-->

Budaya - LEBIH BAIK MENYISIH

Budaya - LEBIH BAIK MENYISIH
Budaya - LEBIH BAIK MENYISIH

LEBIH BAIK MENYISIH

Oleh: Parpal Poerwanto

TAMAN TEMBANG DAN SASTRABUDAYA – Malam itu Mas Guru Bonang sanja ke rumah Kiai Gunungan. Sebenarnya beliau tidak suka disebut kiai. Beliau lebih suka disapa bapak atau mas, karena memang umurnya hanya selisih empat tahun dengan Mas Guru Bonang. Selain itu, sebutan kiai dirasa terlalu berat untuk disandang dan dipertanggung jawabkan.

Kali kesempatan ini Mas Gunungan ngrembug bab angkara murka. “Angkara murka di muka bumi senantiasa lahir saban hari. Datangnya seirama dengan tiupan napas manusia, ambisi! Segala ambisi akan menghalalkan cara-cara keji untuk memiliki, memenangi, menguasai, dan menindas yang lemah.

Dalam pewayangan, simbol angkara murka adalah Batara Kala. Dikisahkan, ketika Purusada meminta bantuan untuk menyembuhkan penyakit korengnya kepada Batara Kala, Batara Kala menyanggupi asalkan diberi imbalan 100 raja sebagai santapannya.

Sebanyak 99 raja sudah dapat ditaklukkan Purusada. Berarti tinggal seorang raja lagi. Kini incarannya adalah seorang raja yang cacat tubuhnya, Prabu Widarba. Bukan soal yang berarti bagi Purusada untuk mengalahkan raja cacat itu. Dalam sekali gerakan sudah dapat dilumpuhkan.

Hanya sayang, Batara Kala tidak berkenan menyantap daging raja yang cacat. Dia minta ganti seorang raja yang harum darah dagingnya, yakni Sang Prabu Sotasoma.

Sang Prabu Sotasoma rela dirinya disantap oleh Batara Kala asalkan seratus raja yang ditawan itu dilepaskan. Cukup dirinya saja yang menjadi santapan Batara Kala. Mendengar pernyataan Prabu Sutosoma itu Batara Kala luluh hatinya. Sifat keangkaramurkaannya lenyap karena keluhuran budi Sang Sotasoma. Angkara murka yang menguasai jagad ini bisa sirna dengan cara meluluhkan sumber angkara murkanya, sura dira jaya ing rat lebur pangruwating diyu”.

Mendengar pitutur Mas Gunungan itu, Mas Guru Bonang teringat akan nasihat yang disampaikan Cak Nun bahwa menyikapi keadaan sekarang ini yang penuh dengan keadaan saling memengaruhi, terutama lewat media sosial (medsos), terkadang orang sudah melampaui batas. Cercaan, fitnahan, provokasi, dan sejenisnya sudah seperti menu setiap hari. Bahkan saking bablasnya, isu agama yang dijadikan senjata. Itu semua sebenarnya hanya untuk mencari kepuasan sesaat, dunia. Kalau kita mencari kekuasaan dunia ya hanya kekuasaan itulah yang didapat.


Juga teringat dengan pesan seorang guru sekaligus sahabatnya yakni Yant Mujiyanto. Beliau mengatakan bahwa hidup ini mencari ridha-Nya. Tuhan membawa khabar gembira bagi orang-orang yang senantiasa berjalan digaris-Nya. Orang-orang yang penyabar dan saling menyayangi, mengasihi serta saling toleransi. Lalu, bagaimana sikap kita agar tidak terjebak gemerlapnya dunia? Lebih baik menyisih, dari pestapora yang berakhir perih.

Wonogiri, 070518

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Budaya - LEBIH BAIK MENYISIH"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel