-->

Cerpen - TINGGAL PENYESALAN

Cerpen - TINGGAL PENYESALAN
Cerpen - TINGGAL PENYESALAN
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA – CERPEN – Sahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan taman CERPEN. Edisi kali ini disajikan Cerpen berjudul TINGGAL PENYESALAN karya Parpal Poerwanto. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

TINGGAL PENYESALAN

Oleh: Parpal Poerwanto

Sukesa tidak berani keluar kamar. Ia masih mematung di depan cermin. Seolah-olah tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. “Ah, ini cermin pasti bohong!” dan, “pyaaaar....!” berantakan. Tubuhnya praktis tidak berkain sedikitpun. Semua telah robek akibat perubahan ukuran tubuh yang mendadak dengan ukuran jumbo, raksasa. Itulah yang membuat kesadarannya bahwa cermin tadi tidak bohong. Serta kesadaran akan penyesalan sepanjang hayatnya.

Nafsu. Ya, itu semua berawal dari nafsu. Nafsu untuk mengetahui sesuatu yang bukan untuk konsumsinya. Rasa ingin yang berlebihan membuatnya susah menerima saran. Itulah nafsu yang menguasai manusia tanpa si manusianya sadar bahwa telah dijajah oleh nafsunya sendiri.

“Mengapa Kanda Dewi Sukesi yang diperbolehkan?” tanya Sukesa dengan nada protes kepada ayahnya, Prabu Sumali.
“Karena dialah yang membuat sayembara itu. Jadi, sudah sepantasnya kalau dia yang mendapatkan wejangan itu.”

Akan tetapi yang namanya nafsu sudah merasuk jiwa, alasan apapun tidak bisa meluluhkannya. Sukesa nguping di balik bilik ketika Begawan Wisrawa mengurai makna ilmu Sastrajendra. Sebenarnya, Begawan Wisrawa mengikuti sayembara itu atas nama anaknya, Prabu Danaraja raja Lokapala.

Jelas masuk ke telinga Sukesa bahwa isi Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu merupakan suatu kebaikan bagi kehidupan umat manusia, baik di dunia maupun di akherat. Sastra merupakan tulisan atau ilmu pengetahuan sedangkan jendra artinya Yang Maha Gaib, Gaibnya Gusti Allah. Hayuningrat adalah keselamatan jagad raya, pangruwating merupakan cara untuk melebur, menghilangkan, dan diyu adalah keangkaramurkaan.

Kala itu, sebab  wejangan ilmu itu, keadaan jagad raya gonjang-ganjing. Kawah candradimuka tidak lagi panas membara bahwa temperaturnya setara dengan air sendang di pegunungan. Tidak satupun kehidupan yang sengsara, semuanya menemukan kebahagiaan, ketenteraman. Sebab dari itu, Batara Guru tidak bisa membiarkan semua itu terjadi. Sebab, bagaimanapun yang namanya dunia itu tempat ujian manusia untuk menuju dunia lain yang lebih abadi. Jika di dunia tidak ada manusia yang berbuat dosa, maka untuk apa neraka dibuat?

Untuk itu Batara Guru memanggil Batari Durga untuk menghasut Begawan Wisrawa dan Dewi Sukesi. Benar, berkat kelihaian Batari Durga, Dewi Sukesi memandang Begawan Wisrawa bak jejaka 21 tahun. Tidak ada keriput kulit karena dimakan usia, yang ada adalah jejaka tampan dengan daya tarik ketajaman pikir yang luar biasa.

Sebagai begawan, Wisrawa sadar bahwa apa yang tengah dihadapi itu tidak benar. Makanya dia mengingatkan agar Dewi Sukesi bisa berpikir jernih.

“Begawan, mungkin sudah jadi suratan jagad bahwa saya harus mengabdi sebagai istri terhadap Begawan.”
“Dewi, awal kedatanganku kemari, aku sebagai duta dari anakku, Prabu Danaraja bukan untuk diriku pribadi.”
“Begawan, maaf sebelumnya. Isi sayembara adalah orang yang bisa mengurai Sastrajendra. Sedangkan yang bisa memejang ilmu itu adalah engkau, Begawan.”

Tercenung Begawan Wisrawa. Ia baru sadar bahwa memang demikian isi sayembara itu. Dan sebagai lelaki, meskipun usianya sudah uzur pasti akan tergoda pula dengan kemolekan perawan belasan tahun yang tanpa ragu-ragu melucuti pakaian yang dikenakan, satu per satu.

Sukesa terperanjat. Masih dari bilik ia mendengarkan keganjilan. Bukan wejangan lagi yang didengar tetapi desahan-desahan napas yang saling berpacu. Nafsu ingin tahunya kembali muncul. Dirinya tidak puas hanya mendengarkan suara-suara aneh itu. Ia berusaha untuk mengetahui sebenarnya apa yang terjadi.

Seketika itu pula nafsunya kembali terpacu. Hasratnya muncul dengan libido yang menggebu. Saking kuatnya nafsu itu menguasai dirinya, tanpa sadar semua pakaian yang dikenakan satu per satu robek karena tidak muat lagi mengurung tubuhnya yang kian menggunung. Ksatria tampan itu telah berubah ujud menjadi raksasa.

Sukesa baru sadar bahwa dirinya telanjang bulat, lalu berusaha masuk ke kamar. Untung saja pintu kamar masih memberi ruang masuk meskipun dengan cara tertunduk.

Sukesa berharap tubuhnya berangsur-angsur pulih mengecil. Namun harapan itu sepertinya bagaikan menunggu geluduk di musim kemarau. Sukesa menyesal, benar-benar menyesal.

Wonogiri, 250715

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi kami, ya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cerpen - TINGGAL PENYESALAN"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel