Novel - LELAKU 1 # KI WARSINO - BIOGRAFI
Sunday, 15 April 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - LELAKU 1 # KI WARSINO - BIOGRAFI |
LELAKU (1)
Oleh: Parpal PoerwantoTidak ada sesuatu di luar kekuasaan Gusti Allah. Semua saja yang telah dan akan terjadi sudah ditentukan oleh-Nya. Kesemuanya itu juga menjadi rahasia-Nya. Tidak seorang pun tahu apa yang bakal terjadi pada waktu mendatang walaupun sedetik kemudian.
Manusia adalah hamba yang sangat terbatas kemampuannya. Namun demikian, di balik keterbatasannya itu, manusia bisa mengembangkan akal budi. Bisa menggunakan pikirannya untuk membaca sesuatu tanda-tanda alam dengan ilmu titen yaitu mengingat dengan teliti terhadap gambaran, perlambang atau kejadian yang sama atau hampir sama lalu disimpulkan dan dihubungkan dengan apa yang terjadi kemudian. Dalam hal ini semua manusia memilikinya.
Akan tetapi, terkadang tidak pernah dipikirkan oleh manusia itu sendiri. Mereka kadang tidak titen terhadap situasi pada waktu itu yang kemudian akan terjadi sesuatu dikemudian hari. Contohnya, sangat tidak mungkin tiba-tiba turun hujan dengan derasnya kalau tidak diawali dengan adanya mendung di langit. Memang, bisa saja langit mendung dengan hebatnya tetapi tidak akan terjadi hujan. Itu hak Gusti Allah. Akan tetapi, sebagai manusia yang terbatas segalanya, dengan ilmu titen-nya tentu berkeyakinan bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Begitulah, semua pralambang yang terjadi di muka bumi akhrinya bisa ditangkap dengan mata batin karena ilmu titen tersebut.
Orang hidup tentu ada tujuannya. Tujuan utama jelas yaitu ingin hidup bahagia di dunia dan di akherat. Namun, untuk menuju ke arah itu tentu ada cara-cara yang harus ditempuh. Ini sebenarnya melewati tingkatan-tingkatan. Dalam kawruh ilmu kejawen tingkatan itu ada tiga, yaitu kanuragan, kasepuhan, dan ngelmu sejati.
Orang Jawa mengatakan bahwa ngelmu iku kelakone kanthi laku. Karenanya untuk mencapai ketiganya (yaitu kanuragan, kasepuhan, dan ngelmu sejati) juga harus lelaku. Lelaku ini bermacam-macam. Ada lelaku yang dilaksanakan dengan cara pasa, di antaranya seperti :
1. pasa biasa, di mana pada siang hari kita tidak makan dan minum serta tidak menjalankan aktivitas sex dan berbuka pada saat matahari tenggelam. Pada pasa ini kita juga makan sahur sebelum waktu shubuh tiba.
2. pasa sunah pada hari Senin dan Kamis,
3. pasa mutih, yaitu pasa biasa dengan bukanya berupa nasi putih dan air putih,
4. pasa weton, yaitu pasa pada hari kehaliran berdasarkan horoskop Jawa, dan
5. ngebleng, yaitu tidak makan dan tidak minum sampai waktu yang kita inginkan seperti 3 hari, 7 hari, 14 hari, 21 hari, atau 40 hari.
Sedang lelaku lainnya di antaranya adalah :
1. nganyep, yaitu makan segala makanan kecuali nasi dan garam. Jadi, segala makanan dari alam boleh kita makan asalkan tidak diberi bumbu garam,
2. ngentah, yaitu makan makanan yang tidak dimasak terlebih dahulu. Misalnya berbagai macam buah-buahan. Minumnya juga air yang tidak dimasak seperti air degan dan lain sebagainya,
3. mutih, ini berbeda dengan puasa mutih, yaitu kita tidak puasa akan tetapi setiap kali makan hanya berupa nasi putih dan air putih,
4. ngalong, setiap harinya makan berupa buah-buahan seperti makanannya kalong. Umpama mangga, sawo, pisang dan lain sebagainya,
5. ngidang, yaitu hidup di alam bebas dan makan apa adanya berupa makanan yang tidak dimasak dengan api,
6. ngrowot, yaitu makan segala pala pendhem, seperti talas, tela, uwi , dan pohong yang tidak mengadung garam serta minumnya berupa air putih, dan
7. kungkum, nepi di dalam air tempuran atau tempat-tempat berair lainnya yang dianggap mempunyai tuah.
Sebagai muslim, pasa di bulan Ramadham dan pasa sunat pada hari Senin-Kamis sudah biasa aku jalani sejak remaja. Karena sudah terbiasa pasa, badan ini tidak akan manja. Makanya ketika malaksanakan pasa atau lelaku lainnya tidak mengalami tekanan fisik yang berarti. Akan tetapi, ada hal-hal yang perlu dicatat mengenai beberapa hal sebagai pengertian saja. Umpamanya ketika ngrowot. Sudah aku katakan bahwa yang dimakan pada waktu ngrowot adalah tela, uwi, dan pohong. Ketiga jenis makanan itu berbeda rasa di mulut dan diperut. Jadi perlu penyesuaian supaya kuat menjalaninya.
Awalnya, ketika aku makan tela perut akan terasa perih. Karena perih, tentu mengganggu kesehatan. Untuk itu aku coba campur dengan pohong. Setelah kucampur dengan pohong ternyata perut tidak terasa perih lagi. Untuk selanjutnya kedua jenis makanan itu selalu aku campur sebagai menu ketika ngrowot.
Supaya tidak bosan, aku mencoba makanan lain, yaitu uwi. Ternyata uwi merupakan makanan yang cocok di perut. Selain membuat kenyang juga tidak membuat perut terasa perih. Makanan lain yang tak kalah bagus di perut adalah talas. Hanya saja, jika cara memasaknya kurang bagus bisa terasa gatal di mulut.
Selain tentang makanan, ada hal agak berat dirasakan ketika ngrowot adalah penyesuaian diri. Ngrowot ini akan terasa berat pada tiga hari pertama yaitu badan terasa lemas, perut keroncongan dan mual. Akan tetapi, setelah itu akan terbiasa sehingga badan tetap sehat dan segar meskipun menjalankan aktivitas sehari-hari.
Selain itu, aku pernah bertapa di Gunung Lawu hampir dua tahun lamanya. Waktu boleh dikatakan aku lelaku ngidang. Yaitu hidup di alam bebas. Sebagai makanan kadang aku dapatkan dari hutan atau minta kepada petani di kaki gunung. Sedangkan untuk minum cukup air sumber.
Lelaku di puncak Gunung Lawu pada tempat yang dinamakan Argo Dumilah perlu persiapan yang matang. Hawa terasa sangat dingin. Ini bisa dibuktikan dengan adanya embun atau uap air yang menjadi gumpalan es. Terus terang, selama di sana aku tidak selalu berada di puncak atau Argo Dumilah. Hal ini kulakukan sesuai keadaan (cuaca) saat itu. Misalnya pas musim hujan, tentu aku akan turun. Tempat yang kutuju biasanya Pringodani atau rumah penduduk di kaki Gunung Lawu.
Aku merasa sangat cocok lelaku di Gunung Lawu. Karenanya,, sejak saat itu aku selalu menyempatkan diri untuk datang ke puncak Gunung Lawu pada bulan Sura di setiap tahunnya untuk bertafakur di sana.
Untuk menuju ke sana, dari rumah aku cukup jalan kaki. Biasanya aku berangkat sore hari dan sampai di kaki bukit pada keesokan harinya. Setelah istirahat beberapa saat barulah memulai menaiki gunung yang menjulang tinggi itu dengan memakan waktu sekitar delapan jam. Terkadang ada yang bertanya mengapa aku sering datang ke gunung Lawu ketika bulan Sura. Di sini aku jelaskan bahwa tempat itu hanyalah merupakan sarana belaka.
Di Gunung Lawu aku bisa lebih berkonsentrasi dalam mengheningkan cipta memohon atas kemurahan Gusti Allah. Hal ini bisa disebabkan beberapa sebab. Pertama, di Gunung Lawu hawanya dingin dan jauh dari keramaian yang tentunya akan membawa ketenangan tersendiri. Kedua, dengan perjalanan jauh tentu akan merasa sayang jika tidak dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jarak rumah ini sampai Gunung Lawu lebih dari seratus kilo meter. Belum lagi jalannya yang terjal dan naik turun. Padahal, untuk ke sana aku cukup jalan kaki. Nah, jika mengingat perjalanan yang penuh perjuangan itu setelah sampai hanya digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat tentu akan merasa sayang, bukan?
Sedangkan ketiganya, dengan jalan kaki serta menghirup udara pegunungan yang segar, akan membuat jiwa dan raga ini kembali bugar. Jadi, ada semacam rasa ingin mempertahankan tradisi jalan kaki ke Gunung Lawu itu. Namun demikian, yang namanya manusia itu tentu kemampuannya terbatas. Begitu juga dengan ketahanan fisiknya. Seiring dengan bertambahnya umur, yaitu ketika umurku telah memasuki usia 70 tahun, tradisi itu aku tinggalkan. Sebagai gantinya, setiap bulan Sura aku jalan kaki ke Kahyangan Dlepih Tirtomoyo. Pertimbangannya, selain jaraknya cukup dekat, udara serta ketenangan di Dlepih tidak jauh berbeda dengan di Gunung Lawu.
Hal lain yang sering aku jalankan adalah kungkum di tempuran atau tempat lain yang dianggap mempunyai tuah seperti Kahyangan umpamanya. Kungkum adalah usaha penyatuan diri dengan alam yang salah satunya dengan media air. Bagi yang belum terbiasa, kungkum itu merupakan siksaan fisik yang luar biasa. Coba saja, dalam udara malam yang sangat dingin kita harus menceburkan diri ke air. Bisa dibayangkan, bukan?
Akan tetapi, agar kita bisa menjalaninya dengan penuh kidmat ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, kita harus mengenal medan terlebih dahulu supaya di dalam lelaku nantinya tidak ada rasa was-was atau takut. Dengan demikian kita bisa memusatkan diri memohon kepada Yang Maha Esa secara pasrah dan total. Kedua, dengan keprasahan total kita harus berusaha sekuat tenaga agar bisa bertahan berendam di dalam air. Sebab setelah kita melewati waktu sekitar 2 jam, (suhu) badan kita sudah bisa menyesuaikan diri dengan air sehingga kita akan nyaman menjalaninya. Bahkan badan terasa berendam di air hangat.
Sedangkan yang ketiganya adalah adab kita ketika melaksanakan kungkum. Yang harus diperhatikan ketika datang harus menghadap dari mana sumber sungai (hulu). Sedangkan pelaksanaannya adalah menghadap ke arah muara.
Terakhir, adalah ketika banyak bayangan-bayangan yang datang. Kita harus bisa menahan diri sebab semua yang datang menggoda itu hanyalah bayangan (halusinasi) saja. Itu adalah godaan, jika kita kuat insya Allah kita lulus dalam lelaku kungkum ini.
Sedangkan mengenai ngebleng, yaitu berupa lelaku tidak makan dan tidak minum selama waktu yang telah ditentukan juga pernah aku jalani. Awal latihan berupa ngebleng selama tiga hari yang diambil neptu 40. Selanjutnya ketika sudah siap lahir batin akhirnya melaksanakan ngebleng selama 40 hari. Selama menjalani ini, tekanan yang paling kuat adalah tiga hari pertama. Rasa haus dan lapar sangat berat kurasa. Hampir-hampir saja aku tidak kuat. Padahal, aku sudah terbiasa ngebleng selama tiga atau tujuh hari. Akan tetapi, tekanan itu sangat jauh berbeda rasanya. Namun, ketika sudah melewati masa tiga hari badan sudah mengalami penyesuaian dari fisik ke alam supranatural. Masa ini sekitar hari ke empat sampai hari ke tujuh.
Selanjutnya kita akan memasuki alam bawah sadar yang bila digambarkan suasananya bagaikan saat menjelang senja kala di sore hari. Keadaan temaram kuning keperakan namun lebih terang. Berbagai cobaan biasanya datang. Yang sering adalah munculnya ular besar atau jenis-jenis hewan siluman menakutkan lainnya. Selian itu juga sering bertemu dengan orang-orang sakti jaman dahulu yang tidak perlu disebutkan satu per satu di sini. Itulah gambaran lelaku yang pernah aku jalani.
Sekarang kembali bicara mengenai kanuragan, kasepuhan dan ngelmu sejati. Mengenai ilmu kanuragan telah aku jalani sejak usia muda. Untuk mencapai tataran kanuragan itu aku menempuh lelaku seperti yang pernah kuungkapan di atas tadi seperti, pasa, ngrowot, kungkum, ngebleng dan lain-lain.
Sudah aku katakan di bagian lain bahwa pada jamanku dulu, yang namanya dalang itu antara satu dengan lainnya “tidak pernah akur”. Bahkan kalau bisa membuat malu si dalang ketika sedang pentas dengan ilmu yang dimilikinya. Nah, dengan ilmu yang kumiliki, alhamdulillah aku selalu berhasil mengatasi segala gangguan baik di atas panggung maupun pada kejadian-kejadian lain di luar panggung. Mungkin ini hikmah dari ilmu kanuragan.
Selanjutnya, semakin bertambahnya usia, manusia semakin menep. Dalam hal ini kita menuju di tingkat kasepuhan. Ilmu sepuh itu lahir juga dari ilmu titen. Oleh orang pandai terdahulu, semua kejadian yang terjadi di alam ini dicatat dan direnungkan kemudian dihubungkan dengan kejadian yang akan mendatang. Sederhana saja, bukan? Jadi, tidak ada orang hebat di bumi ini kecuali para nabi yang telah dipilih Gusti Allah.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Novel - LELAKU 1 # KI WARSINO - BIOGRAFI"
Post a Comment