-->

Legenda - DEMANG JEBRES # Bag. 3

Legenda - DEMANG JEBRES # Bag. 3
Legenda - DEMANG JEBRES # Bag. 3
TAMAN TEMBANG DAN SASTRALEGENDASahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan TAMAN LEGENDA (cerita rakyat). Edisi kali ini disajikan cerita DEMANG JEBRES, yakni bagian 3. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

DEMANG JEBRES

Bagian 3

Oleh: Parpal Poerwanto

Siang hari terasa terik. Debu berhamburan dihempas angin selatan yang kering dan gersang. Rerumput meranggas bagaikan tersapu oleh api yang membara. Seakan kehidupan hanya menunggu waktu untuk segera berakhir.

Begitu juga yang dirasakan oleh pemuda tanggung bernama Taruna. Ia  mendekap perutnya. Napas perutnya tersendat-sendat menahan rasa lapar yang sangat. Sudah tiga hari perutnya belum diisi. Hanya kemarin sore saja ketika mendapatkan pohong ngganyong.  Lumayan untuk sekedar menepis rasa haus dan lapar. Akan tetapi sipatnya hanya sementara, selepas itu perut malah terasa melilit.

Ia sebenarnya bukan anak yang manja. Hanya saja, perutnya belum terbiasa untuk menahan lapar sampai berhari-hari. Orang tuanya yang cukup kaya karena seorang saudagar, urusan makan tidak bermasalah.

Ada terbersit niat untuk kembali ke rumah. Akan tetapi akal pikirannya berkata lain. Masih tergambar di pelupuk matanya, bapak dan ibunya yang menjadi bulan-bulanan para perampok karena mempertahankan harta bendanya.

Taruna berdiri di bilik, kakinya gemetaran. Nama Panji Kuning sering ia dengar. Ialah perampok bertangan dingin yang tak segan-segan membunuh mangsanya apabila melawan. Benar, di depan mata kepala sendiri Taruna menyaksikan bapaknya bersimbah darah dan tersungkur terkena sabetan pedang perampok tak berperi kemanusiaan itu. Ibunya yang tiba-tiba datang untuk memberi pertolongan juga tidak lepas dari amukan Panji Kuning.


Taruna tengkurap di gubug pinggir hutan. Akan keluar hutan rasanya takut bukan kepalang. Dirinya juga merasa heran pada diri sendiri. Baru kali ini ia merasakan rasa takut luar biasa. Mungkin karena peristiwa yang baru saja ia saksikan masih jelas tampak di pelupuk mata. Memori otaknya masih kuat merekam setiap detik demi detik kejadian di malam buta itu. Sejak peristiwa itu  Teruna sudah bulat tekadnya. Ia tidak ingin menginjakkan kaki di kampung halamannya sebelum dirinya berhasil membayar kematian kedua orang tuanya.

Malam dingin di musim kemarau. Bulan tanggal tiga belas memendarkan cahayanya di atas Gunung Braja. Taruna menerawang jauh hingga gugusan bintang-gemintang. Rasi waluku tepat berada di atasnya. Ia teringat dengan cerita bapaknya ketika waktu kecil sehingga tahu nama rasi bintang itu. Ia mencoba mencari letak rasi bintang gubug penceng. Pada waktu itu, seperti layaknya anak kampung ketika bulan penuh, selalu berada di halaman rumah hingga hampir tengah malam. Anak-anak ada yang bermain gobag sodor, ada yang hanya mendengar cerita-cerita orang tua tentang benda-benda di angkasa yang muncul kelihatan di malam hari. Ah, kenangan manis masa kecil, gumamnya.

Tiba-tiba Taruna melihat sosok hitam berkelebat di sungai yang airnya kering-kerontang. Ada bayangan lelaki tua berhenti termangu di sebuah batu besar. Beberapa menit kemudian lelaki tua itu duduk bersila. Kemudian tampak ada perapian di depannya. Rupanya ia membakar dupa. Tidak lama kemudian batu hitam di depan lelaki tua itu menjadi terang benderang bagaikan ada lampu petromak yang menyala. Teruna seakan tidak percaya dengan apa yang  ia saksikan. Ia mengucek-ucek matanya. Kakinya dihentak-hentakkan ke tanah. Ia yakin dirinya tidak sedang bermimpi. Meskipun ada rasa takut, Teruna mencoba cari tahu. Pelan-pelan ia mendekati lelaki tua itu.

Teruna semakin heran ketika dari dalam batu itu keluar berbagai macam keris dan guci emas. Keris-keris dan guci emas lalu dibungkus dengan mori putih. Setelah buntalan rapi, lelaki tua itu mengangkatnya dengan hati-hati. Selanjutnya membungkuk seperti menghaturkan hormat, lelaki itu kemudian pergi. Dengan hati-hati Teruna mengikuti jejak lelaki tua itu. Teruna telah bertekad bulat. Seandainya lelaki tua itu bukan manusia dan akan mencelakannya, ia pun rela. Semua diserahkan terhadap segala apa yang bakal terjadi. Ibaratnya nurut ilining banyu, ikut arus air saja. Toh hidupnya selama ini tidak memiliki siapa-siapa lagi, ibaratnya daun yang tersapu angin.


Sementara itu Teruna tidak ingin kehilangan jejak. Langkahnya menyusuri jalan setapak di antara perdu dan rerumputan kering di sela-sela pepohonan. Rupanya lelaki tua itu menuju sebuah gubug di lereng Gunung Braja. Tangannya membuka pintu gubug yang kelihatannya tidak terkunci, lalu masuk. Teruna memberanikan diri untuk mendekat dan mengintipnya. Lewat celah dinding bambu, tampak lelaki tua itu duduk sambil membuka bungkusannya.

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - DEMANG JEBRES # Bag. 3"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel