Novel - Empu Dalang Ki Warsino - Biografi # BERGURU
Tuesday, 27 March 2018
Add Comment
![]() |
| Novel - Empu Dalang Ki Warsino - Biografi # BERGURU |
BERGURU
Oleh: Parpal PoerwantoSudah kukatan bahwa hidup ini harus dijalani, diperjuangankan. Seseorang tidak akan sukses hidupnya jika tidak berusaha atau bekerja. Kecuali orang yang mendapatkan harta warisan yang banyak dari orang tuanya. Padahal, meskipun dapat harta warisan yang banyak jika tidak bisa mengelola juga akan sengsara di kemudian hari. Apalagi aku yang hanya anak seorang janda yang pekerjaannya sebagai buruh.
Awalnya rasa pesimis itu ada, dan itu sangat manusiawi. Ya, keadaan ekonomi dan pendidikan yang hanya lulus SR itu yang membuatku kabur melihat masa depan. Apa kita harus menyerah dengan keadaan? Tentu tidak! Setiap yang bernapas pasti sudah ada jatahnya masing-masing. Hanya saja tidak semata-mata didapat. Semua itu perlu waktu dan keuletan. Orang akan makan nasi saja harus mengolah tanah, menyemai bibit, menanam, dan mengurusnya hingga panen. Itu pun belum cukup. Gabah juga tidak bisa langsung dimakan, bukan?
Jadi, semua itu kuncinya ada di manusianya sendiri. Aku tidak ingin tenggelam dengan kemiskinan. Apalagi ada semacam dorongan untuk menjaga agar darah dalang yang mengalir dalam keluargaku tetap lestari.
Menurut guruku di SR dulu, serta ajaran agama yang aku anut bahwa Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang apabila seseorang itu sendirilah yang sudi merubahnya. Nah, berpijak dari sini aku berfikir bagaimana cara terlepas dari kemelaratan. Atau setidak-tidaknya bisa mengembalikan kejayaan keluarga.
Seperti yang terungkap pada awal kisahku bahwa keluargaku sejak canggah dulu merupakan orang terpandang atau dihormati di daerahku. Itu semua karena leluhurku mulai dari canggah, buyut, eyang hingga orang tuaku adalah orang yang dianggap “tahu” oleh masyarakat. Dan, itu tidak bisa dipungkiri, tidak lain dan tidak bukan bahwa mereka itu adalah dalang. Maka, kutanamkan pada diriku serta adik-adikku untuk mewarisi darah dalang tersebut.
Sebagai keturunan seniman dalang, tentu ada aliran darah seni di tubuhku dan adik-adikku. Menurut beberapa teman, aku memiliki bakat cukup besar untuk menjadi dalang. Begitu juga dengan adik-adikku. Dan akhirnya terbukti. Kelak aku bersaudara benar-benar terjun sebagai dalang.
Perihal diriku, banyak liku-liku yang aku jalani. Hal ini dikarenakan aku ingin menjadi bukan hanya “sekedar” dalang. Maka, berbagai jalan telah aku tempuh. Selain selalu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa aku juga belajar kepada beberapa dalang sepuh dan terkenal pada waktu itu.
Menurut seorang teman, hanya berbekal keturunan dalang saja tidak cukup jika tidak diimbangi dengan belajar. Untuk itu selepas SR tahun 1938, atas saran dari beberapa orang aku disuruh belajar seni pedalangan ke Mangkunegaran. Akhirnya aku belajar di sana semasa Mangkunegara VII dan Mangkunegara VIII. Waktu itu, guru saya adalah Mas Ngabehi Mangundiwiryo seorang abdi dalem Mangkunegaran. Teman seangkatanku beberapa dalang dari Wonogiri seperti Ngabehi Tarno, Jarno, Prahasto, dan Marwoko.
Aku belajar dengan tekun. Selain jalannya cerita, aku berusaha untuk mahir memainkan wayang, istilahnya sabetan. Awalnya memang susah dan canggung. Namun, lama-kelamaan aku cukup mahir memainkan wayang. Bahkan sabetanku ketika membawakan adegan perang sangat menonjol di antara teman-teman.
Singkat cerita, aku telah menjadi dalang. Namun, ibaratnya anak sekolah, tentu ingin selalu mencapai tingkat yang lebih tinggi. Begitu juga diriku. Aku sering berkelana dari kota ke kota. Bila mendengar ada “empu” dalang yang terkenal, tidak segan-segan aku datangi dan nyantrik kepadanya. Alhasil, semakin hari ilmu pedalanganku semakin bertambah. Seiring itu pula aku semakin terkenal dan laris.
Predikat seniman dalang ternyata membawa keberuntungan pada diriku karena bisa masuk ke wilayah mana saja. Aku bisa masuk pada orang awam yang setiap harinya bergelut dengan lumpur sampai pejabat negara seperti presiden. Meskipun hubungan itu hanyalah sekedar antara si penanggap dan yang ditanggap. Namun, meskipun demikian, rasa puas itu tidak bisa diukur dengan uang seberapapun banyaknya.
Tanpa uang memang hidup ini susah tetapi jangan karena uang kita menjadi susah. Dengan menjadi dalang terkenal memang tidak susah untuk mendapatkan uang. Karena uang orang akan lebih percaya diri. Dengan uang aku bisa membangun rumah tangga. Semua orang pasti menginginkannya, bukan?
Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

0 Response to "Novel - Empu Dalang Ki Warsino - Biografi # BERGURU"
Post a Comment