-->

Legenda - RORO MAYANGSARI & MISTERI GUA TEMBUS

Legenda - RORO MAYANGSARI & MISTERI GUA TEMBUS
Legenda - RORO MAYANGSARI & MISTERI GUA TEMBUS
TAMAN TEMBANG DAN SASTRALEGENDASahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan TAMAN LEGENDA (cerita rakyat). Edisi kali ini disajikan cerita RORO MAYANGSARI DAN MISTERI GUA TEMBUS. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

RORO MAYANGSARI DAN MISTERI GUA TEMBUS

Oleh: Parpal Poerwanto

Roro Mayangsari bersama adiknya, Roro Jonggrang tengah melewati hutan rimba. Tekadnya bulat, yaitu meninggalkan Majapahit yang  telah runtuh karena perang saudara. Mereka ingin hidup bebas jauh dari perebutan kekuasaan.

Di tengah hutan mereka dihadang gerombolan perampok. Perampok menginginkan perhiasan dan uang yang dimiliki dua gadis itu. Tidak sukar bagi perampok untuk merampas barang berharga milik kedua gadis itu. Untung saja ada seseorang yang datang membantu.  Orang tersebut adalah Kiai Miranti, murid kesayangan Sunan Gunung Giri di daerah Wonogiri.

Singkat cerita, Roro Mayangsari dan Roro Jonggrang menjadi santri di Padepokan Kiai Miranti. Selain diajari tentang ilmu keagamaan, siswa padepokan juga diajari ilmu beladiri.


Suatu hari, dihadapan semua siswanya Kiai Miranti mengatakan bahwa ilmu yang dimiliki Roro Mayangsari telah cukup dan dianggap lulus. Roro Mayangsari ditugasi gurunya untuk mengajarkan ilmu agama di daerah selatan.

Di suatu tempat, Ki Maruto beserta dua anak buahnya (Somo dan Karmo) tengah berhadapan dengan penduduk kampung  yang tidak merelakan untuk melepaskan anak gadisnya untuk tumbal sebagai penangkal musim kemarau yang panjang. Gadis yang akan dijadikan tumbal itu namanya Woro Sayekti anak dari pasangan Ki Duto dan Nyai Duto. Kakak Woro Sayekti bernama Bimo Sayekti tidak merelakan adiknya dijadikan tumbal. Alasannya, pada saat kemarau tahun lalu, Ki Maruto sudah meminta tumbal gadis perawan sebanyak 3 orang. Akan tetapi hujan yang dinanti-nanti tidak kunjung datang. Akhirnya terjadi pertarungan. Bimo Sayekti dikeroyok anak buah Ki Maruto dan kalah.

Roro Mayangsari menyaksikan kejadian itu. Segeralah ia membantu Bimo Sayketi. Maka terjadilah pertempuran yang sangat hebat. Karena terpojok, Ki Maruto segera mengeluarkan senjata andalannya berupa cemeti sakti. Ketika cemeti itu dihentakkan keluarlah apa yang diinginkan. Jika menghendaki badai besar, maka datanglah badai. Jika menginginkan api membara, maka datanglah api itu. Namun, Roro Mayangsari tidak gentar. Ia berdoa kepada Allah agar bisa menjinakkan orang sombong itu. Maka badai besar tidak bisa menggulung atau menghempaskan. Begitu pula api yang menggunung itu tidak bisa membakar dirinya. Singkatnya, Ki Maruto dan anak buahnya lari terbirit-birit menghadapi Roro Mayangsari.

Bimo Sayekti mengucapkan terima kasih kepada Roro Mayangsari. Dari perkenalan yang tidak terduga itu, tertanamlah benih-benih cinta di antara Roro Mayangsari dan Bimo Sayekti. Untuk itu, keduanya segera memutuskan untuk menikah agar terhindar dari perbuatan zina. Pada hari yang telah ditentukan, keduanya dinikahkan oleh Kiai Miranti sebagai pengganti orang tua Roro Mayangsari.


Suatu hari, Roro Mayangsari bertanya kepada Bimo Sayekti mengapa Ki Maruto mengorbankan anak gadis dari desanya. Bimo Sayekti menjelaskan bahwa itu sebenarnya hanya akal-akalan Ki Maruto saja. Alasannya untuk minta hujan. Tetapi buktinya hujan tidak kunjung tiba. Mendengar penjelasan itu, Roro Mayangsari bertanya lagi apakah tidak sebaiknya mengadakan salat minta hujan (istiqo) secara berjamaah di suatu tanah lapang.  Usaha itu sebenarnya sudah diusulkan oleh Bimo Sayekti. Akan tetapi warga tidak mempercayainya. Mungkin juga karena alasan takut kepada Ki Maruto dan anak buahnya.

Roro Mayangsari mengajak warga untuk melaksanakan salat minta hujan secara berjamaah. Namun, warga malah mencemooh. Roro Mayangsari diminta untuk membuktikan bahwa andaikata Allah itu ada, maka Roro Mayangsari dapat menyembuhkan penyakit yang diderita warga. Roro Mayangsari menyanggupi. Atas izin Allah dengan media air kelapa, Roro Mayangsari dapat menyembuhkan berbagai penyakit yang diderita oleh warga.

Tiba-tiba Ki Maruto dan anak buahnya datang dan mengatakan bahwa ilmu yang dimiliki Roro Mayangsari adalah ilmu sihir. Ilmu sihir tidak akan dapat mengalahkan dewa yang mereka sembah selama ini. Untuk itu, Ki Maruto menantang kesaktian Roro Mayangsari. Terjadilah perkelaihan yang hebat. Suatu ketika, sampailah mereka di depan sebuah belukar. Ki Maruto membunyikan cemetinya. Seketika ada asap tebal. Ki Maruto dan anak buahnya tidak kelihatan batang hidungnya. Roro Mayangsari berdiri di depan belukar itu. Pikirannya yakin bahwa ketiga orang itu tidak menghilang tetapi bersembunyi. Roro Mayangsari mencoba memasuki belukar itu. Ternyata adalah sebuah gua. Anehnya, tanpa diterangi lampu pun gua itu tidak gelap. Masih ada samar-samar sinar temaram. Di dalam gua, Ki Maruto dan anak buahnya menyandra tiga orang gadis. Gadis itu adalah berasal dari desa setempat yang konon dijadikan tumbal tetapi ternyata hanya dijadikan istri bagi ketiga begundal itu.

Ki Maruto mengancam akan membunuh ketiga gadis itu jika Roro Mayangsari tidak menyerah. Roro Mayangsari menyanggupi. Kemudian Ki Maruto dan anak buahnya pergi membawa serta ketiga gadis itu menuju arah belakang. Roro Mayangsari mengikuti dari belakang. Ternyata gua itu tembus di sisi belekangnya.

Roro Mayangsari kembali menemui Bimo Sayekti. Ia menceritakan kejadian yang dialami. Bimo Sayekti ingat bahwa sudah tiga gadis desa yang dijadikan tumbal untuk mengharap datangnya hujan. Nama ketiga gadis itu adalah Widuri, Winarni, dan Pawarti.

Kembali setahun silam.
Waktu itu kemarau panjang. Daun dan pepohonan kering. Masyarakat gundah gulana karena susah mencari makan karena tanaman mereka kering kerontang. Untunglah datang Ki Maruto dengan kedua anak buahnya. Ki Maruto menemui Kamituwo dan menyarankan agar melaksanakan ritual untuk memohon hujan kepada dewa. Ritual itu berupa persembahan seorang gadis perawan. Bahkan Kamituwo sendiri menyanggupi bahwa anak gadisnya yang bernama Widuri dijadikan tumbah demi keselamatan seluruh warga. Meskipun Widuri menolak dan meronta, tetapi tidak kuasa melepaskan diri. Akhirnya, di suatu tempat yang ada semak belukarnya, Widuri yang diikat tiang dijadikan tumbal. Ketika cemeti sakti Ki Maruto dihentakkan, saat itulah keluar asap mengepul. Bersamaan dengan itu sosok Widuri sudah hilang dari pandangan mata.

Persembahan sudah diadakan. Namun, hujan yang dinanti tidak kunjung datang. Kamituwo meminta pertanggungjawaban kepada Ki Maruto. Oleh Ki Maruto dijawab bahwa persembahan itu masih kurang dua lagi. Untuk itu, harus disiapkan 2 orang gadis perawan lagi agar hujan yang diinginkan benar-benar turun. Kedua gadis itu adalah Winarni dan Pawarti. Akan tetapi, hujan yang dinanti tidak kunjung tiba. Warga marah kepada Ki Maruto.  Karena massa yang akan mengeroyok banyak, maka Ki Maruto ia menghentakkan cemetinya dan keluarlah asap. Ketika itu pula Ki Maruto sudah tidak kelihatan batang hidung. Kemudian muncul sosok harimau putih (macan putih) yang menakutkan. Massa akhirnya lari tunggang-langgang.

Roro Mayangsari dan Bimo Sayekti mencari keberadaan Widuri, Winarni, dan Pawarti.

Di suatu tempat, Roro Mayangsari dan Bimo Sayekti bertemu dengan Somo dan Karmo yang tengah merampok harta seorang warga. Roro Mayangsari dan Bimo Sayekti segera bertindak. Somo dan Karmo kalah lalu lari cari selamat. Hal ini sangat menguntungkan bagi Roro Mayangsari dan Bimo Sayekti yaitu untuk menunjukkan di mana keberadaan orang yang mereka cari. Somo dan Karmo lari menuju sebuah rumah tua. Mereka melapor kepada Ki Maruto bahwa tengah dikejar oleh Roro Mayangsari dan Bimo Sayekti. Ki Maruto marah dan merubah wujud menjadi macan putih kemudian menghadapi Roro Mayangsari dan Bimo Sayekti. Begitu juga Somo dan Karmo juga berubah wujud menjadi macan putih karena mereka memiliki ilmu macan putih. Di mana jika ilmu itu digunakan, maka akan berubah sosok menjadi macan putih.


Ki Maruto dan anak buahnya kalah. Mereka segera meminta maaf kepada Roro Mayangsari dan Bimo Sayekti. Namun, dijawab oleh Roro Mayangsari bahwa minta ampunlah kepada Allah dan orang tua ketiga gadis yang telah mereka culik itu. Akhirnya Maruto dan anak buahnya benar-benar tobat dan masuk Islam. Kemudian ketiganya digiring ke desa untuk dihadapkan kepada orang tua ketiga gadis itu.

Awalnya orang tua gadis itu enggan untuk memberikan ampun. Akan tetapi ketika dijelaskan oleh Bimo Sayekti, maka mereka mengampuni Ki Maruto dan anak buahnya.

Selanjutnya, Roro Mayangsari dan Bimo Sayekti mengajak para warga untuk mengadakan salat mohon hujan (istiqo) secara berjamaah di suatu tanah lapang. Tidak lama kemudian Allah mengabulkan permintaan hamba-Nya dengan mengirim hujan yang dinanti-nanti itu. 
Roro Mayangsari dan Bimo Sayekti akhirnya  menetap di Gua Tembus untuk beberapa waktu lamanya. Hal ini dilakukan agar gua itu tidak dianggap keramat oleh masyarakat sekitarnya. Selain itu, Roro Mayangsari tidak lupa dengan tujuan semula yaitu mengajarkan agama Islam di daerah itu.

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - RORO MAYANGSARI & MISTERI GUA TEMBUS"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel