Novel - BERFSIFAT SEMENTARA # EMPU DALANG KI WASRSINO - BIOGRAFI
Monday, 9 April 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - BERSIFAT SEMENTARA # EMPU DALANG KI WARSINO - BIOGRAFI |
BERSIFAT SEMENTARA
Oleh: Parpal PoerwantoAku telah melewati masa yang cukup panjang dengan alam yang berbeda-beda dalam menggeluti profesiku, yaitu dalang. Manis getir telah aku rasakan. Cobaan demi cobaan telah berhasil aku atasi. Semuanya itu aku jalani dengan tulus ikhlas dan apa adanya. Tulus ikhlas artinya aku tidak mengharapakan sesuatu diluar jatahku sebagai dalang. Sedangkan apa adanya artinya tidak neka-neka.
Tidak terasa aku telah melewati suatu zaman yang berbeda-beda di mana setiap zaman mempunyai kesan sendiri-sendiri. Zaman itu secara umum aku golongkan menjadi tiga. Pertama, zaman penjajahan yaitu kolonial Belanda dan Jepang, kedua, zaman proklamasi dan revolusi. Sedangkan yang ketiga adalah zaman kemerdekaan. Zaman ketiga inipun juga mengalami masa-masa yang berbeda. Diawali dengan orde lama dimana Bung Karno sebagai presidennya dilanjutkan oleh Suharto dengan masa orde barunya. Kemudian timbul dengan apa yang dikatakan tentang era reformasi hingga sekarang ini.
Dari beberapa masa itu bisa aku ungkapkan beberapa hal. Pertama, bergesernya nilai budaya di masyarakat. Aku merasakan adanya pergeseran makna yang cukup tajam. Semisal, kalau dulu, yang namanya dalang itu benar-benar sebagai panutan. Hal ini berkaitan dengan perannya di masyarakat yang berhubungan dengan ilmu yang dimiliki. Dalang menjadi paranpara dalam kegiatan yang ada hubungan dengan budaya dan tradisinya. Misalnya saja, jika ada orang yang akan mempunyai hajat. Dalanglah orang pertama yang dimintai pendapatnya terutama kapan sebaiknya hari yang dipilih. Begitu juga bila ada seseorang yang akan mendirikan rumah, selamatan, syukuran, dan lain sebagainya. Bandingkan dengan dalang jaman sekarang. Hal ini memang bisa dimaklumi karena berbagai hal. Zaman sekarang, dalang bukan satu-satunya tokoh yang “dituakan” di masyarakat. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, tentu banyak orang yang cerdik pandai.
Selaian itu, kebudayaan di masyarakat sendiri yang telah bergeser. Sebagai contoh, dulu masyarakat Jawa pada umumnya selalu memegang teguh tradisi nenek moyangnya. Umpamanya hal selamatan untuk manusia sejak lahir hingga meninggal dunia. Ada nujuh bulan, sepasaran, selapanan, telungdinanan, patangpuluh dinanan, pendhak siji, pendhak loro, ruwatan, dan lain sebagainya. Apakah tradisi semacam itu sekarang masih berlaku? Kalau toh ada mungkin masih bisa dihitung. Yang pasti, manusia semakin hari inginnya yang praktis-praktis saja. Tidak mau hal-hal yang dianggap buang-buang waktu, biaya, dan tenaga.
Dalam hal ini tidak ada yang bisa disalahkan. Karena yang namanya peradaban dan budaya itu senantiasa bergeser. Dan manusia tidak bisa membendung semua itu.
Sedangkan yang kedua, mengenai penghargaan masyarakat terhadap seni pedalangan itu sendiri. Dulu, wayang adalah benar-benar menjadi tuntunan disamping tontonan yang menghibur. Untuk diketahui, di dalam pewayangan itu sendiri penuh dengan muatan-muatan falsafah hidup. Banyak ajaran-ajaran mulia yang bisa diambil sebagai pegangan hidup. Baik hidup secara pribadi (individu), berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Misalnya saja, ketika Bagawan Abiyasa mejang Raden Abimanyu yang sarat dengan petuah luhur. Waktu itu, para penonton pasti akan mendengarkan secara saksama terhadap isi wejangan itu. Penonton bukan hanya mendengar. Akan tetapi, mereka akan mengejawantahkan isi wejangan itu pada pribadi dalam kehidupan sehari-hari. Sebab apa? Hal itu disebabkan isi wejangan itu bukan bualan atau pepesan kosong istilahnya. Wejangan itu adalah berbagai pengertian atau makna hidup yang diambil kitab wahyu Illahi, Alquran. Disamping isi wejangan itu sendiri, kisah-kisah atau lakon pewayangan itu juga sarat dengan ajaran hidup misalnya, tentang ksatria yang selalu membela kebenaran dan memberantas ketidakadilan atau tindak kesewenang-wenangan.
Mengenai tontonan, sudah jelas. Pagelaran wayang sarat dengan hiburan. Sejak adegan Limbukan dalang sudah bisa menghibur penonton dengan banyolan-banyolan segar. Begitu juga dalam gara-gara atau munculnya Semar dan anak-anaknya. Dalam adegan ini dalang bisa memberikan hiburan yang mendidik dengan berbagai cara. Ada yang melalui tembang.
Ada yang melalui parikan atau cangkriman tentang keadaan atau situasi di masyarakat waktu berlangsung. Bahkan ada sindiran atau yang dinamakan pasemon. Pasemon ini bisa membaca situasi yang ada. Jika dalang pandai membawakannya, tentu akan menghibur disamping juga mencerdaskan. Sebab apa kok bisa mencerdaskan? Pasemon itu merupakan sindiran untuk mengoreksi (mengkritisi) sesuatu yang telah terjadi pada seseorang (atau lembaga) yang telah melakukan kesalahan. Saat seseorang menyampaikan kritikan secara tidak langsung, berarti orang yang mendengar dalam hal ini penonton ikut berpikir pula kira-kira apa isi dari ucapan itu.
Secara lebih rinci, seorang dalang yang baik akan menguasai sepuluh patokan yang dinamakan Dasaguna. Kesepuluh itu adalah, pertama, ahli gendhing dengan suara yang antar sesuai dengan titilaras gamalen. Seorang dalang yang baik telinganya harus peka sehingga bisa menyelaraskan antara titilaras gamelan dengan suara yang keluar dari mulutnya.
Kedua, banyak memiliki hafalan sekar kawi yang indah-indah. Banyak sedikitnya penguasaan sekar kawi akan menunjukkan sejauh mana pengetahuan dan penguasaan si dalang terhadap seni pedalangan. Selanjutnya yang ketiga juga masih ahli tentang gendhing tetapi mengenai lagu-lagu yang jenaka sebagai pelipur lara agar dalam pertunjukkan tidak membosankan. Ini biasanya dibutuhkan pada saat adegan limbukan atau gara-gara.
Keempatnya adalah hawicara. Yaitu pengucapan luwes selaras dengan watak atau karakter setiap tokoh wayang. Antara tokoh wayang satu dengan lainnya memiliki sifat yang berbeda-beda. Karenanya, pengucapan yang keluar hendaknya juga sesuai dengan karakter wayang tersebut. Jumlah wayang lebih dari seratusan. Untuk itu, seorang dalang harus bisa menguasai dan membedakan antara satu dengan lainnya. Sehingga apabila seseorang yang mendengar akan tahu siapa tokoh wayang yang sedang berbicara tanpa harus melihatnya.
Kelima, paramengkawi. Seorang dalang yang baik hendaknya memiliki banyak perbendaharaan kata-kata kawi. Namun demikian, penggunaannya harus disesuai dengan tokoh dan situasi pada saat itu. Kemudian yang keenam adalah mardaweng lagu. Lagu atau sekar yang digunakan hendaknya membuat alam (atmosfir) sesuai situasi yang berlangsung misalnya; sedih, prihatin, marah atau gembira. Jadi, peran pentingnya sebuah lagu atau sekar sangat dibutuhkan dalam pewayangan.
Ketujuhnya adalah antawacana. Seorang dalang yang baik harus bisa membedakan karakter suara (vokal) antara tokoh satu dengan lainnya. Ada tokoh wayang yang bervokal berat, cemeng, sedang (tenor, bas, bariton, sopran) dan lain sebagainya. Untuk kedelapannya adalah udanegara. Seorang dalang hendaknya mengetahui tingkat tutur bahasa sesuai tingkat sosial/kedudukan dan senioritas.
Sembilan, cepenganing ringgit paliket, sabetanipun prigel cikat. Winastan greget-saut, nyolahaken ringgit. Sabet yang bagus dalam menggerakkan atau memainkan wayang (boneka yang dua dimensi) itu bisa “hidup” dan memberikan “roh” sehingga seakan-akan benar-benar hidup. Keprigelan dalam memainkan wayang akan membawa dampak yang luar biasa. Sebagai contoh yang nyata adalah Manteb Sudarsono. Dia adalah dalang yang terkenal karena sabetnya, karena keprigelannya memainkan wayang.
Sedang yang terakhir adalah mandraguna. Kaya akan ilmu. Seorang dalang harus bisa menguasai dan memahami budaya (moral, etika, tata negara, filosofi, sosial) Jawa. Sehingga pada ujungnya akan menjadikan manusia menemukan jati dirinya. Dari sini jelas bahwa wayang itu bukan hanya sekedar tontonan tetapi juga merupakan tuntunan. Dari tuntunan ini diharapkan bisa memberi suatu pencerahan bagi manusia. Itulah prasaratan dalang untuk menjadi dalang yang sejati dalang.
Bandingkan dengan pedalangan masa sekarang. Aku tidak nggebyah uyah bahwa semua dalang zaman sekarang bertindak yang sama. Pagelaran wayang sekarang penuh dengan hura-hura. Yang dipentingkan bahwa wayang adalah benar-benar tontonan dan hampir tidak ada nilai yang bisa dikatakan sebagai tuntunan. Bahkan, kalau toh mengoreksi (mengkritisi sesuatu) kadang menggunakan kata-kata yang kasar (vulgar). Malah ada dalang suka misuh-misuh. Padahal, dalam pergaulan Jawa yang namanya misuh adalah sesuatu yang tabu.
Coba simak saja, sekarang dalang tidak lagi memperhatikan alur cerita dan nilai-nilai rohani yang terkandung. Limbukan dan gara-gara sangat lama (mendominasi). Kadang ada dalang yang menghabiskan waktu untuk limbukan dan gara-gara lebih dari separoh malam dengan mengusung penyanyi campusari yang jumlahnya kadang lusinan. Bukan itu saja. Malah ada dalang yang menampilkan pelawak. Jika ini dikaitkan dengan keinginan (selera) penonton, sekilas memang ada benarnya. Di sini jelas bahwa penghargaan penonton terhadap seni pewayangan bukan dilihat dari kacamata tuntunan dan tontonan tetapi cenderung sebagai tontonan belaka. Akan tetapi, aku masih bertanya juga, yaitu penonton yang mana? Apakah (kondisi) semacam ini akan bertahan? Aku yakin bahwa suatu saat pergeseran akan kembali semula, hanya bersifat sementara.
.
Alasannya? Yang namanya “musim” pasti ada saat berhenti. Begitu juga dengan keinginan (selera) seperti itu. Jadi, aku yakin masih banyak orang Jawa yang hormat kepada seni budaya sendiri sehingga pagelaran wayang sesuai pakem masih bisa dipertahankan.
Memang tidak semua dalang “menyeberang” ke pakeliran seperti itu. Contoh saja Purbo Asmoro. Dalang pintar (intelek) ini selalu setia (konsisten) dengan pakem pedalangan yang tentunya juga menjunjung tinggi pakem cerita. Nah, untuk ngawekani (mengantisipasi) agar pakem pedalangan terus lestari aku juga mempunyai kiat-kiat tertentu. Untuk diketahui, sejak pulang dari Medan yaitu tahun 1980, aku selalu mengadakan tradisi wayangan di rumahku untuk syukuran yang bertepatan dengan hari wetonku, Jemuah Wage. Jadi setiap selapan dina sekali aku mengadakan pagelaran wayang.
Pada acara tersebut siapa saja boleh bertindak sebagai dalang asalkan cara mendalangnya menggunakan pakem pedalangan dan tidak hura-hura dengan mengusung penyanyi campursari. Ternyata hal ini hasilnya juga memuaskan. Para penonton yang rata-rata suka akan seni pewayangan akan setia mengikuti jalannya cerita hingga Werkudara menari (tanda pertunjukan telah usai). Bandingkan dengan pagelaran wayang yang hura-hura dengan penyanyi campursari. Ketika limbukan dan gara-gara penonton berjubel. Akan tetapi, ketika gara-gara usai yang menemani dalang tinggal niyaga dan pesinden yang menahan kantuk bukan kepalang.
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Novel - BERFSIFAT SEMENTARA # EMPU DALANG KI WASRSINO - BIOGRAFI"
Post a Comment