Cerpen - CERMIN PENGUBAH WAJAH # CERNAK
Sunday, 8 April 2018
Add Comment
![]() |
| Cerpen - CERMIN PENGUBAH WAJAH # CERNAK |
CERMIN PENGUBAH WAJAH
Hari mulai beranjak siang. Matahari mulai menanjak kepuncak langit meninggalkan keindahan pagi diganti dengan panas yang mulai menyengat kulit. Pohon-pohon sepanjang lereng perbukitan mulai layu karena panas yang meradang musim kemarau. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh turun dari bukit meninggalkan debu berhamburan yang menggumpal naik ke langit. Kami semua keluar melihat apa yang terjadi. Jangan-jangan tanah longsor. Tetapi mana mungkin bukankah kelongsoran terjadi saat hujan deras.
Baru saja kami keluar tiba-tiba ayah sudah berteriak histeris memberi aba-aba,”Cepat masuk rumah kunci semua pintu!” kami yang belum sempat melihat apa yang terjadi secara reflek melakukan apa yang diteriakkan ayah. Para tetanggapun berbuat hal yang sama.
Dari atas bukit barisan kera yang jumlahnya puluhan menuruni gunung. Makhluk berbulu hitam itu menyerbu perumahan kami. Mereka mengambil dan memakan apa yang dapat mereka makan apa yang tertinggal diluar.
Dari balik jendela kaca aku melihat. Mulut mereka menganga dengan gigi-gigi taring yang teramat runcing terlihat di tepian mulutnya. Lidahnya yang merah panjang terkadang dikeluarkan untuk menjilati bibirnya. Matanya cekung tajam seperti mengancam. Tangan-tangan mereka berayunan di tiang depan rumah dan menjatuhkan tubuhnya ke tanah kemudian menuju rumah yang kami tempati. Aku terpekik kecil karenaperasaan terkejut, cemas dan ketakutan yang beraduk menjadi satu. Langit seperti gelap ketika tubuh mereka berjubel menutup jendela rumah kaca kami.
“Itu hal yang biasa kalau musim kemarau tiba. Mereka mencari makan kemana-mana,” kata Ayah yang sudah tahu situasinya.
Aku gemetaran memegang kuat tangan Ayah sebelah kiri sementara Ibu memegang tangan Ayah sebelah kanan.
Ketika mereka tidak mendapatkan makanan tampaknya mereka marah dan mengobrak abrik genteng rumah kami. Suaranya pecahan genting pecah berderak seperti terjadi gempa bumi. Kami terjebak didalam rumah. Sambil melihat aktivitas mereka dengan penuh ketakutan.
“Tidak usah takut. Kalau mereka tidak mendapatkan makanan mereka akan pergi dengan sendirinya,”gumam Ayah lagi seolah meneteramkan hati kami.
Hampir satu jam, tapi tampaknya kera-kera itu tidak pernah beranjak juga dari tempatnya. Mereka mengurung kami dalam rasa ketakutan yang tak terputuskan.
“Apakah tidak ada cara untuk mengusirnya Ayah”kataku dengan suara terbata-bata dan perlahan ditengah ketakutan.
“Pernah dulu ada yang mencoba mengusir memakai senapan burung dan melukai anak kera. Esoknya datang gerombolan kera dalam jumlah yang lebih besar membuat kerusakan di rumah orang yang menembaknya. Sampai seharian orang itu terkurung dalam rumahnya sendiri.”
Ini pengalaman baru dalam hidupku. Semenjak orang tuaku yang pegawai kantor pos harus berpindah ke kota terpencil tiga puluh lima kilo meter selatan Solo. Tepatnya di kota Wonogiri. Kota kecil dengan aroma batu dan etos kerja keras dari penduduknya. Kebanyakan dari mereka perantau dan sebelum berhasil pantang untuk pulang.
Mungkin mereka berfikir bila pulangpun tak ada lahan yang menjanjikan pekerjaan.
Aku yang sudah terbiasa menjalani kehidupan di kota Semarang yang panas dengan hiruk pikuk lalu lintas yang tak pernah mati sangat terkejut saat harus menempati rumah mungil di tengah desa dengan hamparan tanaman singkong sepanjang ladang berbatas batu.yang ternyata lebih panas.
Bahkan terkadang pada musim kemarau barisan kera gunung yang berasal dari hutan di lereng gunung turun untuk mencari makan. Aku menjerit-njerit ketika pertama kali kedatangan mereka secara bergerombol menghabiskan semua sisa makanan yang ditaruh ibu di luar rumah. Bahkan seandainya rumah kami tidak ditutup bisa jadi mereka sudah bergerombol masuk menerjang ke dapur. Aku semakin ketakutan ketika kera-kera itu menunggu diluar. Kera-kera dengan wajah menakutkan itu suatu yang teramat asing bagiku. Apalagi ketika karena lapar mereka membuka mulutnya dan menampakkan gigi-giginya yang runcing. Seperti yang terjadi saat ini.
Aku memperhatikan tingkah mereka. Ada yang menarik ketika salah satu dari kera itu melihat gayung alumunium ibu yang tertinggal di luar. Ketika mendekat mereka langsung berbalik dan menyingkir dari benda itu. Aku berfikir keras. Mengapa mereka takut dengan gayung. Apakah karena logam dan panas terkena sinar atahari. Tidak mungkin tentunya daya serapnya kalah dengan seng. Kera-kera itu tidak takut menginjak seng panas.Atau karena bentuknya yang cekung. Benda yang cekung akan memberi efek bayangan terbalik dan diperbesar. Itu yang membuat mereka ketakutan melihat wajah mereka sendiri yang berubah.
“Ayah aku ada cara,” kataku sambil mengajak Ayah untuk memperhatikan tingkah kera-kera itu
“Coba ambil wajan ibu yang masih baru,” kata Ayah.
Ibu bergegas mengambil wajan yang baru dibawa dari semarang kemarin. Kemudian ayah menghadapan wajan itu
Di depan kera yang paling dekat dengan jendela kaca rumah kami. Kera itu memandang sebentar dahinya kelihatan berkerut kemudian dengan cepat berlalu dari tempat itu. Ayah menghadapkan wajan yang sama ketika datang kera lain di samping jendela. Kera-kera itu tampaknya ketakutan melihat bayangannya sendiri yang yang selalu berubah, terkadang nyata sama dan terbalik, kadang nyata diperkecil dan terbalik, kadang nyata diperbesar dan terbalik tergantung jarak kera-kera itu dari cermin.
Setelah kera-kera itu berlalu dari rumah kami maka kami keluar untuk berbelanja ke toko kaca untuk membeli cermin-cermin cekung yang kami pasang berjajar di samping rumah. Meski agak silau tetapi setidaknya kera-kera itu tidak pernah lagi datang menyatroni rumah kami. Jadi kalau kamu menemukan cermin cekung di sebuah rumah dilereng bukit jangan heran itu untuk mengusir kamu. Eh maksudku kera-kera itu.
(Wonogiri 2015).
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi kami, ya.

0 Response to "Cerpen - CERMIN PENGUBAH WAJAH # CERNAK"
Post a Comment