Budaya - MENCARI AKTA
Saturday, 28 April 2018
Add Comment
![]() |
| Budaya - MENCARI AKTA |
MENCARI AKTA
Oleh: Parpal PoerwantoTAMAN TEMBANG DAN SASTRA – BUDAYA – Budaya nekat pernah menjangkiti Mas Guru Bonang. Ini terjadi memang sudah berpuluh-puluh tahun silam. Namun, mungkin di era sekarang, di negeri tercinta ini tidak mustahil akan terjadi meski dalam bentuk dan kualitas yang berbeda.
Kenekatan Mas Guru Bonang memang ada dasarnya. Waktu itu Mas Guru Bonang dimintai tolong salah seorang saudara untuk ngurus Akta Kelahiran. Sebenarnya saudaranya itu sudah besar, ia sudah lulus SMA. Namun, ia sangat kesulitan akan mengurus sendiri sebab waktu itu kartu keluarga (KK) hilang tidak jelas. Menurut ayahnya, KK dikumpulkan Kadus untuk pemecahan agar kepala keluarga tidak dobel. Diusut ke Kadus katanya ketlisut.
Betapa mualnya Mas Guru Bonang ketika di kantor desa, KK yang dicari juga tidak ada. Mosok arsip penting kantor desa sampe tidak punya. Mas Guru Bonang minta dibuatkan surat pengantar tetapi tidak dilayani karena tidak ada dasarnya, yakni KK yang dimaksud. Oleh pegawai desa, Mas Guru Bonang disarankan ke kantor kecamatan.
Setali tiga uang, sama jugak sami mawon. Pegawai kecamatan juga tidak berani membuatkan pengantar dengan alasan yang sama. Mas Guru Bonang disarankan langsung ke kantor Capil.
Kalah cacak menang cacak. Mas Guru Bonang menuju ke Kantor Capil. Untungnya suasana di sana tidak begitu ramai. Mas Guru Bonang segera menuju loket dan mengeluarkan fotocopy ijazah milik saudaranya kemudian diberikan kepada pegawai Capil.
Pegawai capil tampak mengernyitkan keningnya. “Surat pengantar dari Desa mana?” Mas Guru Bonang hanya menggeleng. Namun, ia mengingat-ingat sesuatu pada nama yang tertempel di baju pegawai itu.
“Sampean ki ya lucu kok Mas, mosok mencari akte tidak tahu prosedurnya,” terang pegawai Capil. Kemudian Mas Guru Bonang menyampaikan kronologinya sampai dirinya di kantor Capil ini. Namun, pegawai Capil bersikukuh sesuai aturan.
“Pak, saya itu kerjanya di dekat TK XXX itu lho....”
“Apa di sana ada kantor Capil?” tanyanya enteng.
“Saya ngajar di sekolah dekat TK itu...”
Mendengar jawaban itu, pegawai Capil itu memandang Mas Guru Bonang dengan tajam. Ia menghembuskan napas panjang, lalu berkata, “Coba bicara dari tadi tidak perlu mutar-mutar...”
Aha... tidak ada seperempat jam akta itu pun terbit. Kepada pegawai Capil Mas Guru Bonang mengucapkan terima kasih.
Nah, betul kan, (dulu) semua bisa terjadi di negeri ini, mudah-mudahan tidak akan terjadi di era sekarang. Ini memang budaya tidak baik. Praktik-praktik seperti ini tidak boleh dicontoh atau terulang lagi. Terutama bukan hanya dalam hal “keberhasilan” Mas Guru Bonang dalam mencari akta. Namun, lebih dari tanggung jawab dan kredibelitas para aparat baik Kadus, kelurahan maupun Capil.
Oh ya, sekali tempo Mas Guru Bonang pernah rapat satu meja dengan pegawai Capil, tetapi beliau sudah purna tugas. Dari nadanya bicara dan keakraban sesaat itu, tidak ada tanda-tanda bahwa berpuluh tahun silam pernah dimanfaatkan Mas Guru Bonang. (Maaf).

0 Response to "Budaya - MENCARI AKTA"
Post a Comment