Novel - HIBUR TRANSMIGRAN # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI
Tuesday, 3 April 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - HIBUR TRANSMIGRAN # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI |
HIBUR TRANSMIGRAN
Oleh: Parpal PoerwantoWaktu senantiasa lahir dan lahir. Tidak terasa sudah puluhan tahun aku menjalani profesi dalang. Baik dalang wayang purwa maupun dalang ruwat. Seiring itu pula kesadaranku untuk nguri-uri dan menyebarluaskan kebudayaan Jawa terutama dalam hal seni pewayangan dan ruwatan semakin kuat. Bisa dikatakan bahwa kehidupanku tidak pernah jauh dari seni pewayangan.
Sebagai seniman, tentu ingin dikenal masyarakat luas. Untuk masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur sudah banyak yang mengenalku yaitu Ki Warsino Guno Sukasno si Dalang Kethek. Namun untuk mendalang di luar Jawa belum kesampaian. Padahal, banyak orang Jawa yang menetap di luar Jawa seperti Sumatra, yang rindu akan kebudayaan leluhurnya. Maka, ketika ada kesempatan untuk “berkelana” ke luar Jawa tentu tidak aku sia-siakan. Walaupun waktu itu aku sudah berkeluarga, saking cintanya terhadap budaya, aku rela meninggalkan sementara waktu anak dan istriku di rumah.
Aku menghibur para transmigran cukup lama yaitu sekitar tahun 1970 sampai awal tahun 1980. Perlu aku jelaskan bahwa selama itu aku tidak menetap di Medan, Sumatra. Bila ada waktu untuk pulang ke Jawa (Wonogiri), ya aku sempatkan.
Awalnya, aku dipanggil oleh salah satu anggota DPRD Medan yaitu Bapak Sukardi untuk menghibur para transmigran di perkebunan kelapa sawit Medan. Sebagai dalang muda waktu itu, aku sangat gembira. Tawaran itu langsung aku terima. Pertimbangannya, para transmigran yang berasal dari Wonogiri rata-rata telah mengenalku sebelum itu.
Waktu itu aku sudah menikah untuk yang ketiga kalinya. Istriku yang pertama, karena tidak ada kecocokan terpaksa pisah. Sedangkan istriku yang kedua yaitu Suteki meninggal karena sakit. Akhirnya aku menikah lagi dengan gadis Tirtomoyo yang bernama Sutini.
Di Medan, sebenarnya tidak susah mencari niyaga dan waranggana. Hanya saja, aku sudah terbiasa diiringi para niyagaku di Jawa terutama si pengendang, Guno Taruno namanya. Sekarang telah almarhum. Maaf jika aku ungkapkan kisah ini.
Ia sebenarnya juga seorang dalang sekaligus pengruwat seperti diriku. Hanya saja, mungkin waktu itu aku mempunyai kelebihan dalam hal sabet, sehingga namaku lebih sedikit terkenal di atasnya. Aku akui, sebenarnya dia itu dalang yang baik. Aku juga banyak belajar darinya. Terutama yang aku tidak bisa menandingi adalah hal mengendang, bukan mendalang.
Guno Taruno sudah kuanggap seperti adik sendiri. Makanya, ketika aku mendapat tawaran mendalang di Medan, ia aku ajak pula berikut beberapa niyaga lainnya yang tidak perlu kusebutkan satu per satu.
Suatu ketika, ketika akan tampil di daerah Alailir Delapan salah satu waranggananya ada yang lupa tidak dijemput. Jujur saja aku mempunyai hati dengan waranggana itu. Selain masih muda dan cantik, ia mempunyai suara yang cukup bagus. Aku sering berjalan dan makan bersama dengannya. Kelihatannya ia pun juga ada rasa denganku. Nah, karena Guno Taruno sudah aku anggap sebagai saudara sendiri, maka untuk menjemput ke rumahnya aku percayakan kepadanya.
Maka, berangkatlah Guno Taruno menjemput pesinden tersebut. Jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh. Sekitar setengah jam jika ditempuh dengan berjalan kaki. Waktu itu kendaraan yang ada hanya berupa sepeda pancal. Ia membawa sepeda dengan pertimbangan supaya lebih cepat.
Menurut hitungan tidak sampai satu jam sudah sampailah mereka tiba di tempat pertunjukan. Akan tetapi, hampir dua jam mereka baru tiba. Ada perasaan curiga dalam hatiku. Jangan-jangan antara kedua makhluk lain jenis ini telah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Karena terbakar rasa cemburu, selama mendalang terasa hambar. Seakan-akan jarum jam aku putar cepat supaya lekas pagi dan perjunukkan segera usai.
Keesokan harinya, aku segera bertanya kepada Guno Taruno. Kepadanya aku tanyakan apa yang telah mereka lakukan kemarin sewaktu menjemput waranggana itu di rumahnya. Dengan enteng Guno Taruno menjawab bahwa dalam keadaan jauh dari istri yaitu di Jawa, bila ada kesempatan mengapa tidak digunakan? Mendengar jawaban itu sebenarnya panas hatiku.
Sebab apa? Selama ini yang lebih dekat dengan waranggana itu adalah aku. Semestinya yang bisa menikmatinya juga harus aku. Mengapa harus Guno Taruno? Apa aku harus marah padanya? Tidak! Dia bukan istriku. Juga bukan saudaraku. Maka, jawaban Guno Taruno tentang dirinya “kepepet” karena jauh dari istri saat itu bisa dianggap benar. Kadang, dalam keadaan “kepepet” orang bisa melakukan apa saja. Mungkin itu pula yang menyebabkan kedua insan itu melangkah sejauh itu.
Akibat perbuatan itu, akhirnya waranggana itu hamil. Guno Taruno mau tidak mau harus mengakui bahwa yang menebar benih itu adalah dirinya. Untuk menunjukkan tanggung jawab, ia selalu berada di sisi waranggana itu.
Saat usia kehamilan memasuki bulan ke tujuh, aku ada urusan di Jawa. Begitu juga Guno Taruno juga disurati keluarganya supaya segera kembali ke Jawa. Karenanya, berangkatlah kami berdua pulang ke Jawa. Kepada pasangannya, Guno Taruno berpesan tentang nama anak. Jika anak itu lahir laki-laki maka supaya diberi nama Kuswanto. Sedangkan apabila anak itu lahir perempuan, maka supaya diberi nama Kuswanti. Mungkin Tuhan berkehendak lain. Kabarnya anak itu lahir premature. Bayi perempuan itu tidak bisa menikmati hidup di dunia.
Oh ya, hampir lupa. Ada pengalaman lain yang kuanggap menarik selama mendalang di tanah transmigrasi. Mengenai penduduknya yang ramah-ramah tentu hal yang biasa. Bukankah semua penduduk itu adalah warga Wonogiri yang pada waktu sebelumnya sudah sering bergaul denganku? Pengalaman ini memang terasa agak aneh. Namun, semua itu aku serahkan saja kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Ceritanya begini. Aku bukan dalang satu-satunya di daerah itu. Perlu aku jelaskan bahwa wilayahku sekarang bukan hanya di daerah transmigrasi saja. Aku sudah merambah ke daerah-daerah yang banyak penduduk orang Jawa-nya. Karenanya, aku sering mendapat tanggapan di berbagai tempat. Jadi, wilayahku semakin luas. Nah, karena di daerah tersebut juga banyak dalang, maka ada rasa kecemburuan.
Hal ini sebenarnya wajar. Yang tidak wajar jika rasa cemburu itu akhirnya membutakan mata hatinya. Buktinya aku sering mendapat perlakukan yang kadang memancing keributan. Untung saja aku bisa membawa diri. Bahkan bukan itu saja. Puncaknya, ada orang jail terhadapku. Aku kena guna-guna. Satu minggu lamanya aku tidak bisa bicara. Suara mulut ini tidak terdengar meskipun lemah sekalipun. Sebagai dalang tentunya hal ini sangat mengganggu. Apalah artinya kehebatan seorang dalang jika tidak bisa mengeluarkan suara atau kata-kata?
Karenanya, aku senantiasa memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar segera terlepas dari cobaan ini. Alhamdulillah, berkat lindungan-Nya secara berangsur-angsur suaraku pulih seperti sedia kala. Meskipun aku mencurigai seseorang yang telah tega membuatku seperti itu, aku tidak akan sakit hati apalagi menuduh atau membalasnya. Aku hanya percaya pada kekuasaan Tuhan. Sebab hanya Tuhanlah sumber segala sumber.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Novel - HIBUR TRANSMIGRAN # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI"
Post a Comment