Cerpen - SOROT MATA
Monday, 23 April 2018
Add Comment
![]() |
| Cerpen - SOROT MATA |
SOROT MATA
Parpal Poerwanto
Kesekian kalinya sedan putih melintas depan pekarangan. Kesekian kalinya pula empat pasang mata mengikuti si empunya mobil masuk rumah yang dua tahun lalu sering dijamah oleh keempat pasang mata tersebut. Namun sekarang, rumah itu terlalu asing bagi keempat pasang mata. Mungkin karena keempat pasang mata terlalu silau untuk menatap hingga terbentanglah jarak. Atau karena penghuni rumah tak akrab lagi dengan bahasa empat pasang mata tersebut.
Obyek pandang keempat pasang mata sama, yakni sesosok tubuh putih semampai di bungkus kain panjang warna pink. Kaca mata hitam selalu bertengger diatas bibir mungil merah merekah. Kaki melangkah dengan sepatu putih hak tinggi menuju rumah diiring oleh seorang lelaki bermata sipit. Wanita muda berumur sekitar dua puluh delapan tahun itu cantik. Anggun langkahnya sangat menarik bagi keempat pasang mata yang hanya bisa mengawasi dari kejauhan. Tak ada suara berbincang kecuali helaan nafas. Gejolak dalam jiwanya sama, namun mungkin karena faktor usialah yang membuat berbeda dalam memupusnya.
Seperti biasa, setiap kali sedan putih itu datang, keempat pasang mata selalu siap pasang telinga guna menguping segala ‘kabar gembira’ dari rumah sebelah pekarangan. Segala gelak tawa menembus telinga meledakkan luapan benci, muak, dan makian amarah yang tersimpan rapat-rapat dalam dada. Setiap kali gejolak itu ingin meluap, giginya terlalu perkasa menggigit bibir, hingga paksa segala kegundahan suara hati terbelenggu dan hilang di kerongkongan.
Salah satu dari keempat pasang mata adalah aku lelaki kurus bermata cekung, umur dua puluh sembilan tahun. Sebenarnya aku bukan tipe lelaki yang cengeng atau apatis terhadap lingkungan sekeliling. Aku harus lebih bisa menghayati bahasa diam dari tiga pasang sorot mata lainnya. Aku jalani hari-hari dengan keringat tubuh bermandikan terik, seperti gersangnya gejolak dalam jiwa yang tak berdaya.
-- o --
Gemuruh hujan mengurung dalam kepekatan malam. Jiwa-jiwa sunyi. Kehidupan malam mati. Hanya tangisan ngungun beberapa ekor burung emprit mencari induknya. Sementara kegelisahan timbul bersama kepenatan menampar empat sorot mata, luruh bersama lelah nelangsa. Hari-hari bagaikan harga mati dari ketakberdayaan.
Salah seorang dari pemilik sorot mata cekung, adalah seorang lelaki kecil umur lima tahun. Perutnya buncit dengan badan kurus tampakkan penderitaan di wajahnya. Tidurnya ampang menahan dingin mengusik rindu dekapan kasih seorang ibu. Ia dibesarkan dalam malam-malam dingin menyiksa. Ia menapak dunia dengan sorot mata lemah bertanya.
Sebelahnya, seorang gadis mungil. Umurnya tujuh tahun. Wajahnya bulat telur dengan tahi lalat menghias dagu. Badannya terlalu ringkih untuk menopang segala kerinduan. Ya, kerinduan yang senatiasa campur dengan benci, sengit, penuh prasangka yang setiap saat selalu membelenggu keseharian. Semoga kenyataan akan menjadikan pengalaman berharga sehingga tidak mengganggu pertumbuhannya sebagai gadis kebanyakan.
Sebelahnya lagi seorang gadis menjelang remaja putri. Umurnya sembilan tahun. Ia yang lebih tabah menerima semuanya ini. Ialah orang yang membesarkan cinta atas rasa curiga dan sejuta syakwasangka. Ialah mutiaraku yang akan bersinar hingga merubah sorot mata cekung menjadi bintang di angkasa. Padanya tumpahan rindu, penat dan keluh kesah atas tenagaku yang lemah untuk menggapai sebuah kemenangan. Kemenangan? Ya, kemenangan bagi kami hanyalah sebuah harga diri.
Karena harga diri itulah aku harus banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin sulit karena depresiasi rupiah. Memang kewajibankulah jika harus mengurus dan mengayomi ketiganya Mereka adalah buah kasih yang harus aku pertanggung-jawabkan kelak. Mereka adalah pejalan malam yang tengah mencari sebuah pelita atas usapan kasih seseorang yang dirindukan, walau mungkin rasa muak lebih menghias keseharian.
- o -
Gugusan awan membawa dalam arak-arakan panjang. Kembang-kembang mekar manjakan musim sebarkan aroma wangi merangsang. Selendang putihmu berkibar dibawa arus angin menggoda gelambir hasratku. Diputikmu aku tercenung atas hilang berjuta benang sari iringi nyanyian kupu-kupu menggoda pencengkeramanan kita. Kumbang-kumbang cemburu tertipu oleh madumu.
Dalam dasa warsa aku semaikan cintaku atas putih putikmu, tumbuhlah tiga buah hati yang menghias hari-hari kita. Kenangan yang terlalu manis untuk dilupakan. Ya, aku bahagia waktu itu. Tiba-tiba badai datang tak bisa terelakkan. Kau tergoda silaunya dunia! Kau tinggalkan ketiga buah hati. Kau campakkan aku yang tengah bangganya sebagai lelaki. Kau tak menghargai segala perjuanganku. Aku hampir tak percaya ketika membaca suratmu yang tergolek di meja ketika aku pulang mencari nafkah.
- o -
Bunyi klakson kembali memecah pagi. Seperti dikomando, empat sorot mata mulai memasang jarak pandang. Kau pergi bersama lelaki bermata sipit tinggalkan sorot-sorot mata penuh tanda tanya. Kapan kau sadar dan kembali ditengah-tengah empat sorot mata yang merindukan usapan tanganmu? Bukan aku yang mengharap, tapi lihatlah sorot mata sayu ketiga bocah dengan harap mohon kesadaranmu!
Seperti hari-hari lalu mulutmu tak pernah berucap. Ibarat boneka porselin dipajang dalam etalase-etalase dunia, kau bertolak pinggang menantang siapa yang memandang. Angkuhmu menggunung seakan dunia telah memberimu segalanya. Kau tak ingat lagi bahwa suatu saat matahari pasti tak tampakkan wajahnya. Jawabmu tak terdengar hanya sedan putihmu tinggalkan asap racuni jiwa-jiwa meradang.
-- oOo --
Gambir; 960731
Inspirasi 2008

0 Response to "Cerpen - SOROT MATA"
Post a Comment