-->

Budaya - HAJI MUHIDIN

Budaya - HAJI MUHIDIN
Budaya - HAJI MUHIDIN

HAJI MUHIDIN

Oleh: Parpal Poerwanto

TAMAN TEMBANG DAN SASTRABUDAYA – Tokoh Haji Muhidin pada sebuah sinetron di televisi swasta sangat menjengkelkan plus menggemaskan. Bahkan tokoh tersebut bisa membiaskan si tokoh utama (sesuai judul sinetronnya tentunya). Tanpa kehadirannya sinetron itu terasa sepi, cemplang, dan “ndlujur”. Namun, ketika dia hadir pasti ada hal-hal yang membuat penonton mangkel bahkan hingga tepuk jidat!

Kehidupan Haji Muhidin sebenarnya banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Semisal, pada kenyataan perpolitikan di tanah air ini.

Dulu, ketika lagi musim Pemilu, Mas Guru Bonang pernah iseng-iseng cetingan di fesbuk dengan salah satu peserta calon anggota legislatif. Si Calon itu posisinya tidak aman, tetapi masih merasa bangga karena dirinya menyatakan tanpa uang. Si Calon juga menyebut nama calon lain yang konon menggunakan uang milyaran rupiah.

“Katanya pake uang haram he he...” imbal Mas Guru Bonang.
“Hehehe realitasnya begitu. Kalau saya jika dihitung dr sisi biaya operasional menang besar.” jawab Si Calon yang kalah itu.

Padahal, “dia” yang lolos ke senayan itu dari partai berbasis agama yang kental menyuarakan amar ma’ruf nahi munkar, sudah barang tentu juga mengharamkan pulitik uang.

Akan tetapi...! Waktu pun berlalu. Tatkala ada wacana si dia yang konon menggunakan uang milyaran (sesuai apa yang dikatakan oleh Si Calon tadi) kini akan menjagokan diri sebagai kepala daerah, maka orang yang sangat antusias mendukung adalah Si Calon tadi. Anehnya, ketika Mas Guru Bonang iseng-iseng in-box ke Si Calon demikian “nanti njago bupati jg pake uang milyaran seperti kata sampean saat nyaleg dpr hehehehe...” In-box itu cuma dilihat. Hingga sekarang tidak ada jawaban.


Yup, apapun partainya, baik yang nasionalis maupun yang agamis, jika sudah masuk ranah pulitik memang pelik. Yang halal bisa menjadi haram. Yang haram didamba-damba. Bahkan, yang tidak sehati dan seirama kemudian dicap sesat. Jika yang senada dan serasa apapun tingkah lakunya dianggap suatu hal yang wajar bahkan dipuja-puja. Mungkin ini mengadopsi dengan pola pikir Haji Muhidin. Jika orang lain berbuat kebaikan dikatakan riya’. Sebalikanya jika dirinya yang riya’ dia berdalih, “Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Dik Rumi....!” He he.

Wonogiri, 20-6-2015

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Budaya - HAJI MUHIDIN"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel