawa nol. Sugeng riyadi. Kosong VS Kosong.
Wonogiri, 2015-2018

0 Response to "Budaya - KOSONG VS KOSONG"
Post a Comment