Budaya - HIKMAH PUASA
Wednesday, 16 May 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - HIKMAH PUASA |
Oleh: Parpal Poerwanto
TAMAN TEMBANG DAN SASTRA – BUDAYA – Di medsos, baru-baru ini rame tentang olok-olok mengenai wawancara Presiden Jokowi yang konon katanya, ditayangkan di sebuah stasiun televisi swasta. Sebenarnya, Mas Guru Bonang tahunya cuma di medsos saja. Perihal yang menjadi gunjingan adalah ketika Pak Presiden ditanya mengenai hikmah puasa.
Puasa adalah milik pribadi. Orang lain tak bisa menilai kadar puasa orang lain. Puasa ramadan merupakan ritual yang pelaksaannya ditentukan dalam waktu tertentu di setiap tahunnya. Menurut Otto Sukatno CR, puasa sebagai induk ritual tatanan sosial dan spiritual peradaban manusia, didedahkan antara lain, puasa adalah “diksi dan imaji tentang lapar dan dahaga yang membahagiakan.
Tentang lapar dan dahaga, orang dewasa pun bisa menjadi kanak-kanak. Siapa yang tidak ngiler di saat siang terik melihat seseorang menikmati es buah atawa es degan, sementara kita dalam keadaan puasa? Bagi kaum “kanak-kanak” hal itu dinganggapnya sesuatu yang tidak menghormati orang berpuasa, tidak toleran. Padahal, sebenarnya itulah ujian puasa kita, kesabaran kita, kadar derajat puasa kita.
Nah, di sini jelas bahwa puasa itu urusannya dengan keimanan, kepercayaan dan tunduk kepada perintah Tuhannya. Kita bersakit-sakit menahan haus dan lapar sebelum azan subuh berkumandang, dan setelah tiba waktunya, saat azan maghrib menggema, kita akan menuai kebahagiaan dengan rahmat Allah berupa makanan dan minuman seharian tidak berhasil menggoda iman kita.
Akan tetapi yang namanya gebyar ramadan memang memesona. Sandiwara Ramadhan. Demikian kata Cak Nun dalam sebuah puisinya. Ketika ramadan tiba, mendadak muslimin, mendadak muslimah. Yang muslimin pake baju koko (seperti para pendekar kungfu yang main dalam film laga) serta asesoris lainnya seperti kofiah, sorban, dan tasbih. Yang muslimah rame-rame pake hijab dengan baju gamisnya.
Puisi satire itu memang pas dan tepat untuk kembali berpikir jernih, sebenarnya apa puasa itu dan untuk siapa pula puasa itu. Dengan demikian pastilah kita memahami hikmah puasa yang sebenarnya. Bukan hanya hafalan yang kita peroleh di saat guru agama memberikan pertanyaan sewaktu di bangku sekolah. Siapa yang berani jamin jika setiap ulangan mendapatkan nilai 100 akan masuk surga? Semua kembali ke Allah. Sugeng syiam, mudah-mudahan puasa kita tidak sia-sia. Sabar.
Wonogiri, 25-06-2015

0 Response to "Budaya - HIKMAH PUASA"
Post a Comment