-->

Cerpen - RAHASIA KERTAS BERLIPAT EMPAT # CERNAK

Cerpen - RAHASIA KERTAS BERLIPAT EMPAT # CERNAK
Cerpen - RAHASIA KERTAS BERLIPAT EMPAT # CERNAK
TAMAN TEMBANG DAN SASTRACERPENSahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan taman CERPEN. Edisi kali ini disajikan cerita anak berjudul  Rahasia Kertas Berlipat Empat dari kumpulan cerita anak Segumpal Awan di Tangan Pinkan karya Didit Setyo Nugroho. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

RAHASIA KERTAS BERLIPAT EMPAT


Wajah Rani sebentar pucat, sebentar merah. Ia coba mengingat   di mana ia   meletakkan  kertas    kecil berlipat empat. Saat jam  istirahat, ia segera sibuk mencari
kertas itu. Jika kertas itu tidak segera ditemukan, gagallah rencananya hari itu.
Rani sebenarnya ingin menghubungi ibunya. Tetapi, bagaimana caranya? Ia dan ibunya tidak memiliki telpon rumah atau handphone. Berkali-kali Rani menggeledah tas hitam miliknya, tetapi kertas itu tetap tidak ditemukan. Keringat dingin mulai membasahi kening dan punggungnya.

Arnia yang melihat kegelisahan Rani, jadi bertanya-tanya.
“Ada apa, Ran? Apa yang hilang?”
Rani menatap Arnia sejenak, kemudian menjawab pelan, “Nggak ada yang hilang, Ar. Aku Cuma lupa meletakkannya.”
Ambar yang sejak tadi juga memperhatikan Rani, mendekati Arnia.
“Rani kehilangan apa sih, Ar?” bisik Ambar.


“Enggak tahu. Dia enggak mau cerita ,” jawab Arnia berbisik juga.

“Barangkali sesuatu yang amat rahasia, sampai dia enggak berani cerita,” duga Ambar. “Jangan-jangan.. kertas contekan!”

Arnia terkejut mendengar dugaan Ambar. Ia buru-buru menggeleng.

“Selama ini Rani tidak pernah berbuat curang. Dia selalu mendapat rangking yang bagus di kelas.”


“Mungkin dia jadi berubah karena Ela mampu mengalahkannya. Pasti dia enggak mau kalau beasiswanya dicabut karena kalah dengan Ela.” Selidik Ambar. “Bagaimana kalau kita laporkan pada Bu Asti?” usul Ambar lagi.
Arnia termenung sejenak.
“Kalau nanti Rani marah, bagaimana?
“Ya, kita mesti minta Bu Asti merahasiakan nama kita!” Ambar meyakinkan.
Mereka bergegas ke ruang guru, melaporkan apa yang sedang terjadi. Bu Asti tercenung sejenak, lalu berkata dengan lembut.
“Ya, nanti ibu panggil Rani, barangkali itu catatan yang amat penting baginya.”

Sekembalinya Ambar dan Arnia ke kelas, Rani masih tampak sibuk mecari sesuatu.
Rani mulai berani memeriksa setiap kolong meja teman-temannya, sehingga teman-teman merasa heran.
“Kamu cari apa Ran, dari tadi ribet banget?” tanya Dina.
“Kertas kecil berlipat empat. Kamu lihat, enggak?”
“Ha? Kertas kecil berlipat empat? Apa istimewanya?” Andi penasaran.
Rani tidak menjawab, ia tetap melanjutkan pencariannya.

Tak lama kemudian, Bu Asti memanggil Rani. Teman-teman sekelasnya makin curiga. Mereka menduga-duga, apa isi kertas berlipat empat yang dicari-cari Rani tersebut.
Di ruang guru, Rani semakin gelisah. Di hadapan Bu Asti, Rani masih bungkam. Menurut Rani, alasan ia mencari kertas itu teramat pribadi. Tetapi kalau dikatakan, masalahnya bisa bertambah  runyam.
“Ayolah Rani, ceritakan apa masalahmu. Siapa tahu ibu dapat membantumu…” bujuk Bu Asti.
“Sebetulnya, kertas yang hilang itu, berisikan catatan belanja ibu saya yang harus saya beli pulang sekolah nanti,” gumam Rani.

Rani lantas bercerita. Setiap pulang sekolah, ia akan mampir ke tempat Bu Surani untuk membeli sayuran. Sampai di rumah, sayuran akan dimasak ibunya untuk dijual esok hari. Dengan sekaligus mampir saat pulang sekolah, ia dapat mengirit ongkos transportasi. Kalau catatan itu hilang, bagaimana ia bisa membeli bahan-bahan masakan ibunya? Sementara ia tak bisa menghubungi ibunya karena mereka tak punya telelpon atau HP.

Mata Bu Asti tampak berkaca-kaca. Andai Rani yang khusus memikirkan sekolah, prestasinya tentu akan luar biasa. Tetapi, karena harus memikirkan banyak hal, prestasi Rani jadi tidak maksimal. Bu Asti merenung sejenak, kemudian memberikan idenya.


“Bagaimana kalau Ibu antar kamu pulang dan sekaligus ke pasar?”
Rani tersenyum malu. Sebenarnya, pantang baginya untuk menyulitkan orang lain. Tetapi, kali ini dalam keadaan terpaksa. Akhirnya, Rani diantar Bu Asti pulang ke rumah dengan sepeda motor. Ibu Rani tampak terkejut melihat Rani diantar ibu guru. Setelah Bu Asti menjelaskan  permasalahannya, ibu Rani tersenyum  lega.
“Terima kasih, Bu Guru. Saya tidak dapat membalas kebaikan Ibu,” ungkap ibu Rani.
“Tidak apa-apa, Bu. Saya malah dapat belajar banyak dari Rani. Dia bisa membagi waktunya untuk belajar dan membantu orang tua,” sahut Bu Asti.

Sore itu, langit begitu cerah. Matahari bersinar indah, secermelang wajah Rani. Dua tas penuh sayuran bergayut di kedua lengannya.

Bu Asti pun tersenyum bahagia. Dengan suka cita, dia bersiap mengantar Rani pulang ke rumahnya lagi. Besok, dia akan bercerita pada murid-muridnya di kelas, agar mereka tak curiga lagi pada Rani. Bahkan, mereka harus mencontoh sikap Rani yang mau membantu orang tua.
***

Cerpen: Rahasia Kertas Berlipat Empat
Dimuat di Majalah Anak-anak BOBO, Tahun XXXIX, 5 Mei 2011


Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi kami, ya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cerpen - RAHASIA KERTAS BERLIPAT EMPAT # CERNAK"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel