-->

Budaya - WS RENDRA # ANGKATAN 66

Budaya - WS RENDRA # ANGKATAN 66
Budaya - WS RENDRA # ANGKATAN 66

WS RENDRA


TAMAN TEMBANG DAN SASTRABUDAYA - Nama lengkapnya: Willibrordus Surenda Rendra. Lahir di Solo tanggal 7 Nopember 1935. Sejak kecil dapat pendidikan di sekolah Katolik. Kemudian mahasiswa Fakultas Sastra jurusan Sastra Barat di Universitas Gajah Mada, Jogya, sampai tingkat B.A.

Sejak 1954 menulis sajak, cerita pendek, drama, kritik dan esei dalam berbagai majalah, antara lain Kisah, Budaya, Basis, dan lain-lain. Gemar deklamasi, main drama dan jadi sutradara.
Tahun 1954 mengikuti seminar sastra di Harvard University. Dua bulan di Harvad University, dua bulan berkeliling Amerika, kemudian mendapat beasiswa belajar drama pada American Academy of Dramatical Arts (AADA). Tahun 1967 kembali ke tanah air.

Rendra memenangkan hadiah pertama Hadiah Sastra tahun 1954 yang diadakan oleh Bagian Kesenian PP & K Jogyakarta buat dramanya  Orang-Orang di Tikungan Jalan. Juga pemenang Hadiah Sastra 1955/1956 yang diadakan oleh BMKN tahun 1957 buat kumpulan sajaknya Ballada Orang-Orang Tercinta, tahun 1956 memenangkan hadiah majalah Kisah untuk cerita pendeknya yang dimuat dalam majalah itu.

Karya-karyanya ialah: Orang-Orag di Tikungan Jalan (bersama drama Kirdjomuljo: “Nona Marjam”), Musyawarah Kesustraan Jogya (1955), Ballada Orang-Orang Tercinta, Pembangunan (1957), 4 Kumpulan Sajak, Pembangunan (1961), Ia Sudah Bertualang, Nusantara (1963).
Berikut ini salah satu karya W.S. Rendra.

BALLADA TERBUNUHNYA ATMO KARPO


Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi
bulan berkhianat gosok-gosokkan tubhnya di pucuk-pucuk para
mengepit kuat-kuat lutut penunggang perampok yang diburu
surai bau keringat basah, jenawipun telanjang.
Segenap warga desa mengepung hutan itu
dalam satu pusaran pulang balik atmo karpo
mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang
berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri.
Satu demi satu yang maju tersadap darahnya
penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muka.
-- Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!
Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa.
Majulah Joko Pandan! Di mana ia?
Majulah ia kerna padanya seorang kukandung dosa.
Anak panah empat arah dan musuh tiga silang
Atmo Karpo masih tegak, luka tujuh liang.
-- Joko Pandan! Di mana ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.
Bedah perutnya tapi masih setan ia
menggertak kuda, ditiap ayun menungging kepala.
-- Joko Pandan! Di mana ia!
Hanya padanya seorang kukandung dosa.
Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan
segala menyibak bagi derapnya kuda hitam
ridla dada bagi derunya dendam yang tiba.
Pada langkah pertama keduanya sama baja
pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo
panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka.
Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka
pesta bulan, sorak sorai, anggur darah.
Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang
Ia telah membunuh bapanya.

Dari: Ballada Orang-orang tercinta. W.S. Rendra

Sumber : H.B. Jassin, Angkatan ’66 Prosa dan Puisi

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Budaya - WS RENDRA # ANGKATAN 66"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel