Novel - ULAR DI ATAS PANGGUNG # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI
Thursday, 12 April 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - ULAR DI ATAS PANGGUNG # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI |
ULAR DI ATAS PANGGUNG
Oleh: Parpal PoerwantoSudah kukatakan di bagian lain bahwa aku mempunyai prinsip tidak mau kewirangan. Prinsip ini tentu terkait dengan saat-saat aku menjalankan tugasku sebagai dalang. Pada masa itu, banyak sekali orang yang sengaja menjajal sejauh mana “kesiapan” dalang. Mungkin ini maksudnya hanya sekedar guyon saja. Akan tetapi, jika tidak mampu mengatasi keisengan itu sebagai dalang tentunya akan kehilangan muka. Akan turun pamornya serta jatuh wibawanya. Dan buntutnya jelas, lama kelamaan tidak ada yang menanggapnya. Kalau ini yang terjadi, dari mana aku mendapat rejeki untuk menghidupi keluargaku?
Ada berbagai cara untuk bisa tidak kewirangan. Yang pertama tentunya adalah menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Semua yang terjadi di bumi ini tentu atas kuasa Tuhan. Maka, ketika ada orang yang coba-coba, sehebat apapun orang itu, pasti akan mudah dikalahkan jika semua persoalan itu kita serahkan kepada Tuhan. Untuk itu, aku sering berdoa agar dalam menjalani kehidupanku sebagai dalang selalu terhindar dari perilaku orang-orang yang suka iseng.
Selain itu, aku juga mengadakan langkah-langkah pendekatan atau istilahnya kula nuwun sebelum mendalang di suatu tempat. Aku berusaha mengenal (survei) dulu wilayah tersebut. Jika ada orang pintar atau dalang, tentu aku mintai restu. Hal ini dimaksudkan agar dalam menjalankan tugasku menggelar wayang pada malam yang telah ditentukan tidak menemui hal-hal yang tidak diinginkan. Namun demikian, sesekali waktu “gangguan” itu muncul juga. Seperti beberapa kejadian yang masih kuingat seperti di bawah ini.
Kejadian ini terjadi di Purwodadi Jawa Tengah pada akhir tahun 1980. Waktu itu aku mengajak beberapa niyagaku termasuk Martoyoso, sekarang sudah almarhum. Martoyoso adalah ayah Sutarto. Kujelaskan, kedua bapak-anak itu sama-sama mahir menabuh gender. Bahkan, anaknya, yaitu Sutarto telah terbiasanya menggantikan kedudukan ayahnya sebagai penabuh gender ketika umurnya belum genap 15 tahun. Kelak ia juga menjadi seorang dalang. Namun, rupanya tidak begitu didalaminya. Ia lebih memilih menjadi pegawai negeri sebagai jalan hidupnya.
Panggung sudah ramai. Penonton pun sudah berdatangan. Suasana benar-benar ramai waktu itu. Dengan bangga aku menaiki panggung dan menuju depan kelir. Tiba-tiba Martoyoso berteriak ketakutan sambil menyebut-nyebut ular. “Banyak ular, banyak ular!” katanya sambil berdiri dan tangannya menuding-nuding. Seketika semua niyaga dan pesindhen ketakutan. Entah mengapa tiba-tiba aku mengucap kata spontan, “Itu tambang!” Seketika suasana menjadi hening. Melihat para niyaga kembali duduk, para penonton yang tadinya ingin berlari mengurungkan niatnya. Mereka malah mendekat ke panggung di mana para niyaga dan pesindhen kembali tenang.
Menurut Martoyoso, apa yang dilihat itu benar adanya. Yaitu ada banyak ular yang memenuhi panggung di sela-sela gamelan. Namun, semua itu seketika lenyap ketika aku mengatakan bahwa itu hanyalah tambang. Entah itu permaianan apa aku sendiri tidak tahu. Untuk selanjutnya aku mendalang sampai pagi tiada halangan suatu apapun.
Di lain waktu, kira-kira akhir tahun 1989 adikku Suloto mendapat tanggapan di Donomulyo, Malang Jawa Timur. Waktu itu Suloto masih dalam tarap belajar mendalang. Tiba-tiba aku ingin menyusulnya. Bukan apa-apa, secara pribadi aku mempunyai pengalaman yang aneh di daerah Donomulyo. Mungkin anak-anak jaman sekarang tidak akan percaya dengan cerita ini sebab tidak masuk akal. Kejadiannya begini. Pada saat tengah mendalang, tiba-tiba gedebog pisang tidak bisa untuk menancapkan wayang. Kemudian aku berdoa memohon kemurahan Tuhan agar malam itu aku tidak kewirangan. Tiba-tiba terlintas pohon pinang di pikiranku. Untuk itu aku minta supaya gedebog pisang diganti dengan pohon pinang. Akhirnya dengan mudahnya aku menancapkan wayang di pohon pinang sebagai pengganti gedebog pisang.
Kembali ke kejadian ketika aku menyusul Suloto. Sewaktu aku sampai di tempat yang punya hajat, gamelan sudah bertalu. Penonton penuh. Maklum, yang namanya tontonan wayang sangat digandrungi waktu itu. Di setiap pertunjukkan wayang selalu dipenuhi penonton yang berjibun. Begitu juga pertunjukan malam itu. Ketika tersiar ada dalang muda, tentu keinginan penonton untuk melihat lebih dekat begitu besar.
Aku masih berada di antara penonton. Tiba-tiba ada perasaan aneh di dalam hatiku. Seketika aku melangkah ke atas panggung. Aku duduk di belakang Suloto sambil berdoa agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Suloto sudah menancapkan Prabu Duryudana di gedebog. Kemudian ia meraih dua emban untuk menghadap Sang Prabu. Akan tetapi, apa yang terjadi? Tangan Suloto menjadi kaku.Tangannya yang sudah memegang wayang tetap tidak bisa digerakan. Begitu juga anggota badan lainnya. Suloto bagaikan patung duduk yang sangat lucu sekali. Ada sebagian penonton bersorak. Lainnya mencemooh. Melihat semua itu aku langsung memukul badan Suloto. Seketika tangan dan badan Suloto pulih seperti sedia kala. Kemudian, aku suruh Suloto duduk dibelakangku saja. Ketika Suloto telah duduk, aku segera melanjutkan pagelaran wayang malam itu. Penonton seperti tersedot (terhipnosis) malam itu. Terbukti semuanya ingin mendekat panggung untuk melihat aku menggelar lakon Wahyu Purba Sejati.
Anehnya, ketika aku yang mendalang tidak ada gangguan sedikitpun. Bahkan, boleh dikatakan pagelaran wayang malam itu sukses luar biasa. Terbukti semua penonton setia mengikuti hingga usai di pagi harinya. Semuanya tidak terlepas dari rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Novel - ULAR DI ATAS PANGGUNG # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI"
Post a Comment