-->

Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Kedung Maya

Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Kedung Maya
Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Kedung Maya
TAMAN TEMBANG DAN SASTRALEGENDA – Sahabat Taman Tembang dan Sastra, selamat berjumpa kembali dengan taman legenda (cerita rakyat). Edisi kali ini disajikan cerita sepanjang Bengawan Solo pada kisah Kedung Maya. Selengkapnya adalah sebagai berikut.

KEDUNG MAYA

Oleh: Parpal Poerwanto

Bengawan Solo tepatnya di sebelah utara Ngawi ada suatu tempat yang dinamakan Kerek. Sebab disebut kerek karena setiap ada perahu lewat di tempat itu harus dikerek (dikendalikan oleh seseorang dari pinggir sungai memakai tambang). Apabila tidak dikendalikan dari daratan, tentu perahu/kapal akan menemui bahaya karena aliran airnya sangat deras akibat dasar sungai yang miring serta adanya batu yang lebar di tempat tersebut.

Di sebelah bawah batu Kerek terdapat kedung (bagian sungai yang dalam: palung) yang terkenal sangat angker yaitu Kedung Maya. Menurut cerita masyarakat Jawa Kedung Maya angker karena di dalam kedung tersebut tinggallah seorang putri yang mati karena tenggelam, bernama Dewi Maya.

Konon disebutkan bahwa di Desa Kuwung terdapat sesepuh (tetua) desa yang bernama Kiai Ageng Kuwung. Pada suatu ketika Kiai Ageng Kuwung berkenan melihat-lihat situasi wilayahnya, yaitu Desa Kuwung. Tanpa sengaja melihat adanya seorang bocah yang hanyut di sungai dan tersangkut pada sebuah akar tumbuhan liar. Tanpa pikir panjang Kiai Ageng Kuwung memberikan pertolongan. Anak tersebut berhasil diselamatkan dan kemudian diangkat sebagai tukang gembala. Kiai Ageng Kuwung memberikannya nama Jaka Sangsang.


Sebenarnya, Jaka Sangsang adalah anak seorang janda dari desa Jambe. Setelah remaja, Jaka Sangsang berparas elok. Selian itu ia juga memiliki perangai yang baik. Ia kelihatan lebih jika dibandingkan dengan pemuda-pemuda di wilayahnya.

Setiap hari Jaka Sangsang menggembalakan kerbau-kerbau milik Kiai Ageng Kuwung. Waktu itu, Kiai Ageng Kuwung adalah satu-satunya orang kaya di Kuwung. Selain ternaknya banyak, ia juga memiliki sawah yang sangat luas. Selagi Jaka Sangsang menggiring kerbau-kerbau itu ke sebuah kubangan air, kelihatan seperti semut-semut yang sedang bergerombol. Sekarang, tempat kubangan kerbau tersebut menjadi sebuah kali dan dinamakan kali Semut.

Kiai Ageng Kuwung memiliki seorang putri yang cantik jelita. Namanya Dewi Maya.  Dewi Maya sangat kasmaran pada Jaka Sangsang. Sebaliknya, Jaka Sangsang juga tertarik pada Dewi Maya. Karena cinta mereka sudah tidak dapat dipisahnya, maka keduanya menikah. Akan tetapi, Kiai Ageng Kuwung merasa malu  bermenantukan  seorang gembala. Ia terpaksa menikahkan anaknya khawatir jangan-jangan telah hamil karena terus saja merengek dan sulit dipisahkan dengan Jaka Sangsang. Setelah sekian lama tidak ada tanda-tanda anaknya hamil, maka Kiai Ageng Kuwung mencari rekadaya untuk memisahkan mereka.

“Jaka Sangsang, apa kamu sudah tahu mengapa kupanggil kemari?” Kiai Ageng Kuwung.
“Maafkan  Kiai, hamba belum tahu maksud dipanggilnya hamba,” jawab Jaka Sangsang penuh hormat.
“Apa kamu cukup puas bekerja di sawah dan memelihara ternak sampai kelak nanti?”
“Mengapa Kiai bertanya seperti itu?”

“Kamu memiliki kelebihan jika dibandingkan yang lain. Badanmu tinggi tegap. Parasmu elok. Kamu juga sangat cerdas. Sayang jika apa yang kau miliki tidak dimanfaatkan.”
“Maksud Kiai?”
“Begini, jika kamu mau berusaha, aku yakin kamu bisa mengabdi di kerajaan, bakah bisa jadi perwira.”
“Apa tidak berlebihan, Kiai?”
“Tidak ada yang berlebihan asalkan kau mau. Ini sampaikan surat ini ke Pajang. Aku yakin kamu diterima di sana!” Kepada Jaka Sangsang Kiai Ageng Kuwung memerintah untuk menyampaikan surat ke Pajang. Isi surat adalah lamaran kerja. Jaka Sangsang diterima bekerja di Pajang untuk selamanya. Bahkan, sesuai isi surat, Jaka Sangsang juga dinikahkan dengan salah satu putri Pajang.

Sementara Dewi Maya selalu menanti kepulangan suaminya. Lambat laun Dewi Maya mendengar kabar bahwa suaminya telah bekerja di Pajang. Untuk itu, ia memutuskan segera menyusulnya. Akan tetapi naas, ketika hendak menyeberang Bengawan Solo, ia hanyut dan tenggelam di sebuah kedung. Karena peristiwa itu maka tempat tersebut dinamakan Kedung Maya.

Setelah lama berdiam di Pajang, Jaka Sangsang teringat akan istrinya yang tinggal di desa Kuwung. Setelah minta ijin dari kerajaan dan mendapat    persetujuan   dari   istrinya putri Pajang, Jaka Sangsang memutuskan untuk menemui istrinya.

Ketika langkahnya sampai di tepi Bengawan Solo, mendengarlah kabar bahwa istrinya, yaitu Dewi Maya baru saja tenggelam di bengawan itu. Mendengar kabar itu Jaka Sangsang pikiranya sangat kacau. Seolah-olah yang ada di matanya hanyalah Dewi Maya. Bahkan, dalamnya air bengawan bagaikan Dewi Maya yang melambaikan tangan dan memanggil namanya. Tanpa sadar, Jaka Sangsang telah meluncur ke kedalaman bengawan. Ia tenggelam dan hilang di Kedung Maya bersatu dengan istrinya.


Sementara itu, Sang Putri Pajang juga menyusul Jaka Sangsang ke desa Kuwung. Sesampainya di dekat bengawan, ia mendengar kabar bahwa Jaka Sangsang baru menceburkan diri ke dalam sungai. Tanpa pikir panjang Putri Pajang segera menceburkan diri dan hilang di Kedung Maya. Menurut cerita rakyat sekitarnya, sampai sekarang Kedung Maya masih angker. Bahkan ketika Bengawan Solo masih digunakan untuk pelayaran, sering terjadi kecelakaan di tempat itu. Untuk itu, semua yang berlayaran tidak boleh berkata-kata yang tidak baik dan selalu berhati-hati agar perjalanannya selamat.

Sahabat Taman Tembang dan Sastra, terima kasih atas kunjungannya. Sampai jumpa, jangan lupa kunjungi seri berikutnya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Legenda - Cerita Sepanjang Bengawan Solo # Kedung Maya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel