-->

Novel - DALANG KETHEK # Empu Dalang Ki Warsino - Biografi

Novel - DALANG KETHEK # Empu Dalang Ki Warsino - Biografi
Novel - DALANG KETHEK # Empu Dalang Ki Warsino - Biografi
TAMAN TEMBANG DAN SASTRANOVELSahabat Taman Tembang dan Sastra, berjumpa kembali dengan Taman Novel. Kali ini disajikan sebuah biografi yaitu Empu Dalang M. Ng. Warsino Guno Sukasno, yang ditulis oleh Parpal Poerwanto. Selamat membaca.  

DALANG KETHEK

Oleh: Parpal Poerwanto

Tidak ada pekerjaan yang terhindar dari risiko. Begitupun dengan dalang. Waktu itu yang namanya dalang pasti dianggap memiliki ilmu. Karenanya, setiap pentas selalu ada saja orang yang menjajalnya.  Tentu saja dengan ilmu yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

Bagiku, ilmu bukan untuk gagah-gagahan tetapi sebagai benteng diri agar di dalam menjalankan pekerjaannya bisa lancar tanpa gangguan suatu apa pun.


Orang boleh tidak percaya atau bahkan melecehkan bahwa kejadian-kejadian yang pernah aku alami itu benar-benar terjadi. Aku memang tidak mau membuat sensasi, hanya karena kamu (penulis) memaksaku untuk bercerita ya, kusampaikan apa adanya.

Seperti yang saya lakukan, supaya dalam mendalang tetap laris dan senantiasa terhindar dari bahaya yang tidak diinginkan, seorang dalang harus memiliki iman yang kuat. Hal ini bisa didapat dengan cara lelaku atau mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai latihan awal aku menjalankan pasa senin-kamis. Lalu dilanjutkan dengan pasa pada weton. Apabila sudah terlatih, kemudian pasa mutih serta ngrowot.  Mengenai waktunya, bisa berlatih dari pendek dahulu. Awalnya tiga hari kemudian sudah terbiasa bisa sampai tujuh hari secara berturut-turut.

Agar lebih mantap biasakan kungkum di tempuran pada setiap malam Jumat kecuali dalam suasana hujan. Lebih sempurna apabila kuat menjalankan pasa ngebleng.  Alhamdulillah aku kuat pasa ngembleng selama empat puluh hari. Pada waktu menjalankan pasa ngebleng, selagi mampu aku tetap menjalankan kewajibanku sebagai muslim. Sholat lima waktu tidak pernah aku tinggalkan.

Aku juga suka menjalankan lelaku dengan cara nepi atau tepatnya bisa dikatakan ngidang. Dalam hal nepi atau ngidang ini, aku punya tempat khusus yang kujadikan favorit yaitu di Gunung Lawu. Selama dua warsa yaitu tahun 1939-1940 aku nepi di sana. Selama itu pula aku tidak pernah makan nasi. Jika lapar aku hanya minta pohong pada penduduk. Sedangkan minumku adalah air dari sumber. 

Bicara mengenai tempat lelaku ini hanyalah medan saja. Gunung Lawu kupilih karena tempatnya memang kurasa cocok untuk lelaku. Di sana aku bertafakur memohon kepada Tuhan agar cita-citaku terkabul. Alhamdulillah, aku benar-benar menjadi dalang meskipun belum tenar ketika usiaku belum genap 19 tahun. Bahkan, saat itu pula aku juga telah “diberi ijin” untuk menjalankan upacara ruwatan.


Gunung Lawu itu aku rasa sangat cocok untuk lelaku, maka setiap bulan Sura aku selalu berjalan kaki menuju sana untuk bertafakur kepada Tuhan Yang Maha Tunggal. Dan ini kujalani hingga umurku 70 tahun.

Cita-cita menjadi dalang terkenal hampir saja tidak kesampaian. Hal ini bukan disebabkan karena aku kurang bakat atau dikatakan tidak bisa mendalang. Tidak! Semua itu disebabkan karena aku tidak mempunyai peralatan yang layak untuk seorang dalang yaitu wayang dan gamelan.

Pada waktu aku sangat mengidamkan gamelan dan wayang, ada seseorang dari Dusun Sendangrejo yang menawarkan wayang dan gamelannya. Gamelan dan wayang itu tidak dijual karena merupakan warisan. Sebagai syaratnya harus ditukar dengan seorang dalang. Artinya, si dalang harus bersedia menikahi anak gadis dari pemilik wayang dan gamelan itu.   
Atas pertimbangan itu, akhirnya aku benar-benar menikah dengan gadis yang semula belum aku kenal itu. Saat itu usiaku telah 20 tahun. Maka terkabullah keinginanku memiliki wayang dan gamelan meskipun itu sebenarnya milik mertuaku.
Akan tetapi, perjalanan seseorang kadang tidak seperti apa yang dia inginkan. Seperti halnya dengan perjalananku sebagai seniman dalang. Sudah aku katakan bahwa peralatan mendalang seperti wayang dan gamelan merupakan alat yang vital. Padahal, waktu itu, hubunganku dengan istri dan mertua mulai renggang.

Komunikasi dengan istri sangat sulit. Ia masih kekanak-kanakan. Hal ini bisa dimaklumi karena dirinya memang masih belum dewasa secara usia waktu itu. Kira-kira baru 13 tahun. Sedangkan dari fihak mertua juga tidak terjalin hubungan yang baik. Terus  terang saja aku ungkapkan bahwa mertuaku adalah petani kolot yang tahunya hanya di sawah dan di ladang. Sedangkan pekerjaanku jelas, yaitu dalang. Sebagai dalang, tentu sering begadang semalam suntuk ketika sedang mendapatkan tanggapan. Tentunya, di waktu siang aku butuh istirahat karena capai dan ngantuk. Hal inilah yang menjadi pemicu keretakan rumah tanggaku. Sebagai buntutnya, aku benar-benar berpisah dengan istriku itu. Waktu itu usia perkawinanku baru setahun.

Dalang tanpa wayang dan gamelan jelas tidak mungkin jalan. Jikalaupun ada yang menanggap, harus berusaha sewa gamelan dan wayang yang tentunya biayanya cukup besar. Dengan demikian penghasilan juga sangat minim karena harus dibagi dengan tenaga dan sewa peralatan itu. Bahkan, lambat laun orang yang menanggapku semakin berkurang.
Untuk mengisi waktu luang, aku bersama saudara-saudaraku sering mengadakan pentas seni terutama wayang orang. Kebetulan, pada masa itu rakyat memang haus hiburan. Yaitu sekitar menjelang proklamasi kemerdekaan negara kita ini. Aku dan adik-adik membentuk grup wayang orang. Sebenarnya itu tidak bisa dikatakan sebuah grup sebab tidak terorganisir. Para pemain hanya yang mau saja. Begitu juga niyaga yang mengiringi hanya dari penduduk sekitar sini saja.

Dalam bermain wayang orang, aku lebih suka memilih tokoh yang trengginas. Tokoh itu adalah Cakil. Seperti diketahui Cakil adalah raksasa bertubuh kecil dan langsing sehingga gerakannya sangat trengginas tidak seperti gerakan raksasa lainnya yang lamban.
Kemahiranku dalam memerankan tokoh Cakil sangat terkenal waktu itu. Sementara itu adik-adikku juga mempunyai peran masing-masing. Suwarno misalnya, ia sering memerankan tokoh Gareng. Tokoh Petruk adalah favorit bagi adikku Suloto. Sedang Suwarso lebih gagah dengan tokoh idolanya yaitu Gatotkaca. Dari keempat adik-adikku hanya yang perempuan saja yang tidak ikut bermain wayang orang.

Akan tetapi semua itu ternyata tidak bisa menenteramkan hatiku. Hatiku  selalu risau karena mengidamkan untuk menjadi dalang terkenal. Karenanya, aku mengembara. Di mana kudengar ada Empu Dalang selalu aku datangi dan mintai ilmunya. Bahkan, aku sampai berkelana hingga ke Jakarta. Tujuanku adalah untuk berguru pada seorang dalang yang sangat terkenal waktu itu. Beliau adalah dalang istana Ki Gito Sewaoko. Berkat beliau aku menjadi terkenal. Hal itu tak lain dan tak bukan adalah cara mendalangku yang terinspirasi oleh kemahiran beliau dalam membawakan tokoh Gatutkaca.

Di tangan beliau tokoh Gatotkaca itu seolah-olah “urip”.  Dari sinilah aku bisa membuat kreasi baru dengan apa yang dinamakan sabet. Perlu aku ungkapkan bahwa aku senang sekali memainkan tokoh kethek. Aku sudah terbiasa menampilkan gerakan-gerakan yang atraktif. Namun, setelah mendapat “ilmu” dari beliau, kemahiranku dalam memainkan kethek tersebut semakin baik. Penonton mengatakan bahwa kethek itu seolah-oleh hidup di tanganku.

Semenjak itu aku semakin dikenal masyarakat sebagai dalang muda yang berbakat. Apalagi setelah mereka melihat aksiku dalam memainkan tokoh kethek. Dalam satu adegan perang, aku bisa memainkan enam sekaligus tokoh kethek. Untuk itu aku mendapat julukan Dalang Kethek. Julukan itu memang terasa berat.

Hal itu merupakan merek seseorang. Untuk itu, aku selalu berusaha mengolah keahlianku dalam sabet agar penggemarku  tidak cepat bosan. Sebab, meskipun seorang dalang  pandai memainkan wayang enam atau bahkan sepuluh sekaligus jika gerakannya selalu sama dan berulang-ulang di tempat pentas yang satu ke tempat pentas lainnya, tentu akan diingat oleh penonton bahwa itu bukan merupakan hal yang baru dan segar lagi.

Sebutan Dalang Kethek yang melekat pada diriku membawa imbas yang sangat positif terutama dalam hal tanggapan. Aku semakin laris. Sebagai dalang, sebenarnya aku merasa sangat jengah karena hanya membawakan lakon pada kisah Ramayana yang mana banyak menampilkan tokoh kethek. Untuk itu, pada perjalanan waktu kemudian, aku membuat sebuah lakon carangan dari kisah Mahabarata. Alhamdulillah, lakon kreasiku itu sangat terkenal waktu itu. Bahkan, hampir setiap saat ada tanggapan aku disuruh untuk membawakan lakon tersebut.


Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Novel - DALANG KETHEK # Empu Dalang Ki Warsino - Biografi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel